Menurut survei, performa membaca masyarakat Indonesia terpuruk di level bawah. Benarkah?

Hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) menunjukkan Indonesia berada di ranking 62 dari 70 negara di dunia. Dengan statistika angka melek huruf yang hanya mencapai 65,6% pada orang dewasa. Itu sama sekali bukan prestasi yang patut dibanggakan, melainkan masalah sosial yang harus segera dibenahi.

Sekolah swasta maupun negeri di Indonesia memang sudah menerapkan literasi lima belas sampai dua puluh menit di setiap paginya atau sepulang sekolah. Sudah cukup bagus, namun asumsi saya itu tidak cukup. Mungkin kebanyakan dari mereka hanya akan membolak-balikkan halaman tanpa sedikitpun membaca kalimat yang tertata di dalam buku. Demikianlah, mereka terlihat "membaca".

Salah satu aktivis minat baca, Nirwan Ahmad Arsuka, terang-terangan tak setuju dengan pernyataan bahwa minat baca anak Indonesia rendah. Beliau justru menyalahkan stigma pemerintah terhadap minat baca anak. Lalu, sebenarnya siapa yang salah?

Cocok atau tidaknya ideologi berhubungan dengan relevansi dengan zaman yang ada. Begitu pula dengan literasi. Di zaman globalisasi ini, pengurangan limbah kertas sedang digencar habis-habisan. Sebagai gantinya, kita menggunakan teknologi canggih yang mayoritas disukai oleh masyarakat.

Literasi tidak selalu berhubungan dengan buku pelajaran di sekolah yang tebal, literasi bisa melalui gawai atau media elektronik lainnya. Media digital yang banyak disediakan saat ini lebih memadai bagi generasi milenial. Generasi muda cenderung lebih menyukai sesuatu yang praktis dan instan. Pilihan salah satunya adalah media sosial atau digital tentunya. Lihat saja contohnya, wattpad dan blog.

Dengan adanya media digital seperti itu, saya yakin banyak anak remaja yang suka. Cukup dengan modal kuota, posisi duduk yang nyaman, dan penerangan yang cukup. Mudah, bukan? Inilah manfaat-manfaat globalisasi yang perlu kita ambil demi kemajuan bersama.

Namun, kembali lagi ke genre yang diminati oleh remaja hanya berkutat di sekitar teenfiction, romance, schoollife, yang intinya hal-hal berbau kisah cinta remaja.

Perasaan mengganjal saya ketika mendapati hanya itu-itu saja yang dikonsumsi remaja kini belum sirna sepenuhnya. Tapi, keadaan masih lebih kondusif dibanding tidak ada yang ingin membaca sepatah katapun. Perlahan-lahan, cobalah belajar membaca buku yang kontennya lebih berbobot.

Alokasi buku dari pemerintah ke pedalaman desa yang sulit dijangkau merupakan substansi  masalah dari keluhan setiap warga yang tinggal di pelosok. Saya akui dulu memang tidak begitu merata pembangunan setiap fasilitas daerah yang dilakukan pemerintah.

Namun, kini pemerintah sudah melakukan pemerataan infrastruktur yang menunjang kebutuhan dan mudahnya mobilisasi. Selain itu, juga banyak aktivis-aktivis yang sedia meluangkan tenaga mereka untuk anak-anak bangsa yang haus akan kata-kata.

Terlepas dari semua itu, saya melihat bahwa minat anak-anak bangsa saat ini sudah mengalami gradasi. Demikian uraian saya mengenai dilema minat baca antara pemerintah dan masyarakat. Beralih dari itu, saya ingin mengulas tentang peran anak muda dalam berkomunikasi lewat tulisan.

Untuk pendahuluan, saya ingin mengajak anak muda untuk sama-sama memikirkan aksara demi aksara yang berkumpul dalam otak kalian. Bukankah lebih nyaman bila disampaikan, entah lewat tulisan atau secara lisan?

Saat menyalurkan isi benak pikiran dengan merangkai kata demi kata, saya pribadi lebih mengutamakan kebebasan. Tak ada yang dapat mengekang saya saat menyusun bahasa. Hanya dengan seuntai kalimat, saya sudah dapat mencerminkan baik curahan saya.

Kalau menilik manfaat dari menulis, argument saya tentang itu sangat banyak. Menambah pengalaman, belajar Bahasa Indonesia yang baik, bahkan memperluas relasi dengan orang di sekitar kita. Lantas, mengapa masih saja ada orang yang meremehkan pekerjaan menulis?

Paradigma tiap masyarakat berbeda-beda, ada yang menganggap menulis merupakan sebuah bakat yang tak dapat dielakkan. Namun, ada juga yang memandang penulis sebuah hal remeh. Mengapa diremehkan? Upahnya sedikit, ketinggalan zaman, membuang tenaga dan waktu. Ada lagi alasan lain?

Saya akan memberi rincian mengenai pergumulan setiap penulis ketika ingin menelurkan karyanya. Misalnya, kurangnya budaya literasi masa muda kini. Dampaknya tentu sangat terasa bagi para penulis, yaitu berkurangnya jumlah pelanggan setia mereka dalam setiap tulisannya.

Sama seperti membangun bisnis seorang wirausahawan, menulis juga membutuhkan modal. Harus ada akal, pengalaman, teman, pendukung, bunga-bunga ide, penunjang tempat, apalagi coba? Mudah sekali menemukan modal-modal tersebut apabila anda berani terjun menulis dengan resiko dikritik, jika kalian beruntung, nama kalian akan dilambungkan.

Kembali lagi ke honor penulis, ini yang ingin saya rujuki. Banyak konten media yang dapat diakses dengan instan oleh penulis maupun penikmat tulisan. Bahkan, beberapa diantaranya sudah banyak yang populer karena konten-konten yang dibawa. Dengan itu, peluang untuk mendapatkan honor yang layak juga semakin besar.

Pekerjaan sebagai penulis juga sudah tidak dipandang sebelah mata lagi, baik fiksi maupun nonfiksi. Keberadaan mereka kini lebih diakui dibanding dulu. Sosial media yang ada juga memiliki peran aktif yang dapat dimanfaatkan untuk ajang mempromosikan karya.

"Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angina, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari." — Pramoedya Ananta Toer