Saat ini, media sosial dijadikan sebagai sarana oleh generasi muda dalam berkomunikasi. Media sosial didesain untuk memudahkan interaksi sosial bagi pengguna internet. Menurut data yang dilansir oleh APJJI (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia), 132,7 juta dari total 256,2 juta orang di Indonesia menggunakan internet, sedangkan untuk usia remaja terdapat 23,8 juta jiwa. 

Ini membuktikan bahwa media sosial turut andil dalam pembentukkan karakter generasi bangsa. Namun, penggunaan sosial media pada era ini diyakini menjadi salah satu penyebab menurunnya kualitas karakter generasi muda bangsa. Penggunaan sosial media yang tidak terbatas dinilai dapat berdampak negatif bagi penggunanya. 

Generasi muda saat ini nyatanya masih banyak yang menggunakan sosial media sebagai sarana untuk ajang memberikan hate comment pada pengguna sosial media lainnya, baik untuk orang yang sudah mereka kenal maupun orang asing yang tidak mereka kenal, seakan-akan itu merupakan hal yang lazim. Padahal sebenarnya penggunaan media sosial sudah diatur pada Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU ITE nomor 19 tahun 2016 yang merupakan perubahan dari Undang-Undang nomor 11 tahun 2008 yang berisi mengenai 6 hal yang harus dihindari saat bermain media sosial agar tidak tersandung kasus hukum. 

Di antaranya adalah melanggar kesusilaan yang diatur pada pasal 45 ayat 1, perjudian yang diatur pada pasal 45 ayat 2, penghinaan dan/atau pencemaran nama baik yang diatur pada pasal 45 ayat 3, pemerasan dan/atau pengancaman yang diatur pada pasal 45 ayat 4, meyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen yang diatur pada pasal 45A ayat 1 dan menyebarkan kebenciaan atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) yang diatur pada pasal 45A ayat 2.

Peran media massa dan media online dalam pembangunan karakter bangsa, haruslah berlandas pada perspektif budaya Indonesia yang meletakkan landasannya dalam kerangka negara kesatuan, dengan keanekaragaman budaya yang memiliki nilai-nilai luhur, kebijaksanaan dan pengetahuan lokal yang arif dan bijaksana (local wisdom and local knowledge)[1]. Apabila karakter tiap individu baik, maka perilaku tiap individu dalam bermedia sosial pun akan baik pula. 

Setiap individu yang memiliki karakter baik pasti akan berperilaku baik dan bijak dalam memilih kata-kata ataupun kalimat yang akan dilontarkannya pada khalayak umum di media sosial. Setiap individu yang baik pasti akan berusaha sebisa mungkin untuk menerapkan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat secara sebaik mungkin. 

Setiap individu yang belajar pendidikan karakter dengan baik, sebisa mungkin pasti akan menghindari perpecahan yang dapat ditimbulkan oleh setiap tindakan yang mereka lakukan, karena “persatuan bagi seluruh Indonesia” yang tercantum dalam sila ketiga Pancasila akan menjadi landasan bagi mereka untuk menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan perpecahan bangsa Indonesia.

Apabila mendapatkan pendidikan karakter yang baik, penggunaan media sosial dapat menjadi wadah yang positif untuk menggerakkan massa. Dalam ranah mobilisasi massa misalnya, pikiran kita segera kembali pada kasus yang menimpa Prita Mulyasari. Kasus yang menimpa Prita bisa segera meluap dan memobilisasi massa dengan cepat berkat adanya kekuatan internet dan media sosial. 

Media sosial dipercaya bisa menjadi media yang murah untuk mengumpulkan massa, atau dalam tahap ini adalah tahapan menggalang dukungan, sebelum akhirnya kampanye itu diwujudkan dalam aksi nyata. Sebut saja beberapa kegiatan yang berawal dari media sosial, seperti banyaknya gerakan-gerakan sosial yang merupakan inisiatif anak-anak muda seperti IDBerkebun, Akademi Berbagi maupun Coin A Chance!. 

Adapun gerakan-gerakan sosial yang ada di dalam sosial media bisa digolongkan dalam bentuk gerakan sosial baru yang kian bisa memobilisasi massa guna mencapai tujuan sosial. Social media sebagai penggerak perubahan sosial melahirkan banyak gerakan sosial yang semakin berkembang setiap ada isu tertentu yang menarik perhatian orang banyak. Perubahan melalui peran media sosial dalam pembangunan karakter bangsa, salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencapai suatu perubahan adalah dengan melakukan suatu gerakan sosial. 

Gerakan sosial pada umumnya bisa disebut sebagai suatu gerakan yang lahir dari dan atas prakarsa masyarakat dalam usaha menuntut perubahan dalam institusi, kebijakan atau struktur pemerintah karena kebijakan yang diberikan oleh pemerintah tidak lagi sesuai dengan konteks masyarakat yang ada saat ini atau bisa saja kebijakan yang ada bertentangan dengan kehendak sebagian besar masyarakat [1].

Referensi:

Juliswara Vibriza, Pengebangan Pendidikan Karakter Melalui Gerakan di Sosial Media, Yogyakarta, Program Studi Sosiologi STISIP Kartika Bangsa.

https://web.kominfo.go.id/