"Memberi apresiasi sama sekali tidak menurunkan harga diri kita, memberi apresiasi sama halnya kita berinvestasi dalam bentuk dukungan, demi terealisasinya program-program yang jauh lebih luar biasa."


Evaluasi Sebagai Apresiasi

Sebelum masuk kepada "Sesi Inti" terkait konferensi G20 yang akan mengupas perihal 3 Pilar Pamungkas yang sudah saya "Bocorkan" pada tulisan saya sebelumnya, 

ada baiknya kita mengevaluasi terlebih dahulu, apa-apa sajakah program G20 yang sudah terealisasi sejak tahun 2019 kemarin, terkhususnya di Negara Indonesia yang digadang-gadang sebagai salah satu "Contoh sukes" dalam menjalankan program G20.

A. Seperti pemaparan Siti Nurbaya (Dibaca : Mentri LHK) dalam G20 Environment Minister's Virtual Meeting di Naples, Italia bahwa ;

Berdasarkan data, angka deforestasi Indonesia pernah mencapai 3,5 juta hektar per tahun. Namun mengalami penurunan yang sangat signifikan mencapai 0,44 juta hektar per tahun tepatnya pada tahun 2019, dan semakin turun mencapai 0,115 juta hektar pada tahun 2020. 

Sehingga tidak salah jika hal tersebut mengantarkan Indonesia mencapai rekor terhebat dalam "Menurunkan laju deforestasi" dalam sejarah G20. 

B. Selain itu, Indonesia juga sedang mengupayakan proses rehabilitasi lahan kritis demi tercapainya pemulihan ekosistem lingkungan terhadap 1,42 juta hektar lahan yang sudah terehabilitasi dengan target ; Net Zero Land Degradation to Indonesia 2030.

Bayangkan jika program tersebut benar-benar terjadi, bukankah tidak ada lagi lahan-lahan terabaikan di Bumi Pertiwi ini? Lantas apa iya Indonesia akan menjadi Negara yang seproduktif itu? 

Kenapa tidak? Mari kita lirik sejenak seperti apa Arab Saudi yang ada dalam imajinasi terliar Pangeran Muhammed Bin Salman sekarang ini? Rancangan Negara dari masa depan yang benar-benar menakjubkan bukan? 

Sekali lagi, kenapa tidak? Indonesia bahkan sudah memulainya dengan membangun Ibu Kota Nusantara yang baru di Provinsi Kalimantan. Kurang "Mega project" apa? 

C. Meningkatnya pengelolaan Indonesian Seas Large Marine Ecosystem mengingat Indonesia merupakan Negara Kepulauan terbesar yang ada di Dunia, maka serat sekali manfaatnya dalam mengoptimalkan peran ekosistem karbon Biru itu sendiri. 

D. Berdasarkan pemaparan Perry Warjiyo (Dibaca : Gubernur Bank Indonesia) pada Februari 2022, bahwa hasil dari implementasi Inovasi Keuangan Berkelanjutan (Dibaca : Salah satu Program G20) dalam 10 tahun terakhir mencapai Rp 12.264 Triliun. 

Serta dirilislah Peta Jalan Keuangan Berkelanjutan 2021 s/d 2025 berikut Taksonomi Hijau Indonesia sebagai acuan industri jasa keuangan dalam mengindentifikasi pembiayaan Hijau. 

Barangkali sampai di sini dulu saja sesi apresiasinya, bukan karena saya mengatakan bahwa yang lain sama sekali tidak perlu diapresiasi melainkan, program-program yang masih berjalan, silahkan dijalankan hingga dapat dirasakan dan diakui secara bersama terkait berhasil atau tidaknya.


Seberapa Hectic-kah Bali Menjelang Konfrensi G20?

Semakin dekat dengan hari "Perhelatan" semakin deg-degan dan penasaran, sudah sejauh manakah persiapan dari saudara sebangsa kita yang ada di Pulau Dewata sana. 

Seperti yang disampaikan oleh Basuki Hadimuljono (Dibaca : Mentei PUPR) per bulan September kemarin, telah dilakukan pembenahan besar-besaran terhadap infrastruktur seperti ;

Penataan kawasan Mangrove Tahura Ngurah Rai yang digadang-gadang nantinya akan menjadi lokasi showcase tanaman Mangrove kepada para Delegasi G20. 

Proses penataan dilakukan dengan sangat-sangat detil meliputi gapura, plaza, beji wantilan, jalur tracking, gardu pandang, view ke arah Teluk Benoa, serta parkiran yang berada di sekitar Waduk Muara.

Kemudian, turut dilakukan juga preservasi terhadap jalan dan jembatan, lanskap bundaran, pedestrian, garuda wisnu kencana, revitalisasi bangunan VVIP Bandara Ngurah Rai bahkan hingga ke jalan tol Bali-Mandara.

Saya benar-benar takjub mengetahui sedemikian rupa persiapan yang telah dilakukan dalam menyambut konferensi Dunia ini. 

Benar! Belum selesai sampai di situ. Gede Pramana (Dibaca : Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistika Pemprov Bali) juga menyampaikan bahwa per bulan Oktober kemarin, 

aktivitas di beberapa wilayah yang dekat dengan lokasi konferensi mulai dipasifkan. Seperti Proses Belajar Mengajar di Universitas Udayana misalnya, sudah dialihkan dalam bentuk daring terlebih dahulu.

Begitu juga dengan aktivitas perkantoran yang turut dialihkan dalam bentuk WFH terlebih dahulu, NAMUN! Dengan tetap tidak mengabaikan proses keberlangsungan melalui pemasangan wifi gratis di sejumlah 1.834 titik dan semuanya sudah difungsikan.

Kemudian terkait aspek keamanan, juga sudah ditetapkan bahwa nantinya, aparat TNI, bersama Polisi dan juga Sipandu Beradat (Dibaca : Keamanan daerah setempat) akan bekerja sama dalam mengamankan para Delegasi berikut pihak-pihak lain yang terlibat.

Wah, semakin tidak sabar rasanya. 


Praduga Terkait Absensi G20 Bali

Berdasarkan informasi yang sudah sampai di Istana Negara, bahwa ada sejumlah 17 Kepala Negara yang memberikan konfirmasi akan menghadiri konferensi di Bali pada pertengahan November ini.

Namun, sama sekali tidak ada bocoran terkait Negara mana saja yang sudah memberikan konfirmasi tersebut. 

Jika para pembaca saya di luar sana bertanya, apakah Vladimir Putin (Dibaca : Si paling banyak fansnya di Indonesia) akan hadir? 

Saya rasa kurang memungkinkan, mengingat per bulan November ini, Rusia masih meluncurkan invasinya terhadap Ukraina.

Tapi lain cerita jika Vladimir Putin memang ingin mengubah seluruh sel darah Merah Joe Biden menjadi sel darah Putih saat di Indonesia, haha. 

Lantas jika pembaca saya di luar sana bertanya, apakah Pawang Hujan (Dibaca : Mbak Rara) akan hadir? Saya rasa, itu jauh lebih memungkinkan.

;-)