Penulis
1 minggu lalu · 66 view · 3 min baca · Media 97597_99970.jpg

Pentingnya Mengunyah daripada Menelan

Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan di zaman modern seperti saat ini tentu sangat menguntungkan. 

Bayangkan, kalau dulu, untuk naik ojek saja, kita mesti capai-capai datang ke pangkalan ojek; sekarang, kita nggak perlu lagi datang ke sana. Kita cukup pesan ojek online lewat aplikasi yang tersemat di dalam telepon pintar kita. Tinggal tunggu beberapa menit, abang ojol bakal datang ke tempat di mana kita berada. Mudah sekali, bukan?

Contoh lain, dulu, orang kalau mau membeli barang-barang kebutuhan harian harus bersusah payah pergi ke pasar atau super market; namun zaman sekarang, dengan segenap kemudahan yang ada, maka belanja tak perlu lagi repot-repot datang ke pasar, cukup belanja lewat telepon pintar. 

Cukup menunggu beberapa saat, atau mungkin hitungan hari, maka barang belanjaan akan sampai di depan rumah kita. Iya, di depan rumah kita.

Selain memilki sisi positif, namun kemudahan-kemudahan itu juga punya sisi negatifnya, lho. Bayangkan saja, sebagian orang meyakini, ke-serbamudah-an kadang membuat orang jadi malas. Mereka hanya ingin yang instan dan simpel. Hal ini bisa bahaya jika benar-benar membuat kita malas. Namun tidak jadi soal buat mereka yang tidak terkena virus malas situ. 

Nah, masalahnya, sekarang orang pengen simpel dan instan, tak hanya dalam hal berbelanja, atau sekadar memesan ojek online lewat aplikasi, bahkan hal itu makin merembet ke masalah informasi atau mungkin dalam beragama. 


Iya, tak bisa kita mungkiri, di zaman yang serbamodern dan mudah ini, orang makin malas mengkaji informasi yang datang padanya. Bahkan, sadisnya, ketika orang hanya mengandalkan judul artikel atau berita, lalu langsung merasa puas dengan judulnya, padahal ia belum membaca isinya.

Mungkin inilah sebabnya mengapa hoaks tak pernah usai dan selalu berseliweran dari media ke media, dan dari mulut ke mulut. Di sini, masyarakat kita belum sadar betul, bahwa setiap informasi itu berpotensi benar, juga berpotensi salah. 

Maka, setelah kita mendengar atau membaca sebuah informasi, apa pun itu, dari siapa pun itu, dan dari media pemberitaan mana pun itu, maka kita dituntut untuk selalu mengkaji sekaligus mengecek validitas informasi itu.

Apalagi di zaman seperti sekarang ini, tiap detik  selalu hadir informasi-informasi baru yang berlalu lalang di telepon pintar kita. Maka, tugas pertama kita adalah jangan mudah percaya, apalagi langsung men-share ke group-group Whatsapp dan media lainnya. Tentu akan menanggung malu yang teramat sangat ketika kita baru tahu dan sadar bahwa apa yang kita share itu ternyata berita hoaks.

Saya rasa, tuntutan untuk selalu mengkaji dan menelaah tak cukup berhenti hanya pada informasi saja. Sebuah ilmu pengetahuan, baik yang berbau agama atau selainnya, perlu kiranya kita melakukan pengkajian, apakah yang disampaikan ustaz fulan itu benar, atau justru salah, sebelum pengetahuan yang kita peroleh itu kita bagikan ke orang lain.

Ambil contoh, menuduh orang lain sesat atau bahkan kafir karena kita hanya ikut-ikutan ustaz fulan yang mengatakan tentang kesesatan dan kekafiran kelompok tertentu. Kalau pada akhirnya kita benar-benar menggembar-gemborkan tentang apa yang dikatakan ustaz itu, tentu saja kita terlalu gegabah. 

Orang bijak akan selalu menyaring perkataan apa pun dari siapa pun, sebelum dengan gegabah ia menuduh orang lain yang tidak-tidak. Sebab, ustaz juga manusia, bisa terjerembab ke dalam lubang kesalahan.


Sebagai catatan, orang yang sekolahnya tinggi, dengan gelar yang berderet, tak bisa kita jadikan sebagai barometer, bahwa apa yang ia sampaikan selalunya benar. Boleh jadi salah. Wong namanya juga manusia, maka bisa jadi ia salah. 

Toh, selama ini, banyak juga orang-orang yang menurut sebagian orang sebagai sosok yang berpendidikan, namun justru menjadi pelaku atau korban hoaks. Artinya, pelaku dan korban  hoaks bukan soal berpendidikan atau tidak, melainkan tentang ‘kepentingan’ yang ia punya juga keengganannya dalam mengkaji setiap informasi.

Tujuan mulut dicipta, salah satunya, untuk menguyah makanan sebelum ditelan dan masuk ke dalam perut. Maka, akal dicipta, salah satunya, untuk memikirkan setiap informasi dan pengetahuan yang kita terima. 

Maka, hendaknya kita selalu menguyah infomasi yang ada, sebelum kita telan ke dalam gudang pengetahuan kita lalu kita sebar ke khalayak ramai. Itulah mengapa mengunyah lebih penting daripada menelan.

Artikel Terkait