Sering kali orang berpikir bahwa nilai sekolah adalah sesuatu yang tidak penting dan menilai bahwa karakter seseorang adalah satu-satunya hal yang penting. Adapula yang mendewakan nilai akademik, sampai mengesampingkan pendidikan karakter yang sebetulnya lebih essential. Pada dasarnya, keduanya tidak perlu dipertentangkan, karena sebenarnya dapat disatukan, saling melengkapi dan tidak bertentangan.

Nilai akademik formal seperti yang didapatkan ketika ujian, bukan satu-satunya faktor yang dapat menghantarkan manfaat bagi sekitar, dibuktikan dengan banyaknya ditemukan orang dengan nilai akademik tinggi terlantar tanpa pekerjaan atau kesulitan dalam menghidupi diri. Dan secara moral, dalam kehidupan bermasyarakat malah mungkin lebih terbelakang dibandingkan orang yang tidak bersekolah.

Ujian merupakan sebuah evaluasi terhadap seluruh kegiatan pengajaran yang dilalui seseorang pada periode tertentu. Menjawab beberapa pertanyaan, menghafal pelajaran dan selesai dalam dua jam di ruang ujian tentu tidak bisa memutuskan seorang sudah pandai, kreatif atau nantinya bermanfaat di luar tembok sekolah.

Banyak faktor lain yang menentukan bagaimana spirit seorang dalam menghadapi tantangan hidup yang tidak bisa ditelurkan oleh sistem sekolahan. Banyak hal di dunia ini yang tidak mudah dijawab hanya dengan hafalan atau kecerdasan.

Di sisi lain, ujian merupakan sebuah ikhtiyar dari sebuah institusi, sebuah perangkat yang mengukur keberhasilan sistem pengajaran. Menguji sebuah tanggung jawab siswa akan tugasnya sebagai siswa. Bagaimana ia memperhatikan pelajarannya, keseriusannya dalam mencapai sebuah tujuan.

Di dalam ujian dapat sedikit diketahui, menguji sifat amanah siswa dalam menerima apa yang telah diajarakan, menjaga komitmennya ketika memutuskan masuk ke sebuah institusi pendidikan. Keteguhan hatinya dalam meraih sebuah tujuan juga diuji saat ia berhadapan dengan tuntutan sekolah atau institusi pendidikan tertentu.

Sayangnya, kebanyakan –kalau tidak mau menyebut seluruhnya- institusi pendidikan tidak memberikan porsi pendidikan karakter yang bisa mengimbangi kurikulum akademik mereka. Sekolah banyak mengajarkan tentang pencapaian nilai, tuntutan achievement goal berupa prestasi dalam tulisan angka di ijasah.

Padahal pendidikan karakter inilah yang dapat menghasilkan manusia yang lebih bermanfaat dibandingkan orang yang hanya memiliki prestasi gemilang dalam nilai akademiknya. Manusia jujur, adil, berakhlak dan seabreg karakter positif lainnya adalah manusia yang dapat menjadi manusia seutuhnya, meski ia tidak bersekolah.

Dan dalam menilai karakter hampir mustahil bisa dituliskan dalam bentuk nilai. Kalaupun bisa, itu hanya merubahnya menjadi nilai-nilai angka tertentu sebagaimana di ujian. Menilai karakter secara formal justru tidak mendidik karakter seorang thalib itu sendiri.

Tetapi, apakah mungkin karakter berkualitas mengabaikan sekolahnya? Mengkhianati janji yang telah dibuat saat pertama kali menginjak sekolah?! Mengecewakan orang tua dan orang-orang yang dicintai dan mencintainya?! Oleh karenanya, berprestasi dalam sekolah tidak lain dan tidak bukan merupakan cerminan karakter berkualitas yang sejak paragraf pertama tulisan ini terlihat seperti bertentangan.

Tulisan singkat ini tidak bertujuan menyeragamkan seluruh orang dalam sebuah contoh yang telah disebut di atas, setiap kasus di dunia ini memiliki karakteristik unik yang layaknya sidik jari, hanya ditemukan pada satu orang saja.

Ketika sebuah tindakan memasuki ranah yang sangat khusus maka perlu ada teori khusus yang bersifat tidak umum untuk memberi sebuah solusi. Hanya saja, perlu standar umum sebagaimana norma-norma dibentuk, undang-undang dan bahkan fiqh.

Contoh sederhana, puasa ramadhan merupakan rukun Islam, fardlu ‘ain hukumnya bagi semua orang Islam. Hukum ini adalah sebuah hukum general yang umum untuk orang umum, di mana pada sebagian orang, keumuman ini tidak ditemukan.

Sakit atau sedang melakukan perjalanan merupakan kasus yang dinilai tidak umum, keluar dari koridor general hukum wajib di atas, sehingga ia boleh mengganti puasanya yang tadinya wajib dengan puasa di waktu lain atau dengan membayar fidyah pada kasus tertentu.

Fleksibilitas semacam ini juga berlaku pada pola pikir tentang nilai akademik dan nilai karakter. Pada kondisi umum, secara rata-rata orang akan beranggapan bahwa nilai akademik sangat penting dibandingkan pendidikan karakter yang tidak memiliki barometer khusus.

Pada keadaan lain, nilai sekolahan hanya sebuah formalitas yang tidak dapat menilai kualitas seorang manusia yang pada dasarnya sangat kompleks, nilai tidak akan sanggup mengakomodasi keistimewaan dan kekurangan manusia.

Tidak mudah menjadi potret ideal, berprestasi secara akademik dan karakter sekaligus. Sebagai manusia baik, kita hanya dapat berusaha mendapatkan yang terbaik, di mana jalan yang mungkin dapat dilakukan, lakukan! Yang tidak baik adalah mendiskreditkan orang yang berbeda pilihan dalam menentukan yang terbaik bagi mereka.

Setiap hal pasti memiliki nilai kurang dan tambah, jika hanya mencari kekurangan, maka tambahan tidak akan pernah didapatkan. Sebaliknya, jika focus pada mencari nilai positif darinya, kekurangan itu akan mudah diperbaiki dan tertambali dengan sendirinya.

Semua hal yang baik tidak akan berkonfrontasi dengan hal baik lainnya, itu hanya delusi yang diciptakan oleh pola pikir manusia itu sendiri, bagaimana mungkin sesuatu yang baik menjadi tidak baik karena berhadapan dengan sesuatu yang baik lainnya? Pre-asumsi dan pengalaman manusia lah yang banyak mempengaruhi penilaian terhadap banyak hal, karena sejak lahir manusia diciptakan atas kebaikan, kullu mawludin yuladu alal fithrah, semua bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah.(HR. Bukhari no. 1296)