Negara Republik Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman yang meliputi ras, budaya, agama, suku, dan sebagainya. Negara Republik Indonesia merupakan negara yang pluralisme. Di mana adanya interaksi antara kelompok-kelompok yang menunjukkan rasa saling menghormati dan toleransi satu sama lain.

Seperti halnya pada semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”.  Warga Negara Indonesia (WNI) yang memiliki banyak ragam seperti ras, budaya, agama, suku tetapi tetap memiliki dan menunjukkan rasa saling menghormati dan toleransi dengan sesama. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semangat pluralisme Indonesia yang harus terus ditanam di setiap individu warga negara di tengah diferensiasi sosial di berbagai lapisan masyarakat. 

Meski semangat Bhinneka Tunggal Ika telah ditanam kepada kita sejak lahir, tetapi masih ada saja individu yang mengabaikan atau bahkan menolak individu atau kelompok masyarakat lain yang memiliki pandangan atau prinsip yang berbeda dengan kita.

Pluralisme merupakan sebuah interaksi antar kelompok yang tidak mungkin dapat dihindari oleh manusia. Tuhan telah menciptakan manusia dalam pluralisme dan manusia telah menjadi bagian dari pluralisme, begitu juga dalam hal keagamaan. Di mana banyaknya keberagaman yang kita miliki, agama adalah salah satu aspek yang dinilai dan dilihat sebagai sesuatu yang paling sering dibicarakan. 

Hal ini disebabkan oleh nilai-nilai mutlak yang terkandung di dalam ajaran agama tersebut dan juga karena agama sangat mempengaruhi cara berelasi orang-orang beragama.

Tiap agama muncul dalam lingkungan yang plural. Jika pluralisme agama tidak dipahami secara benar, maka agama akan menimbulkan dampak negatif yang berupa konflik antar umat beragama dan disintegrasi bangsa (Coward, 1989).

Pluralisme sendiri juga dapat berarti kesediaan untuk menerima keberagaman (pluralitas), artinya, untuk hidup secara toleran pada tatanan masyarakat yang berbeda suku, golongan, agama, adat, hingga pandangan hidup.

Cara pandang terhadap pluralisme merupakan suatu yang berperan sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Tak jarang cara pandang pluralisme menjadi sorotan yang utama dan menimbulkan sikap-sikap tertentu, misalnya keterbukaan, ketertutupan, kebencian dan lain-lain.

Pluralisme di Indonesia masih dipandang sebelah mata oleh masyarakat Indonesia sendiri, di mana masih terjadi keributan-keributan antar etnis atau antar agama di beberapa daerah di Indonesia. Hal tersebut merupakan bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia belum memahami makna dari pluralisme itu sendiri. Setiap kelompok masyarakat juga memiliki sikap etnosentrisme terhadap kelompok masyarakat yang lainnya yang berbeda-beda menurut kaca mata kelompok masyarakat tersebut.

Tidak dapat dimungkiri, diferensiasi yang terjadi akibat kemajemukan itu telah menyebabkan terjadinya ketegangan sosial di tengah kehidupan seperti adanya perbedaan diskriminasi ras, strata sosial, dan perbedaan kepentingan di sektor ekonomi, politik, budaya dan lain-lain. 

Pluralisme terjadi karena adanya perbedaan pendapat antara satu pihak dengan pihak lainnya. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagi suku, ras, agama, maupun adat istiadat, tetapi semangat Bhinneka Tunggal Ika-lah yang kita pegang teguh untuk saling menghargai dan menghormati keberagaman tersebut.

Konflik yang disebabkan oleh sentimen keagamaan di Indonesia, menunjukkan bahwa secara umum masyarakat memang kurang memahami tentang makna pluralisme agama dan hidup secara bersama dengan rukun antar pemeluk agama. Dari sinilah letak peran penting keluarga, lembaga agama, lembaga pendidikan, dan pemerintah dalam menanamkan sikap toleransi yang inklusif dan mengajarkan kesediaan untuk hidup bersama dalam adanya perbedaan. 

Oleh karena itu, pemahaman dan pandangan yang benar terhadap pluralisme agama sangat diperlukan sehingga masyarakat Indonesia akan mampu bersikap baik dan berpikir positif dengan kenyataan keragaman agama yang ada.

Pemahaman secara benar terhadap pluralisme agama, akan mewujudkan sikap inklusif dalam beragama pada tumbuhnya kepekaan terhadap berbagai keragaman yang bisa memperkaya usaha manusia dalam mencari kesejahteraan spiritual dan moral.

Bagi masyarakat Indonesia yang mengasingkan orang lain dengan cara menolak pluralisme, maka sebenarnya mereka sendiri juga menolak pluralisme, karena perbedaan pandangan atau kaca mata seseoang dalam menyikapi pluralisme juga disebut pluralisme. Menurut pakar studi pluralisme dari Harvard, Profesor Diana Eck, pluralisme tidak sekedar toleransi, juga sebuah proses pencarian pemahaman secara aktif menembus batas antar perbedaan.

Berkenaan dengan munculnya berbagai paham mengenai pluralisme sendiri menjadi sorotan banyak orang yang menimbulkan pro dan kontra di kalangan pemikir, tokoh agama, dan cendekiawan. Secara khusus dalam hal agama, berbagai masyarakat yang menganut agama atau kepercayaan berbeda-beda, dengan gambaran seperti itu, dapat dikatakan bahwa pluralisme agama bukanlah kenyataan yang mengharuskan orang untuk saling menjatuhkan, saling merendahkan, atau mencampuradukkan antara agama satu dengan yang lain, tetapi justru mempertahankannya pada posisi saling menghormati dan bekerja sama.

Sejatinya pluralisme bukanlah paham yang secara tiba-tiba muncul dari ruang hampa, akan tetapi disitulah terdapat penghubung yang kokoh antara diskursus sekularisme, liberalisme yang kemudian lahirlah pluralisme. Sekularisme muncul sebagai dampak dari perselingkuhan antara agama dan negara yang melumpuhkan kondisi keadilan sehingga kemudian lahirlah ketidakpercayaan publik yang kemudian berujung adanya sekularisme. Liberalisme lahir dari keterkungkungan oleh satu doktrin yang kurang fair sehingga ada kelompok tertentu tertindas, seperti halnya contoh mencuatnya teologi eklusifisme di tubuh agama-agama di atas.

Dari kemandegan tesebut maka kemudian lahirlah ide liberalisme yang kemudian merekomendasikan adanya ruang kemerdekaan dalam memeluk agama. Secara tidak langsung kemudian dari liberalisme tersebut memunculkan kelompok-kelompok agama dan pada akhirnya mengharuskan adanya pluralisme sebagai satu penghargaan terhadap pluralitas yang ada. Di sisi lain pluralisme dapat dikatakan sebagai etika global yang didasarkan pada penderitaan manusia akibat adanya kelesuan moral. Sehingga dengan pluralisme tersebut akan tercapai kesejahteraan manusia dan lingkungannya.

Banyak yang pro dan kontra dengan konsep pluralisme agama di Indonesia ini. Bagi yang pro pluralisme agama, keberagaman agama ini dianggap sebagai hal yang positif. Ini disebabkan karena keberagaman di Indonesia ini bisa menjadikan Indonesia sebagai contoh yang baik bagaimana kehidupan kerukunan antar agama, dan keberagaman agama di Indonesia memang berasal dari masa lalu yang tidak bisa diubah.

Selain itu bagi kelompok pro pluralisme ini mereka juga mengutamakan kesatuan dari NKRI. Sedangkan bagi kelompok kontra pluralisme, pluralisme itu sendiri dianggap bisa mengancam kemurnian ajaran suatu agama. Ini disebabkan karena pada dasarnya setiap agama memiliki ajaran masing-masing. Dan ketakutan para kelompok kontra pluralisme ini adalah bahwa nantinya ajaran setiap agama akan saling bercampur baur dengan ajaran agama lain.

Selain itu jika dilihat dari praktek di lapangan, sangat jelas bahwa pengaplikasian toleransi masih belum dapat dilaksanakan dengan baik. Kerukunan antar umat beragama bisa dibilang masih jauh dari yang diharapkan. Sebagai contoh adalah ketakutan kristenisasi di daerah Islam dan islamisasi di daerah Kristen membuat setiap penganut agama akan sedikit menutup diri dari penganut agama.