Para peramal masa depan (futurist) mengatakan bahwa abad 21 disebut abad pengetahuan, karena pengetahuan telah menjadi landasan utama segala aspek kehidupan (Trilling dan Hood, 1999). Perubahan-perubahan yang terjadi selain karena perkembangan teknologi yang sangat pesat, juga diakibatkan oleh pertumbuhan dan perkembangan yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan, psikologi, dan transformasi nilai-nilai budaya.

Era pengetahuan menyebabkan terjadinya perubahan cara pandang manusia terhadap manusia, cara pandang manusia terhadap masalah-masalah sosial dan alam, cara pandang manusia terhadap dunia pendidikan atau perubahan peran orang tua/guru/dosen dalam dunia pendidikan, serta perubahan pola hubungan antar mereka. Era pengetahuan telah menimbulkan perubahan yang signifikan pada tatanan lapangan kerja maupun dunia pendidikan.

Era pengetahuan telah memaksa kita untuk menyesuaikan sejumlah aturan main, cara kerja, perilaku dan bahkan telah menjungkirbalikkan paradigma yang dianggap benar pada zaman sebelumnya. Hal yang paling sesat terjadi apabila saat kini kita masih menggunakan cara lama di era yang sudah berubah. 

Perusahaan-perusahaan bisnis yang tercatat sebagai perusahaan kelas dunia ternyata separuhnya telah lenyap dalam tempo 10 tahun, karena mereka tidak mampu mengikuti tuntutan perubahan zaman.

Era pengetahuan telah melahirkan tatanan kehidupan baru, yang memiliki karakteristik berbeda dibandingkan dengan era manual atau era mesin industri. Pengetahuan telah menjadi modal virtual (human capital) yang sangat menentukan perkembangan serta sekaligus kemajuan peradaban di jaman ini.

Dampak yang ditimbulkan dari perubahan tersebut sangat luar biasa, antara lain diperlihatkan melalui sejumlah fenomena seperti:

Mengalirnya beragam sumber daya fisik maupun non-fisik (data, informasi, dan pengetahuan) dari satu tempat ke tempat lainnya secara bebas dan terbuka. Ini telah merubah total lingkup dunia bisnis dan dunia usaha yang selama ini terlihat mapan.

Meningkatnya kolaborasi dan kerjasama antar negara dalam proses penciptaan produk dan/atau jasa yang berdaya saing tinggi secara langsung maupun tidak langsung telah menggeser kekuatan ekonomi dunia dari “barat” menuju “timur” dari “utara” ke ‘selatan”

Menguatnya tekanan negara-negara maju terhadap negara berkembang untuk secara total segera menerapkan agenda globalisasi yang memaksa setiap negara untuk menyerahkan nasibnya pada mekanisme ekonomi pasar bebas dan terbuka yang belum tentu mendatangkan keuntungan bagi seluruh pihak yang terlibat.

Membanjirnya produk-produk dan jasa-jasa negara luar yang dipasarkan di dalam negeri selain meningkatkan suhu persaingan dunia usaha juga berpengaruh langsung terhadap pola pikir dan perilaku masyarakat dalam menjalankan kehidupannya sehari-hari

Membludaknya tenaga asing dari level buruh hingga eksekutif memasuki bursa tenaga kerja nasional telah menempatkan sumber daya manusia lokal pada posisi yang cukup dilematis di mata industri sebagai pengguna.

Berbagai fenomena tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi merambah ke segala hampir di seluruh negara berkembang yang ada– bahkan beberapa negara maju di dunia barat pun merasakan tantangan yang sungguh hebat akibat munculnya kekuatan dari negara di Asia seperti Cina, India, dan Taiwan.

Perubahan tatanan dunia di era pengetahuan ini terdapat berbagai kekhususan yang utama. Informasi dan engetahuan mudah diperoleh. Saat ini, informasi datang dari berbagai sisi kehidupan dan masuk dalam sebuah organisasi melalui berbagai media, baik melalui buku, surat kabar, TV maupun internet. Setiap individu dapat memperoleh informasi dengan mudah dan informasi tersebut mungkin berubah atau menjadi usang dengan cepat.

Jika digambarkan dalam konteks pendidikan, era pengetahuan telah mengubah tatanan sistem pendidikan dan pengajaran. Di masa lalu, peserta didik maupun dosen, untuk mendapatkan informasi pengetahuan hanya mengadalkan sumber buku manual, namun di masa kini justru kebajiran informasi pengetahuan sehingga peserta didik dan dosen mengalami kebingungan.

Ketika informasi diperoleh secara berlebih dan bisa berubah dengan cepat, dosen dan peserta didik diharapkan mampu menyeleksi dan menyaring informasi dengan tepat dan cepat. Kemudahan memperoleh informasi pengetahuan maka pengetahuan akan bertambah secara eksponensial. Siklus hidup (umur) pengetahuan akan semakin Pendek, pengetahuan akan menjadi cepat usang.

Dampak langsung dari pengetahuan yang cepat usang adalah tatanan kehidupan akan berubah dengan sangat cepat. Lebih jauh lagi, untuk menjaga agar setiap manusia masih bisa diterima pada zamannya, maka kita harus terus-menerus belajar untuk memperbaharui pengetahuan yang dimiliki secara berkelanjutan.

Permasalahan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari semakin kompleks. Kecepatan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi juga telah berpengaruh pada suasana kerja. Hampir setiap organisasi atau bahkan individu, telah sangat bergantung pada alat-alat komunikasi dan komputer beserta perangkat lunaknya.

Disisi lain, dunia kerja dan industri telah memanfaatkan kecanggihan teknologi Informasi yang diintegrasikan dengan teknologi mekanis (mekatronik), sehingga mampu mengambal alih beberapa peran dan fungsi manusia di tempat kerja, baik itu pada pekerjaan administrasi maupun produksi.

Teknologi mekatronik yang banyak diwujudkan dalam robot-robot industri, telah mengambil alih pekerjaan-pekerjaan otot dan bahkan pekerjaan yang membutuhkan keterampilan fisik yang semula dikerjakan manusia, seperti pengumpulan dan pengolahan data atau beberapa proses produksi di pabrik.

Teknologi telah membuat lahan kerja manusia yang mengandalkan kekuatan dan keterampilan dan fisik semakin terdesak. Teknologi mekatronik telah memaksa manusia agar mengubah peran dan kompetensinya, dari mengandalkan fisik menjadi mengandalkan otak (pakiran).

Era pengetahuan, faktor dominan dari manusia yang dibutuhkan untuk mengelola sistem kerja adalah kualitas pikiran (knowledge content) yang digunakan dan diinternalisasikan (dieksplisitkan atau explicit knowledge) pada setiap proses produksi, yang pada akhirnya diwujudkan (dieksplisitkan) pada produk atau jasa yang dihasilkan.

Kemampuan setiap individu di era pengetahuan ditentukan oleh tingkat kualitas pikiran yang dieksplisitkan dalam produk/jasa maupun pada proses produksi. Kualitas pikiran yang dimaksudkan di sini, bisa dalam bentuk kreativitas/inovasi ataupun dalam bentuk keterampilan dalam mengeksplisitkan pengetahuan tasit (tacit knowledge) dalam praktek.

Jadi, individu yang tidak siap berubah akan menjadi korban serta akan ketinggalan zaman, atau pada akhirnya akan menimbulkan pengangguran. Dampak langsung dan ketidaksiapan manusia kerja ini, akan berakibat pada turunnya pendapatan masyarakat serta melemahnya daya beli mereka, yang pada akhirnya akan menurunkan penumbuhan kesejahteraan.

Perkembangan teknologi telah mempengaruhi perubahan tatanan sosial, ekonomi dan politik secara langsung. Dampak tidak langsung jika suatu masyarakat tidak siap memenuhi tuntutan perubahan di era pengetahuan, akan menimbulkan tingginya angka pengangguran. Kondisi seperti ini, permasalahan pendidikan, teknologi, ekonomi, sosial dan politik menjadi saling berkaitan dan saling berpengaruh, sehingga sulit dipisahkan dan itu artinya tatanan kehidupan akan semakin kompleks.

Pola perubahan diseluruh aspek dan bidang kehidupan berpengaruh signifikan pada kelangsungan pendidikan dengan hubungan pengaruh yang semakin sulit di prediksi. Di sisi lain, pertumbuhan penduduk juga terus bertambah. Hal ini akan berakibat pada julah pencari kerja dan ketersediaan lapangan kerja.

Gambaran di atas menyimpulkan bahwa tatanan kehidupan semakin kompleks dan sekaligus tidak pasti. Setiap perubahan akan menciptakan perubahan lainnya, namun dalam hubungan keterkaitan yang sulit diprediksi. Guna menyikapi hal tersebut, praktek pendidikan kita perlu menyelaraskan perubahan dan perkembangan yang terjadi di seluruh sektor dan bidang kehidupan

Drucker (1992) menyatakan dengan tegas bahwa kunci sukses untuk rneningkatkan kesejahteraan serta kualitas kehidupan Individu maupun kelompok masyarakat atau organisasi, yaitu adanya penemuan dan pendalaman atas ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh tiap individu secara berkelanjutan. Lebih jauh,

Telah lama disadari bahwa pendidikan merupakan investasi setiap individu dan atau kelompok masyarakat untuk meningkatkan keunggulan kompetitifnya. 

Praktek pendidikan yang mengajarkan setiap Individu untuk belajar menguasai pekerjaannya dibidang keahliannya adalah kebutuhan dan modal intelektual yang akan menjadi penggerak dimasa mendatang. Untuk menyikapi berbagai arah perubahan, maka setiap individu harus terus-menerus menumbuhkembangkan kompetensinya, baik kompetensi InteIektual, emosional maupun spritual.

Pendidikan telah menjadi investasi di era pengetahuan. Masalahnya, di kebanyakan lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi, pos untuk praktek pelatihan kerja masih minim. 

Padahal, sejatinya ketika lembaga pendidikan ingin meningkatkan kompetensi keahlian peserta didiknya, maka unsur praktek dan pelatihan porsi waktunya lebih besar, khususnya untuk meningkatkan kompetensi keahlian dan keterampilan peserta didik. Juga sebagai wadah untuk memperbaharui kecerdasan intelektual maupun mempertajam kecerdasan emosional dan spiritual, yang dibutuhkan untuk melahirkan kiat-kiat atau inovasi-inovasi baru.

Seperti apa perubahan yang diharapkan?

Perguruan tinggi sebagai institusi pendidikan yang mencetak SDM harus mampu menyelaraskan perubahan dan perkembangan di era pengetahuan sekarang ini. Pengaruh perubahan terhadap kehidupan manusia merupakan suatu keniscayaan yang tidak terhindarkan.

Sebagaimana diungkapkan dalam sejumlah teori perubahan organisasi, dari tiga dimensi perubahan yaitu dimensi struktural, fungsional, dan kultural, dimensi kulturallah yang paling sulit untuk berubah. Ini tentu tantangan tersendiri bagi para pengelola perguruan tinggi. Perguruan tinggi harus serius membangun kurikulum yang berorientasi masa depan, kita harus terbuka dengan segala sumber pengetahuan yang relevan.

Harus diakui, di era pengetahuan sekarang ini kegiatan belajar di kelas kini tak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar bagi para peserta didik. Cukup dengan berselancar di internet, mereka bisa mendapatkan segala informasi yang mereka butuhkan dari artikel ilmiah, materi kuliah, jurnal, hasil penelitian, hingga buku-buku teks. Knowledge is one click away. 

Dosen dan mahasiswa di tuntut harus menguasai banyak sumber informasi yang valid dan mampu memprediksi perkembangan ilmu pengetahuan masa depan.

Ketersediaan Infrastruktur sebagai aspek penting yang berfungsi untuk mengakselerasi pelaksanaan kurikulum dan maksimalisasi SDM. Infrastruktur yang dimaksud tak hanya meliputi infrastruktur konvensional seperti ruang belajar, laboratorium, perpustakaan, dan ruang kerja, tetapi juga mencakup infrastruktur digital yang memungkinkan pendidikan tinggi untuk melakukan revolusi pendidikan.

Perubahan Sistem pendidikan di Era Pengetahuan, meliputi :

  • Pendidikan yang berorientasi pada pengetahuan dikembangkan ke segala arah yang seimbang.

Aliran pendidikan kekinian menekankan bahwa apapun yang dipelajari seseorang di perguruan tingginya harus bermanfaat bagi masyarakat nantinya. Maka pendidikan harus praktis, yang dipelajari harus diterapkan dengan baik.

Keterbatasan terbesar dalam pendidikan sekarang adalah kurikulumnya. Mahasiswa harus mempelajari semua pelajaran yang ditetapkan, tanpa memperhitungkan disukai atau tidak oleh mahasiswa. Bahkan ada mahasiswa yang dipaksa untuk melakukan sesuatu yang bukan bidangnya sehingga ia tidak mau mempelajarinya.

  • Pembelajaran bersama yang disentralisasikan menjadi pembelajaran individual yang didesentralisasikan.

Sistim pendidikan pada umumnya dimana fasilitas-fasilitas perangkat keras dibangun terlebih dahulu dan para dosen (tenaga pengajar) direkrut, sebelum mahasiswa dari berbagai tempat dikumpulkan di perguruan tinggi untuk mengikuti pelajaran. Ini disebut pembelajaran yang disentralisasikan.

Di masa sekarang ketika teknologi komputer sudah mencapai tingkatan tertentu, para mahasiswa tidak lagi harus berkumpul di ruang perkualiahan, cukup dengan menggunakan akses internet mereka mengikuti pelajaran atau dikenal dengan istilah kuliah daring. 

Kuliah daring tidak membatasi jumlah mahasiswa dalam mengakses pelajaran lewat internet. Inilah yang disebut pembelajaran individual yang didesentralisasikan.

Pembelajaran yang terbatas pada tahapan pendidikan menjadi pembelajaran seumur hidup.

Kalau kita hitung jenjang pendidikan sekitar 12-17 tahun, sejak dari SD sampai perguruan tinggi. Apakah sudah cukup waktu padahal perubahan di masyarakat sangat cepat? Pengetahuan yang diperoleh bisa menjadi usang oleh karena itu peserta didik harus senantiasa belajar hal-hal baru agar tidak menghadapi risiko tersingkir dari pasar kerja.

  • Pengakuan diploma/sarjana menjadi pengakuan kekuatan nyata.

Dahulu, gelar dijadikan standar untuk mengukur kemampuan seseorang, namun kenyataan di dalam dunia kerja kekinian, gelar tidak menjadi pertimbangan utama. Seseorang dapat diketahui kemampuannya apabila diuji dengan keahliannya, kefasihan Bahasa Inggris dan kemampuan komputer sehingga dapat diketahui kompetensi nyata seseorang, ketimbang mengandalkan diploma atau gelar.

  • Peran Dosen, Mahasiswa, Materi Pendidikan

Peran Dosen 

Dosen (tenaga pengajar) tidak lagi memberikan informasi dalam bentuk ceramah dan buku teks. Dosen (tenaga pengajar) akan berperan sebagai fasilitator, tutor dan sekaligus pembelajar.

Peran Mahasiswa

Mahasiswa tidak perlu lagi menjadi pengingat fakta dan prinsip tapi akan berperan sebagai periset, problem-solver, dan pembuat strategi.

Peran Materi Pendidikan

Materi tidak lagi berbentuk informasi dalam bidang studi terlepas tapi mahasiswa akan mempelajari hubungan antar informasi.

Faktor pendukung pengembangan pendidikan tinggi di era pengetahuan, terdiri dari Empat pilar pendidikan

Belajar untuk mengetahui (Learning to know)

Belajar untuk berbuat (Learning to do)

Belajar untuk hidup bersama (Learning to life together)

Belajar untuk menjadi diri sendiri (Lerning to be)

Ciri-ciri Pendidikan di Era Pengetahuan 

Berfokus pada pemupukan potensi unggul setiap peserta didik.

Keseimbangan beragam kecerdasan (intelektual, emosional, sosial, spritual, kinestetis, dst.)

Mengajarkan life skills.

Sistem penilaiannya berbasis portofolio dari hasil karya mahasiswa.

Pembelajaran berbasis kehidupan nyata dan praktik di lapangan.

Dosen (tenaga pengajar) lebih berperan sebagai motivator dan fasilitator agar peserta didik mengembangkan minatnya masing-masing.

Pembelajaran didasarkan pada kemampuan, cara/gaya belajar, dan perkembangan psikologis masing masing peserta didik.

Adapun syarat-syarat pendidikan di era pengetahuan adalah :

Materi Pendidikan Masa Depan

Global Awareness (kesadaran global)

Keterampilan dalam keuangan,  ekonomi,  bisnis dan kewirausahaan

Pemikiran untuk kepentingan umum

Kesadaran akan kesehatan dan kesejahteraan

Untuk bisa mengikuti perkembangan dengan baik, maka dari itu pendidikan setidaknya memiliki ciri, sebagai berikut:

Peserta didik secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajarinya.

Peserta didik secara aktif terlibat di dalam mengelola pengetahuannya.

Penguasaan materi dan juga mengembangkan karakter peserta didik (life-long learning).

Penggunaan multimedia.

Dosen (tenaga pengajar) sebagai fasilitator, evaluasi dilakukan bersama dengan peserta didik.

Terpadu dan berkesinambungan.

Menekankan pada pengembangan pengetahuan. Kesalahan menunjukkan proses belajar dan dapat digunakan sebagai salah satu sumber belajar.

Iklim yang tercipta lebih bersifat kolaboratif, suportif, dan kooperatif.

Peserta didik dan dosen (tenaga pengajar) belajar bersama dalam mengembangkan, konsep, dan keterampilan.

Penekanan pada pencapaian target kompetensi dan keterampilan.

Pemanfaatan berbagai sumber belajar yang ada di sekitar.

Untuk memantapkan ciri pendidikan di era pengetahuan, maka pendidikan tinggi harus mengarahkan pembelajarannya terfokus pada beberapa keterampilan yang harus ditanamkan pada pembelajar. Keterampilan tersebut, antara lain :

  • Keterampilan Penelitian
  • Keterampilan Komunikasi
  • Keterampilan Berpikir
  • Keterampilan Sosial
  • Keterampilan Mengatur diri sendiri
  • Keterampilan Hidup


Sehingga pada akhir pembelajaran suatu jenjang pendidikan setiap pebelajar bisa menjadi seperti yang diungkapkan oleh Ken Kay, President Partnership for 21st Century Skills, antara lain :

  • Pemikir yang kritis
  • Seorang penyelesai masalah
  • Seorang inovator
  • Dapat berkomunikasi secara efektif
  • Dapat berkolaborasi secara efektif
  • Dapat mengarahkan diri sendiri
  • Paham akan informasi dan media
  • Paham dan sadar akan masalah global
  • Memikirkan kepentingan umum
  • Terampil dalam keuangan, ekonomi dan kewirausahaan


Mengutip ungkapan McKenzie, yaitu "untuk mendidik dan menghasilkan orang dewasa yang tidak sekedar menjadi penduduk dunia namun juga mencoba untuk menciptakan dunia masa depan yang cocok untuk semua penduduknya". Inilah sebenarnya yang diharapkan dari praktek pendidikan di era pengetahuan.

Di era pengetahuan dengan perubahan yang begitu cepat, kompleks dan serba tidak pasti, dibutuhkan manusia-manusia unggul jenis baru yang memiliki tiga unsur kecerdasan. Tiap individu harus memiliki kecerdasan intelektual,  kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual secara seimbang dan harmonis. Kecerdasan spiritual berfungsi untuk mengintegrasikan dan mengharmoniskan kecerdasan intelektual dan emosional individu.

Dengan memiliki ketiganya secara seimbang sesuai dengan konteksnya, maka individu yang bersangkutan akan mampu mengaktualisasikan seluruh potensi dirinya dalam berbagai hal kehidupan di dunia kerja maupun sehari-hari.