Panitia Workshop
1 tahun lalu · 483 view · 3 menit baca · Info 98062.jpg

Pentingnya Konservasi dan Pelestarian Alam

Konservasi Alam dan Sinergi Antar-Elemen Masyarakat

Tanah adalah daging, udara adalah nafas, dan air adalah darah.

Pepatah masyarakat Dayak Tembaloh di atas menyiratkan alam, dalam hal ini kekayaan hutan dan lingkungan, adalah sumber kebutuhan hidup utama semua makhluk, tak terkecuali bagi manusia.

Rusaknya alam tentu menjadi ancaman berarti yang bisa berujung pada mati dan punahnya populasi makhluk hidup. Tak heran ketika program konservasi dan pelestarian alam menjadi agenda krusial yang patut sedini mungkin untuk diselenggarakan.

Mengingat pentingnya agenda ini, Qureta bekerjasama dengan Yayasan Belantara pun melangsungkan Workshop & Kelas Menulis. Bertajuk “Konservasi Hutan dan Pelestarian Lingkungan di Indonesia”, Qureta dan Yayasan Belantara berusaha menginisiasi generasi muda untuk ikut serta mengkampanyekan agenda-agenda perlindungan (konservasi) alam.

“Tema tentang hutan (lingkungan) sangat penting. Karena itu, kami dari Qureta bekerjasama dengan Yayasan Belantara merasa penting untuk melaksanakan kegiatan ini. Tujuannya, memberikan pelatihan, memberikan edukasi kepada generasi muda untuk semakin sadar akan pentingnya konservasi dan isu-isu lingkungan,” terang Pendiri Qureta Luthfi Assyaukanie dalam sambutannya sekaligus membuka Workshop & Kelas Menulis, Kamis, 27 April 2017.

Berlangsung selama 3 (tiga) hari di Hotel Golden Tulip Pontianak, Kalimantan Barat, agenda ini dihadiri oleh 25 (dua puluh lima) peserta dari berbagai daerah se-Indonesia. Mereka yang hadir (sebagai peserta) rata-rata adalah pelajar/mahasiswa. Mereka tentu diharapkan sebagai pelanjut pengemban amanah dalam rangka menjaga kelestarian alam bagi keberlangsungan hidup di masa depan.

“Ini penting, terutama bagaimana kita bisa mensinergikan peran-peran dari berbagai pihak untuk kita sama-sama melindungi atau memproteksi dan melakukan konservasi lingkungan,” tambah Anggun Raras selaku pihak penyelenggara dari Yayasan Belantara.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana konservasi dan pelestarian itu harus diupayakan? Siapa-siapa saja yang harus terlibat di dalamnya?

Para narasumber di hari pertama berusaha menjawab pertanyaan tersebut secara detail. Pertama, Ronny Christianto dari Komunitas Sampan melalui materi “Perlindungan dan Konservasi Alam di Indonesia, yang mengawali bahasannya dengan menunjukkan apa yang menjadi tujuan utama dalam konservasi.

“Setidaknya ada tiga tujuan utama dari konservasi ini. Di antaranya, memelihara sistem penyangga, mempertahankan keanekaragaman hayati, serta untuk pemanfaatan lestari,” ungkap Ronny.

Sistem penyangga, dijelaskan Ronny, merupakan basis kebutuhan hidup. Bahwa dalam konservasi, hal ini perlu dijaga kelangsungan dan kelestariannya.

Adapun tujuan mempertahankan keanekaragaman hayati, ini juga penting mengingat keberagaman dari makhluk hidup itu sendiri yang masing-masing punya hak hidup yang sama, setara, tanpa harus ada yang dikucilkan sedang yang lain harus diistimewakan.

Dan yang terakhir, yakni pemanfaatan lestari. Hal ini menyangkut bahwa masing-masing makhluk hidup punya ketergantungan satu sama lainnya. Bahwa yang utama dari pemanfaatan lestari ini adalah bagaimana bijak dalam menggunakan kekayaan alam, dalam arti tidak serakah.

Selain tujuan konservasi, disebutkan pula oleh Ronny unsur-unsur konservasi. Unsur-unsur ini meliputi manusia, tempat, dan kebijakan. Salah satu saja unsur ini dinafikan, apalagi dalam agenda konservasi, bisa dikatakan konservasi tersebut gagal. Dan hal inilah yang sering ditemui dalam agenda-agenda konservasi pemerintah, seperti margasatwa, perlindungan hutan, cagar alam, cagar budaya, dan lain sebagainya.

“Jelas berbeda dengan konservasi yang dilakukan oleh masyarakat lokal. Misalnya Awig-Awig di masyarakat Lombok dan Bali, Repong Damar di Lampung, Tembawat di Dayak Kalbar. Semua unsur teranulir. Tak hanya manusianya, tempatnya, tapi juga kebijakan dari pemerintah,” tambah Ronny.

Di materi kedua, yakni “Membangun Sinergi Seluruh Elemen Masyarakat dalam Mengkampanyekan Pelestarian Hutan dan Alam di Indonesia”, mengutamakan peran serta dari berbagai elemen masyarakat. Dua pembicara dari Yayasan Belantara, yakni Santiaji Wijaya dan Rio Rovihandono, sama-sama menegaskan bahwa masyarakat lokal, pelajar/mahasiswa, hingga pemerintah, diharapkan kontribusinya dalam rangka perlindungan alam ini.

Masyarakat lokal dengan kearifan lokalnya, pelajar/mahasiswa dengan penelitian studinya, dan pemerintah dengan regulasi-regulasi kebijakannya.

Di akhir sesi hari pertama ini, berbagai renungan diwartakan pula oleh narasumber untuk kemudian ditindaklajuti para peserta. Di antaranya seperti siapa yang harus jadi target dari konservasi; apa yang hendak dicapai dalam konservasi; dan mungkinkah masyarakat bisa sejahtera dengan adanya program konservasi alam ini.

Terlepas dari, adalah niscaya untuk mengatakan bahwa kesepakatan perlindungan (konservasi) alam tak lain adalah untuk kesejahteraan bersama itu sendiri.