Sekarang sedang maraknya virus yang bernama Covid-19. Virus yang membuat semua aktivitas di dunia ini berhenti total. Termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah. 

Pemerintah menggunakan sistem belajar di rumah secara online. Hal itu membuat anak-anak menjadi menghabiskan bagian besar waktunya di rumah dengan menonton sebuah tayangan pastinya. Entah itu tayangan yang ditayangkan di televisi ataupun di youtube.

Seperti yang diketahui, film superhero merupakan salah satu jenis film yang sering ditonton oleh anak-anak terutama bagi anak laki-laki. Studi Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) pada tahun 1995 menunjukkan bahwa adegan anti sosial lebih dominan (52 persen) dalam film kartun bertemakan kepahlawanan dibandingkan adegan prososial (48 persen). 

Apa maksud dari adegan anti sosial di sini? Anti sosial di sini meliputi kekerasan verbal, pencurian, peperangan, kekerasan fisik, dan lainnya.

Hal negatif yang seperti itu dapat berpengaruh kepada perilaku sang anak karena pada dasarnya anak sangat mudah terpengaruh dan meniru terhadap apa yang dilihatnya. Masalah mengenai tontonan anak yang kurang mendidik ini memang bukan suatu hal yang baru untuk diperbincangkan. Namun, apabila tidak ditangani mulai sekarang, efek negatifnya akan berkepanjangan.

Seperti satu kasus yang dulu sempat viral hingga diberitakan di berbagai media. Kasusnya adalah anak yang menirukan adegan Smack Down di mana di situ terdapat banyak adegan baku hantam yang tidak disensor. Bahkan kasus seperti ini bisa berakibat fatal hingga dapat merenggut korban jiwa.

Hal apa yang bisa dilakukan orang tua dalam mengontrol tontonan anaknya? Tentunya dengan cerdas dalam memilah dan memilih tontonan pada anak. Memilih tontonan yang sesuai dengan umur sang anak. Biasanya tontonan yang dikhususkan untuk anak-anak memiliki logo SU yang berarti semua umur.

Agar dampak buruk dari tayangan film atau acara televisi tidak terjadi pada anak, penting untuk mencari tahu dulu bagaimana review orang lain terhadap film tersebut. Banyak sekali situs online di internet yang menyediakan informasi mengenai deskripsi film. Baik itu kategori film, genre, maupun sinopsis ceritanya.

Atau bisa juga dengan cara orang tua yang memberikan pendidikan atau wejangan pada sang anak. Dengan memberi tahu bahwa tidak semua yang muncul di layar itu adalah hal baik. Dengan begitu sang anak bisa menonton apa saja tetapi mereka tahu mana yang baik dan mana yang buruk. 

Sehingga orang tua tidak harus mengontrol apa yang anaknya tonton setiap saatnya. Sang anak dapat memilah dan memilih sendiri apa yang mereka tonton. Hal seperti ini juga dapat melatih kemandirian serta kepedulian seorang anak terhadap dirinya sendiri.

Bagaimana cara pemerintah ikut berpartisispasi dalam mengontrol tontonan anak bangsanya? Seperti yang telah kita ketahui pemerintah negara Indonesia memiliki lembaga yang memiliki kewenangan dalam mengatur standar program siaran yaitu KPI (Komisi Penyiaran Indonesia). KPI memiliki program yaitu dengan cara menjalankan sebuah Survei Indeks Kualitas Program Siaran Televisi.

Survei ini tentunya dilakukan oleh para ahli media yang berasal dari 12 universitas di Indonesia. Seperti yang telah diucapkan oleh Dewi Setyarini (2018) bahwa suvei yang diadakan setiap tahunnya oleh KPI untuk menetapkan batas-batas atau indeks maksimal yang harus dicapai oleh televisi berkaitan dengan kualitas tayangan, tidak hanya dari rating.

Upaya lainnya yang telah dilakukan oleh KPI adalah dengan memperbanyak edukasi literal digital dari daerah ke daerah, mungkin selayaknya sosialisasi pada umumnya. Menurut Dewi Setyarini (2018) KPI pada tahun ini memperbanyak literasi media, mereka melakukannya di 12 kota, dua kali dalam satu tahun.

Tujuan dilakukannya program ini adalah agar masyarakat lebih aware dan teredukasi dalam memilah dan memilih tayangan yang layak untuk mereka konsumsi. Sehingga kalau ada tontonan yang kurang baik menurut diri mereka maka hal itu tidak akan ditonton.

KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) juga telah membuat kategori pendampingan dalam penayangan yang terbagi menjadi lima yaitu SU atau bisa disebut semua umur yang merupakan anak yang umurnya diatas 2 tahun, D atau dewasa merupakan kategori dimana penonton yang telah memiliki usia diatas 18 tahun. A atau anak merupakan anak yang usianya 7-12 tahun.

Lanjut, ada juga R yang merupakan remaja usia 13-17 tahun, dan yang terakhir adalah BO atau bimbingan orang tua dimana anak butuh bimbingan orang tua ketika menonton acara tersebut. 

Umumnya tulisan ini berada di sudut kiri atau kanan layar televisi pada setiap program televisi yang tayang. Namun, apakah semua kategori ini telah diperhatikan dan dipatuhi oleh masyarakat Indonesia? Sepertinya cara seperti ini kurang efektif dan hanya menjadi tulisan belaka.

Seiring dengan berkembangnya zaman, tayangan pada media elektronik dan media sosial mulai menggusur tayangan yang edukatif. Semua itu tergantikan dengan kisah cerita cinta anak remaja yang berlabel cinta monyet. Atau hanya sekedar acara talkshow atau realityshow settingan yang dengan sengaja dibumbui dengan gimmick guna mendongkrak rating acara tersebut. 

Maka dari itu, sangatlah penting bagi orang tua ataupun guru untuk tetap mengingatkan anak dan peserta didiknya untuk tetap mengontrol tontonan sang anak di kala karantina.