Semenjak era New Normal, kehidupan kembali seperti biasa. Bedanya semua orang wira-wira memakai masker. Eh, tidak semua deng, hanya sebagian. Nyatanya saya sering menjumpai orang tak memakai masker di jalanan. Kebetulan? Tidak. Pagi, siang, sore saya sering menjumpainya, meskipun hanya satu dua tiga orang.

Semenjak menerapkan New Normal atau kebiasaan baru, Pemerintah membuat berbagai kebijakan untuk mencegah penularan Covid 19. Kebijakan-kebijakan yang diambil di antaranya adalah physical distancing atau menjaga jarak secara fisik, memakai masker atau face shield, dan menggalakkan cuci tangan pakai sabun. Kebijakan yang dibuat tersebut adalah upaya mengurangi kontak fisik dengan orang lain sebagai bagian dari pencegahan penularan virus dari satu orang ke orang lain.

Masyarakat diimbau untuk tidak berkerumun atau mengumpulkan orang dalam jumlah yang banyak. Namun, kurangnya kesadaran menerapkan protokol New Normal atau kebiasaan baru membuat jumlah kasus corona di Indonesia terus meningkat. Meskipun banyak yang sembuh, tapi tingkat terpapar virus corona terus meningkat. Kematian Nakes pun terus bertambah.

Berdasarkan akun @pandemitalks dengan sumber data worldometer.info 13 juli lalu, Indonesia memiliki IPKN (Indeks pengaruh kematian Nakes karena Covid-19) tertinggi. Artinya, Indonesia memiliki kematian Nakes terburuk di dunia.

Meningkatnya kasus corona di Indonesia tidak lain dan tidak bukan karena penerapan protokol New Normal atau kebiasaan baru tidak berjalan dengan baik. Meskipun pemerintah sudah menggalakkan protokol kesehatan, namun nyatanya di lapangan masih saja banyak orang tak memakai masker, cuci tangan ataupun menerapkan jaga jarak.

Kurangnya kesadaran menerapkan protokol New Normal dikarenakan daya literasi sains yang rendah. Literasi sains yang rendah membuat orang awam tak menggubris apa yang dikatakan pemerintah atau tenaga kesehatan. Apalagi musim pandemi saat ini sangat dianjurkan sekali memakai masker namun susah sekali.

Tentunya lebih mudah menjelaskan ketika masyarakat atau orang tersebut memiliki literasi sains relatif tinggi.

Lha terus apa hubungannya gak pakai masker dengan literasi sains yang rendah?

Jadi, gini. Literasi sains adalah pengetahuan terhadap konsep-konsep ilmiah kemudian pengetahuan tersebut dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Tahun lalu ada ada sebuah kasus kebakaran. Penyebab kebakarannya pun cukup menggelitik. Karena peristiwa kebakaran itu terjadi saat emak-emak sedang masak.

Saat sedang masak dengan kompor api yang menyala tiba-tiba kecoa lewat di dekat kompor. Tanpa pikir panjang, emak-emak itu langsung menyemprot kecoa yang lewat dengan baygon. Tanpa diduga kaleng baygon itu meledak karena terkena api kemudian terjadilah kebakaran.

Seandainya emak-emak itu tahu semprotan yang ada aerosolnya bertemu dengan api pasti akan meledak, tentu tidak akan dilakukan. Tapi karena tidak tahu, emak-emak itu tetap menyemprot yang penting kecoa mati.

Bukan hanya kebakaran, masih banyak lagi contoh kasus karena rendahnya literasi sains yang bisa membuat bahaya. Bahkan kita sering melihat dengan gagahnya emak-emak mengendarai sepeda motor di jalan raya tiba-tiba langsung belok padahal di belakangnya ada mobil dengan kecepatan tinggi. Bisa dikatakan Itu juga kasus karena rendahnya literasi sains. Lah kog contohnya emak-emak terus? Terserah yang nulis dong. Hihihi.

Literasi sains atau melek sains sangat penting bagi semua kalangan. Tak hanya tuntutan bagi ilmuan ataupun tenaga kesehatan tapi literasi sains penting dimiliki semua kalangan.

Alangkah baiknya literasi sains diajari saat usia anak. Peran guru dan orang tua sangat penting dalam pembelajaran literasi sains. Misalnya saja, anak-anak diajari membuat roket air, yang mengasikkan, atau di rumah bisa diajari cara membuat pupuk dari limbah. 

Tentu praktik lebih mengasikkan daripada hanya teori saja. Jika tak diajari tentang pengetahuan literasi sains, pelajaran fisika, kimia, biologi akan sangat membosankan, apalagi kita tak tahu gunanya menghitung rumus-rumus yang njlimet itu buat apa.

Masih ingat sekali, betapa berdosanya saya karena mbolos pelajaran-pelajaran itu. Duh, maafkan saya ya Pak, Mak. Ya , gimana lagi, selain malas, juga karena pembelajaran yang berkutat pada teorisasi saja membuat kita tak paham apa fungsi sains dalam kehidupan sehari-hari. Kayak gak guna banget sih. Itu dulu lhoo ya.

Apalagi masa pandemi ini keterampilan literasi adalah kebutuhan mendesak yang perlu dimiliki oleh siapa pun untuk dapat mencegah menularnya wabah corona. Karena Sains memiliki kontribusi utama dalam menyelesaikan permasalahan manusia.

Hal ini tidak berarti semua orang harus menjadi pakar sains, ilmuwan, maupun dokter, namun sains memungkinkan manusia untuk berperan dalam membuat pilihan yang berdampak pada lingkungan dan dapat memahami implikasi sosial.

Coba saja bayangkan jika semua orang paham tentang literasi sains, tentu akan mudah semua akan selalu berhati-berhati melakukan sesuatu dan lebih safety tanpa perlu pak polisi teriak sana-sini pakai mobil mengomeli dan menilang yang tak tak pakai masker di pinggir-pinggir jalan. Sayangnya, banyaknya masyarakat belum tahu tentang literasi sains hanya akan mengacuhkan anjuran-anjuran pemerintah untuk menerapkan protokol Covid-19.

Melihat kondisi masyarakat yang ogah-ogahan seperti itu akhirnya kemarin tanggal 14 juli lalu , presiden jokowi mengundang sejumlah artis untuk untuk mengampanyekan protokol Covid-19 pada masyarakat.

Jika kampanye protokol Covid-19 hanya sekedar dibalut hiburan, tentu hanya akan menjadi tontonan yang pasif. Masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Tapi, jika artis dan youtuber mampu mengkampanyekan protokol Covid-19 dengan literasi sains ditambah hiburan, itu akan menjadi hal yang menarik dan menggugah kesadaran masyarakat awam. Apalagi orang seperti saya yang hobinya rebahan sambil nonton youtube-nya Atta Halilintar.