Pegiat kesehatan yang sudah paham tentang pentingnya kesehatan mental selain fisik, mungkin sudah harus memikirkan kesehatan mental pada anak-anak, ABG atau remaja. Karena pada saat ini sering kali kita menemukan banyak juga kasus gangguan mental pada remaja dengan latar belakang kasus yang berbeda.

Remaja sebenarnya mudah mengalami masalah gangguan mental, karena maraknya kasus perundungan di sekolah, kekerasan seksual, atau masalah hubungan tidak harmonis dengan orang tua. Lantas bagaimana cara memberikan perhatian terhadap kesehatan mental remaja pada saat ini? Bagaimana cara yang tepat untuk mencegah munculnya kesehatan mental pada remaja?

Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental adalah keadaan individu yang sejahtera di mana dirinya mampu menyadari kemampuannya, dapat mengatasi beban atau tekanan hidup, dapat bekerja secara produktif dan berkontribusi dalam komunitas yang dimiliki. 

Kesehatan mental juga sebagai dasar bagi kemampuan kita sebagai manusia untuk berpikir, berekspresi, berinteraksi dengan sesama, mencari penghasilan dan menikmati hidup. Jadi, kesehatan mental yang baik sangatlah berpengaruh dalam kehidupan semua orang tanpa memandang usia.

Orang dengan kesejahteraan mental, tentunya dapat menjalani hidup dengan sehat karena kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Namun berbeda dengan di Indonesia, kesehatan mental masih dipandang sebelah mata. 

Banyak orang beranggapan kesehatan mental bukanlah hal yang penting untuk diatasi karena tidak memiliki bukti fisik. Sehingga gangguan mental sering kali muncul karena pikiran mereka terganggu dan menyerang mood serta tingkah laku seseorang.

Karena minimnya pengetahuan tentang hal tersebut, kesadaran masyarakat tentang kesehatan mental harus mulai dikembangkan. Termasuk dengan adanya kesehatan mental pada remaja. Masa remaja adalah salah satu tahapan penting dalam kehidupan manusia. Masa remaja adalah masa di mana mereka sibuk mencari jati diri. 

Mereka sangat penasaran dengan perkembangan sosial dan tren yang terjadi. Sayangnya, remaja sangat mudah menangkap semua hal di sekitarnya yang menurutnya menarik  tanpa mempertimbangkan efeknya lebih jauh dikemudian hari. Hal ini tentunya harus di perhatikan lebih lanjut.

Kesehatan mental seseorang dapat dipengaruhi berbagai hal seperti kondisi biologis, sosial ekonomi, dan lingkungan. Pada remaja, semua faktor ini juga berperan. 

Dapat diambil contoh dengan situasi di mana itu adalah hal yang dekat dengan mereka, seperti kondisi ekonomi keluarga yang tidak bisa memenuhi harapannya, serta kondisi rumah yang belum dapat menjadi lingkungan yang nyaman dan aman, bisa menjadi sebuah kendala sendiri bagi remaja.

Lalu apa yang menjadi faktor munculnya kesehatan mental remaja belakangan ini ini? Menurut data WHO pada tahun 2019, belakangan ini stres sebagai pemicu kesehatan mental lebih sering muncul terjadi karena beberapa hal sebagai berikut,

1. Adanya rasa takut dan cemas tentang kesehatan diri maupun kesehatan orang lain yang disayangi

2. Adanya Perubahan pola tidur dan pola makan

3. Sulit tidur dan konsentrasi

4. Menggunakan obat-obatan

Hal ini juga serupa dengan penyebab dari perubahan kesehatan mental pada kalangan Mahasiswa di Indonesia. Naasnya kejadian ini sering kali terjadi dan dianggap lazim di masyarakat. 

Seperti yang dapat kita ketahui tentang dampak yang diberikan oleh perubahan kesehatan mental yang sangat patut diwaspadai. Kondisi itu dapat memberikan dampak pada kesehatan mental seperti kecemasan, kesepian, depresi, berduka, hingga perilaku berisiko.

Lalu bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi serta mencegah adanya kesehatan mental remaja? Untuk menjaga kesehatan mental remaja, diperlukan sikap resiliensi yakni proses untuk beradaptasi dalam menghadapi kesulitan, trauma, tragedi, ancaman atau sumber stres lainnya yang signifikan.

Dengan sikap tersebut, seseorang akan mampu bangkit kembali dan dapat mengatasi kesulitan secara efektif,  lentur, tetapi tidak patah meskipun berada di bawah tekanan ekstrim saat menghadapi kesulitan.

Lingkungan akademik dapat terlibat menjaga kesehatan mental remaja dengan membuka akses dan pelayanan kesehatan mental di sekolah. Selain itu, mewujudkan lingkungan sekolah yang aman bagi guru, siswa, dan karyawan juga penting. 

Sekolah yang mendorong adanya toleransi dan memahami perbedaan fisik, mental, status sosial, suku, agama, dan konstruksi sosial lain, diyakini lebih bisa menyehatkan bagi remaja.

Faktor lain yang dapat mendukung kesehatan mental remaja adalah dengan memperhatikan kesehatan fisiknya. Dengan mendorong remaja untuk bisa menjaga kesehatan fisik melalui aktivitas seperti olahraga, membangun kebiasaan tidur yang teratur, serta dan pola makan sehat. Dalam pengamatan selama masa pandemi, hal ini ternyata efektif dan murah dalam mengatasi perasaan negatif remaja.

Jadi, dapat kita tarik kesimpulan tentang seberapa pentingnya bagi kita untuk memperhatikan kesehatan mental remaja agar mereka menjadi remaja yang tangguh dan sehat mental. 

Inilah waktu yang tepat untuk satu sama lain saling peduli dan meningkatkan rasa empati antara yang satu dengan yang lainnya sehingga kita bisa mencegah munculnya kesehatan mental pada remaja.