Saya sedang memeriksa teks abstrak mahasiswa yang akan saya terjemahkan. Beberapa kali saya membaca ulang kalimat yang sulit untuk saya cerna. Bukan hanya saya, dosen pembimbing mereka pun tak bisa memahaminya.

“Sepertinya yang dia maksud ini deh,” kata si dosen menjelaskan sambil menunjuk kalimat sebelumnya.

Saya pun geleng-geleng takjub menyadari kesalahan tata kalimat si mahasiswa. Parahnya, teks tersebut ditulis dalam bahasa Indonesia. Bahasa sehari-hari yang mestinya tak diragukan lagi level penguasaannya.

Bagi beberapa institusi justru kemampuan bahasa Indonesia sama sekali tidak penting. Mereka jauh lebih menuhankan kemahiran berbahasa Inggris. Bahkan, skor TOEFL kerap jadi syarat akhir untuk kelulusan kuliah serta melanjutkan pendidikan.

Di dunia kerja pun sama. Sertifikat kemampuan bahasa Inggris ini kerap membuat para pelamar kerja kehilangan semangat. Kalah sebelum bertanding, gugur sebelum memperjuangkan pekerjaan yang diidam-idamkannya.

Padahal, tanggung jawab pekerjaan yang dilamar sama sekali tidak ada hubungannya dengan kemampuan bahasa Inggris. Mereka lebih dituntut menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Khususnya bahasa yang formal dengan struktur baku dan sesuai kaidah penulisan. Alhasil, kadang bahasa amburadul yang sulit dimengerti yang bermunculan di dokumen-dokumen perusahaan.

***

Beberapa dokumen administrasi di tempat kerja saya juga mengalami hal serupa. Baik surat pemberitahuan maupun surat keputusan. Mulai kesalahan tanda baca, penggunaan kata, hingga struktur kalimat multitafsir. Kadang saya sendiri bingung harus mengoreksi dari mana. Andai itu kerjaan masih mahasiwa, sudah saya penuhi dengan tinta merah.

Contoh kecilnya adalah penulisan kata sambung dan kata depan yang belum tepat. Yang semestinya dipisah malah disambung. Yang harusnya disambung malah dipisah, bahkan dipisahnya ada yang sampai menggunakan spasi dua kali.

Ada yang merasa hal itu sepele, tak perlu dibesar-besarkan. Tapi kalau keterusan salah, bisa fatal dan bikin malu. Penggunaan spasi adalah penanda kelas kata, apakah dia kata benda yang menunjuk tempat atau kata kerja yang menunjukkan kegiatan.

Saya jadi tertawa dalam hati mengingat kejadian nyata di postingan teman WA saya beberapa hari yang lalu. Dia memasang status berupa tangkapan layar sebuah judul berita terkait larangan mudik.

“Puluhan Pemudik Putar Balik di Cekik”

Di bawahnya ada komentar netizen yang langsung ngegas.

“Jangan main cekik, tolong beritahu secara baik-baik saja. Suruh kembali ke tempat tinggalnya.”

Sekilas mungkin banyak yang sepemahaman dengan netizen yang budiman. Menganggap aparat yang bertugas mencekik pemudik yang akan putar balik. Padahal, spasi di antara kata di dan kata selanjutnya menunjukkan kata itu sebagai kata benda.

Dan memang, faktanya seperti itu. Kata Cekik adalah kata benda penunjuk sebuah lokasi di dekat Gilimanuk, Jembarana, Propinsi Bali.

***

Di dunia akademik, kemampuan menyampaikan ide dengan bahasa yang baik dan benar adalah sebuah keharusan. Mahasiswa dituntut untuk bisa menghasilkan karya tertulis hampir di semua jenjang. Bahkan Sebagian ada yang dituntut untuk bisa menerbitkan artikel mereka di jurnal bereputasi.

Semua itu tentu mengharuskan mahasiswa memiliki kemampuan mengolah kata yang mumpuni. Mereka harus menguasai struktur kalimat. Mampu membedah susunan kalimat demi menghindari plagiasi. Serta memudahkan pembaca memahami tulisan mereka.

Jika bahasa Indonesia mereka baik, tentu tulisan mereka akan lebih mudah dimengerti dan menjadi karya yang berkualitas. Sungguh, kapasitas kemampuan berbahasa Indonesia sudah saatnya diuji untuk mencapai standar tersebut.

Kapasitas berbahasa Indonesia tersebut sebaiknya juga digaungkan dalam rekrutmen dunia kerja. Bukan hanya bahasa asing, bahasa nasional pun kini butuh pembuktian.

Serta, seharusnya, hal itu menjadi perhatian pihak penyelenggara pendidikan tinggi. Pihak kampus harus berbenah dalam menyikapi kemampuan bahasa ini. Mereka harus membuktikan bahwa para lulusan mereka memiliki kualitas bahasa Indonesia yang mumpuni. Bukan hanya mengharapkan mereka mendapatkan skor tinggi dalam tes bahasa Inggris.

Jika perlu hasil Uji Kompetensi Bahasa Indonesia (UKBI) yang dikeluarkan oleh pemerintah harus dimiliki oleh para mahasiswa dan juga dosen. Toh, bukan hanya mahasiswa, dosen mereka pun masih banyak yang melakukan kesalahan yang sama.

Saya masih sering menemukan kesalahan dasar pembentukan kalimat yang ditulis rekan-rekan dosen. Saat harus menerjemahkan artikel mereka ke dalam bahasa Inggris, saya selalu disuguhi dengan kesalahan kaidah penulisan kalimat. Juga penggunaan kalimat yang kurang efektif.

Beberapa kalimat bahkan tidak memiliki inti kalimat, baik itu subjek maupun predikat. Menurut aturan tata bahasa, tentu kalimat tersebut salah. Secara makna, kalimatnya bisa jadi akan disalahartikan oleh pembaca.

Sayangnya, ukuran kemampuan berbahasa Indonesia yang baik belum jadi fokus perhatian pemangku kebijakan. Dalam prasyarat sertifikasi dosen, hanya kemampuan bahasa Inggris yang dikedepankan. Meski memang ada beberapa tes aturan bahasa yang dimunculkan di dalam ujian TPA, namun itu sangat jauh dari kata cukup.

Sudah saatnya semua bereaksi, menjadikan sertifikat kemampuan bahasa Indonesia tolak ukur. Toh, nyatanya semua orang pasti menggunakan bahasa Indonesia di tempat kerja. Suka atau tidak, kesalahan berbahasa Indonesia bisa saja viral dan jadi sumber “kemaluan” yang baru.