Tidak ada yang paling tepat bagi seorang evolusionis Muslim untuk membuka Ramadan selain mengkaji tentang teori evolusi. 

Anggap saja ini sebuah tadarrus Ramadan, mengkaji sesuatu yang bermanfaat sambil menunggu buka puasa. Bagi yang tak puasa, silakan dibaca saja dan tidak usah berpretensi mendapat pahala. Kadang-kadang, ilmu pengetahuan lebih penting daripada pahala.

Bagi yang sudah ahli tentang teori evolusi, tidak usah baca tulisan ini. Cukup disebarluaskan saja jika dirasa penting. Bagi yang tak paham, silakan menyelami lagi lebih dalam dengan membaca buku-buku Sains populer (soalnya, buku Sains yang tak populer pasti susah memahaminya).

Bagi yang keberatan, tidak usah marah-marah atau menebar prasangka ke sana-kemari. Lebih baik energi kemarahan itu disalurkan lewat sebuah tulisan sebagai respons, lalu kirimkan ke web ini.

Sudah lama saya ingin menulis tentang teori evolusi. Tentu saja, bukan sebagai tulisan akademis yang serius, tapi sebuah refleksi dari buku-buku yang saya baca. Menurut saya, mempelajari teori evolusi hukumnya fardu ‘ain (wajib secara individu) bagi setiap insan yang berpikir. Yang tidak berpikir, dengan sendirinya, gugur kewajibannya.

Mengapa teori evolusi penting? Tak lain dan tak bukan karena, buat saya, ini adalah teori segala hal (theory of everything, TOE). Teori evolusi bisa menjelaskan tentang keberadaan alam raya, tuhan, agama, manusia, tumbuhan, hingga bakteri. Apa saja bisa dijelaskan dengan teori ini.

Lupakan sejenak istilah teknis TOE yang dikembangkan para fisikawan seperti Roger Penrose dan Stephen Hawking. Anda cukup menikmati filmnya saja yang diperankan dengan sangat bagus oleh Eddie Redmayne. Saya menggunakan istilah TOE di sini dalam pengertiannya yang paling umum.

Saya juga tak mau berdebat—seperti para kusir di depan keraton—seputar istilah “teori” dalam teori evolusi. “Ah, itu kan cuma teori,” kata para penyembah patung yang menyangkanya sedang menyembah sesuatu yang agung. 

Jika Anda tertarik dengan penjelasan seputar penggunaan kata “teori” dalam Sains, silakan baca tautan ini. Anda juga bisa membaca website yang khusus mendiskusikan tentang isu ini.

Teori Segala Hal

Yang paling mengagumkan dari teori evolusi, menurut saya, adalah kegunaannya dalam menjelaskan segala hal. Apa saja bisa dijelaskan dengan teori ini, dari hal-hal makrokosmis yang besar hingga hal-hal mikrokosmis terkecil yang tak tampak oleh mata. 

Teori evolusi bisa menjelaskan asal-usul alam raya, asal mula kehidupan, sejarah bahasa, ras, agama, dan tuhan. Hampir tak ada fenomena dalam kehidupan ini yang tak bisa dijelaskan dengan teori evolusi.

Ambil contoh yang paling dekat dengan kehidupan kita sehari-hari: anjing. Bagi kaum yang tak berpikir, hewan ini adalah makhluk ciptaan yang datang begitu saja dalam kehidupan manusia. Bagi kaum yang berpikir, anjing adalah hasil evolusi panjang yang asal-usulnya bisa ditelusuri pada keluarga canis, sejenis serigala.

15 ribu tahun silam, tak ada anjing. Sama seperti kucing, kambing, dan sapi, anjing adalah “ciptaan” manusia, hasil dari proses domestikasi yang dilakukan manusia. Jika manusia tak mengadopsi dan menaklukkan hewan liar ini, kita tak akan pernah mengenal anjing.

Ambil yang agak ekstrem tapi kerap luput dari perhatian kita: lumba-lumba. Bagi kaum yang tak berpikir, lumba-lumba adalah sejenis ikan, simply karena bentuk dan perilaku hidupnya mirip ikan. Tapi, bagi kaum yang berpikir, lumba-lumba adalah sejenis mamalia (sama seperti kera dan manusia) yang hidup di air. Evolusi jutaan tahun yang membuatnya seperti itu.

Lalu, ambil yang agak abstrak: agama. Dari mana datangnya agama? Kalau mau jawaban singkat yang menghentikan pencarian: dari tuhan. Tapi bagi kaum berpikir, agama jelas merupakan hasil sebuah evolusi panjang. Agama adalah salah satu hasil evolusi tercanggih yang pernah ada di muka bumi.

Di kalangan ilmuwan, teori evolusi hampir menjadi sebuah konsensus. Saya sebut “hampir” karena masih ada satu-dua ilmuwan yang menolaknya dan berusaha mengkritisinya, baik karena alasan iman maupun pendanaan riset. 

Ada juga ilmuwan yang mengkritisi aspek-aspek tertentu dari teori evolusi tetapi secara umum menerima teori ini. Tidak ada masalah dengan ilmuwan yang seperti ini.

Sebagian besar penolak teori evolusi bukan ilmuwan. Pada umumnya, mereka datang dari komunitas agama atau para pseudo-saintis yang ingin mendapat tempat dalam komunitas agama. Agar bisa diterima dan dihormati, mereka gencar mengecam teori evolusi dan mencaci-maki penemunya: Charles Darwin. Misalnya, Harun Yahya. Siapa Harun Yahya? Penjelasannya bisa dibaca di sini.

Jika sebagian besar ilmuwan menerima teori evolusi, mengapa masih banyak orang yang menolaknya? Jawabannya sederhana: tidak paham dan tidak mau paham. Seperti kata orang bijak: “Manusia membenci apa yang tidak dipahaminya.” Manusia cenderung tak bersahabat dengan sesuatu yang asing.

Informasi tentang teori evolusi yang sampai ke kalangan awam umumnya datang dari para penentang teori ini. Ketika kecil, saya diajarkan bahwa teori evolusi adalah sesuatu yang sesat, jahat, dan bertentangan dengan Islam. Pada saat itu, saya hanya bisa menerima saja. Belum ada Wikipedia, belum ada internet, dan tak punya akses kepada ilmu pengetahuan. Saya pasrah.

Yang disampaikan kepada anak-anak umumnya bukan teori evolusi, tapi doktrin bahwa “manusia berasal dari kera” atau “manusia berasal dari monyet” adalah sesat dan berbahaya. Padahal, doktrin itu hanyalah bagian kecil saja dari teori evolusi dan tidak sepenuhnya seperti yang dibayangkan para penolak itu.

Problem utama teori evolusi, menurut saya, adalah: untuk memahami teori ini, Anda harus punya IQ minimal dan harus punya sedikit imajinasi. Jika IQ Anda di bawah rata-rata, jangan mempersulit diri; tarik selimut, tidurlah yang nyenyak. Jika Anda punya cukup IQ dan kering imajinasi, sebaiknya ambil buku bacaan lain atau nonton video klip di YouTube, lebih baik. 

Dunia akan lebih damai jika orang memilih diam, ketimbang bersuara tapi hanya membuat bising.

Saya kira, kebisingan seputar teori evolusi selama ini berasal dari dua sumber: (1) orang-orang bodoh yang mencoba berbicara; (2) orang-orang pintar yang tak punya imajinasi. Gabungan keduanya menciptakan keributan tiada tara.

Kata Albert Einstein, the true sign of intelligence is not knowledge, but imagination. Imajinasi lebih penting ketimbang kecerdasan. Anda tak perlu terlalu cerdas untuk memahami teori evolusi. Tapi Anda akan gagal memahami teori evolusi jika tak memiliki imajinasi.

Salah paham terhadap doktrin “manusia berasal dari kera”, salah satunya, bersumber dari keringnya imajinasi. Ketika Charles Darwin mengatakan hal itu, atau serupa dengan hal itu, yang dia maksudkan adalah bahwa manusia (homo sapiens) memiliki asal-usul yang sama dengan kera, yang dalam bahasa ilmiahnya disebut hominid.

Orang harus punya imajinasi tentang hal-hal yang tidak dilihatnya. Masa silam terentang begitu panjang dan begitu kaya. Ada jutaan tahun telah berlalu, ada jutaan peristiwa telah terjadi. Ada jutaan makhluk hidup yang tak bisa lagi kita lihat sekarang. Tapi, imajinasi membantu kita merekonstruksi keberadaannya.

Jika Anda percaya dinosaurus tapi tak percaya teori evolusi, ke laut saja. Seluruh bangunan pengetahuan kita tentang dinosaurus dilandasi epistemologi yang berakar kuat pada teori evolusi. Rekonstruksi besar-besaran terhadap dinosaurus, hingga melahirkan begitu banyak buku dan film, adalah buah dari imajinasi yang dahsyat itu.

Sains modern, khususnya biologi, dibangun di atas pilar teori evolusi. Kata Theodosius Dobzhansky, ahli genetika dan biologi molekular, Nothing in Biology makes sense except in the light of Evolution. Jika Anda tak mengerti teori evolusi, Anda tak mengerti biologi.

Karena itu, saya heran seheran-herannya kalau ada guru biologi yang mengharamkan teori evolusi atau melarang anak-anak muridnya percaya teori evolusi. Guru biologi yang melarang anak-anak muridnya percaya teori evolusi sama seperti seorang ustaz yang menganjurkan pengikutnya untuk tidak percaya Nabi Muhammad.

Bersambung...