Pesatnya perkembangan teknologi membawa pengaruh besar terhadap cepatnya penyebaran informasi dan komunikasi. Fenomena seperti globalisasi beserta revolusi industri 4.0, telah berhasil melatar belakangi mudahnya masyarakat dalam mengakses jaringan internet juga berita terkini yang ada pada media massa. 

Pengaruh adanya internet meniadakan kata jarak antara ruang dan waktu. Terhapusnya batasan-batasan tersebut membantu masyarakat dalam memperoleh informasi dengan cepat dan tak terbatas.

Media sosial, merupakan wadah yang berperan sebagai penampung penyebaran berbagai informasi dan berita terkini. 

Adanya media sosial memberi kemudahan bagi para pengguna media sosial untuk mengetahui kejadian situasi kondisi yang sedang terjadi di berbagai belahan bumi. Dapat dibayangkan betapa lancar dan tidak terbatasnya masyarakat sekarang dalam mengulik informasi yang ingin dicari.

Namun tidak bisa dipungkiri bahwa secanggih-canggihnya teknologi masa kini yang banyak membawa kemajuan dalam komunikasi, tetap akan ada dampak negatif yang juga mengiringi. 

Seperti hukum alam yang selalu seimbang, ada untung ada rugi, ada kelebihan ada kekurangan, maka dengan kelebihan akan ada juga kekurangan.

Banyaknya informasi yang tak terbatas pada media sosial terkadang dapat menimbulkan suatu bencana bagi para pembaca. Mengapa? Terlalu banyak dan luasnya informasi tersebut, terkadang sulit untuk diketahui sumber beserta fakta kejadian sebenarnya. 

Di sinilah akhirnya kata “hoax” ditemukan sebagai hasil penyebutan dari palsunya informasi atau suatu berita yang tidak terjadi sesuai dengan fakta. Hoax merupakan informasi yang belum diketahui dengan jelas fakta kebenarannya.

Hoax atau berita bohong yang kini marak terjadi disebabkan karena kurangnya literasi dan daya pikir kritis oleh masyarakat. Sehingga adanya informasi yang tak tertampung di media sosial, mereka telan mentah-mentah tanpa mencari sumber dan fakta kejadian berita sesungguhnya. 

Fenomena hoax ini dapat disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab untuk kepentingan pribadinya dan dapat menyesatkan bahkan merugikan masyarakat atas berita bohong yang telah dibuatnya.

Banyak oknum yang memanfaatkan kejadian penyebaran hoax dengan maksud tujuan menebar kebencian dan hujatan kepada seseorang. Karena minimnya kemampuan masyarakat dalam menyeleksi kebenaran berita mana yang fakta dan palsu, masyarakat pengguna media sosial akan mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas pasti keabsahannya. Pada akhirnya fenomena hoax ini akan membawa dampak negatif berupa keresahan yang tak ada hentinya bagi masyarakat.

Kita sebagai anak muda diharapkan dapat menjadi generasi penerus bangsa yang nantinya dapat berkontribusi dalam membangun bangsa Indonesia dan menghadapi berbagai macam tantangan ke depannya. 

Dalam menghadapi tantangan-tantangan tersebut perlu adanya kemampuan beserta tindakan berupa sikap, perilaku, dan nalar kritis yang sesuai dengan jati diri bangsa Indonesia. Fenomena hoax merupakan salah satu dari tantangan-tantangan yang harus dihadapi dengan pola pikir kritis dan sikap bijaksana.

Langkah yang tepat untuk menyikapi fenomena hoax ialah dengan menumbuhkan cara nalar dan daya pikir secara kritis pada kalangan pengguna media sosial. Kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan untuk merespon suatu berita yang diterima saat sedang bermedia sosial, agar nantinya tidak sesat terpengaruh oleh berita hoax yang hanya menjadi trending sementara.

Sebagai anak muda dengan kemampuannya yang dapat berpikir secara kritis, tentunya harus bisa membedakan mana berita fakta dan mana berita yang hanya sekedar hoax. Dalam buku Common Hoaxes and Chain Letters (2008), David Harley memberikan beberapa patokan untuk mengetahui ciri-ciri sebuah berita hoax sebagai berikut.

  1. Informasi pada berita hoax biasanya disertai dengan kalimat-kalimat surat berantai, contohnya seperti “Sebarkan berita ini ke seluruh kontak anda, jika tidak akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada anda”, dll.
  2.  Informasi pada berita hoax biasanya tidak dicantumkan data valid terkait tanggal, tempat, ataupun lokasi kejadian yang dapat dicari fakta kebenarannya.
  3. Informasi pada berita hoax tidak disertai tenggat kadaluarsa yang dapat menjadi bukti kebenaran kejadian tersebut dan hal ini dapat menjadi sebab timbulnya rasa cemas, kekhawatiran, dan ketakutan pada penerima informasi.
  4. Informasi pada berita hoax tidak terdapat sumber yang teridentifikasi.


Dengan kemampuan berpikir kritis dan bernalar logis, pengguna media sosial diharapkan dapat lebih selektif dalam menerima informasi dan bersikap dengan bijak dalam menanggapi berita-berita hoax yang ada. 

Melalui pemikiran kritis ini ke depannya pengguna media sosial dapat mengetahui dan memilih mana informasi berita yang benar dan bermanfaat dengan melihat keakuratan informasi dan berasal dari sumber yang terpercaya.

Sikap bijak dan kekritisan dalam menyikapi berita-berita hoax akan mampu meningkatkan kualitas intelektual para pengguna media sosial. Harapannya cara pikir kritis dan nalar logis ini dapat diimplementasikan dalam menyikapi berita-berita hoax yang ada

Pentingnya nalar dan berpikir kritis dalam menyikapi berita hoax akan sangat bermanfaat terhadap keamanan, ketentraman, dan kedamaian pada masyarakat.