Indonesia sudah berusia 72 tahun. Beranjak senja umurnya. Jika idealnya manusia semakin tua semakin dewasa ilmunya dan semakin bijaksana, begitupun seharusnya negara. Apakah negara ini semakin dewasa? Apakah negara ini semakin bijak? Pertanyaan yang mudah dijawab, tetapi sulit mendapatkan persetujuannya dari orang lain.

Mudahnya saya menjawab bahwa negara ini tidak berkembang dewasa. Tetapi jawaban ini akan disangkal dengan mudahnya juga oleh orang yang mengatakan bahwa “negara ini semakin maju”, “ekonomi Indonesia meningkat”, “rakyat kita saya kira sudah semakin cerdas”, dan kata-kata yang lain yang menggambarkan bahwa keadaan negara ini “makin baik”.

Saya tidak tahu ukuran apa saja atau tanda seperti apa yang digunakan untuk mengatakan bahwa keadaan negara ini makin baik. Tetapi saya melihat dengan kacamata orang biasa, kacamata wong cilik. Melalui kacamata itu saya melihat keadaan tidak semakin bertambah baik.

Bolehlah pemerintah mengatakan keadaan negara ini makin baik dengan dibangunnya banyak infrastruktur seperti jalan tol, bandara, hingga tol laut. Pusat-pusat perbelanjaan modern seperti mall juga semakin marak. Sehingga berimplikasi ke distribusi perekonomian yang meningkat. 

Jangan lupa, itu semua adalah pencapaian materil yang mempunyai ekses atau efek samping yang sifatnya tak kentara, seperti efek moral atau psikologi masyarakat. Misalnya dengan dibangunnya bandara baru di Kulonprogo, itu pasti mempunyai dampak mental yang mengubah masyarakat Yogyakarta.

Dengan dibangunnya bandara baru, pasti akan dibangun pula pusat perbelanjaan di sekitar bandara tersebut, yang ini sedikit banyak akan mengubah masyarakat Yogyakarta yang sederhana menjadi agak konsumtif. Padahal untuk Kota Yogya sendiri, pusat-pusat perbelanjaan sudah sangat banyak. Masalah konsumtif ini terkait antara mental dan ekonomi.

Jika kita mendirikan infrastruktur atau sebuah perusahaan mestinya ada analisis dampak lingkungan (AMDAL). Menurut Wikipedia, AMDAL adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan tentang penyelenggaraan usaha atau kegiatan di Indonesia.

AMDAL ini dibuat saat perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan pengaruh terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Yang dimaksud lingkungan hidup disini adalah aspek abiotik, biotik, dan kultural. Apakah “manusia” sudah masuk dalam definisi ini?

Dalam definisi AMDAL sudah sedikit menyinggung aspek kemanusiaan, yakni kultur, tetapi dalam kenyataannya tidak dilakukan. Itulah yang membuat saya membuat istilah baru, AMDAM, agar “manusia” sudah kelihatan sejak dalam kalimat dan pengertian. Lebih tegas sejak dalam literasi. Sehingga kemudian diaplikasi.

Saya yakin hal itu sudah dilakukan. Mengingat proyek itu sudah berjalan dan pemerintah setempat pun mengizinkan pendiriannya. Tetapi jangan lupa, analisis dampak manusia juga harus diperhitungkan matang. Justru inilah yang paling penting. Bukan berarti alam itu tidak penting, sehingga ditaruh setelah dampak manusianya.

Kepentingan kemanusiaan itulah yang harus dipertanyakan sebelumnya. Jangka pendek dan jangka panjangnya. Apakah proyek-proyek tersebut itu memanusiakan manusia? Atau malah jangan-jangan proyek dehumanisasi?

Tidak hanya di Yogyakarta, kita lihat di daerah lain sekarang banyak proyek infrastruktur didirikan, misalnya reklamasi, Meikarta, jalan tol, dan lain-lain. Mayoritas proyek infrastruktur didirikan, hanya mengandalkan AMDAL sebagai kajian sebelum dilakukan pembangunan. Meikarta di Bekasi dan reklamasi teluk Jakarta misalnya.

Proyek besar-besaran itu sudah menelan biaya tidak hanya milliaran, bahkan triliunan. Dengan tanah seluas ribuan hektar yang akan dibangun kota baru. Yang katanya, jika reklamasi teluk Jakarta akan mengurangi beban Jakarta sebagai Ibu kota sedangkan Meikarta akan mengurangi beban Bekasi dan Cikarang sebagai kota industri yang padat penduduk.

Reklamasi diteruskan dengan hanya mengandalkan AMDAL, dan menurut perspektif AMDAL ini, reklamasi tidak memberikan efek berbahaya bagi alam Jakarta. Tentu ini “versionable”, ada yang mengatakan efek samping alamnya akan banyak. Seperti kondisi tanah yang makin menurun.

Manusia di sekitar lokasi itu bagaimana kabarnya? Apakah semakin susah mencari ikan atau tidak (karena penduduk daerah sekitar teluk mayoritas nelayan)? Apakah proyek itu ramah pada wong cilik yang setiap hari berpendapatan pas hanya untuk makan sehari? Apakah proyek ini akan mengubah kultur masyarakat betawi dari yang sederhana menjadi hedonis.

Pertanyaan kritis yang sifatnya analisis dampak manusia inilah yang tidak dilakukan oleh para pengembang. Karena memang tujuannya keuntungan materil saja. Tentu saja, pemerintah yang menyetujui proyek itu dilaksanakan juga tidak memperhatikan dampak kultur dan mental masyarakat Jakarta.

Proyek-proyek itu didirikan untuk apa? Untuk siapa? Bagaimana dampak manusianya? Adalah pertanyaan yang sepertinya sudah tenggelam dan basi untuk dipertanyakan. Isu pro kontra reklamasi pun sudah hilang pada media mainstream kita sekarang. Tertelan oleh isu-isu baru yang hadir.

Sepertinya inilah yang mungkin dinamakan pengalihan isu. Saya tidak tahu proyek ini terus berlangsung atau berhenti. Kita tahu isu reklamasi itu isu kontroversial, menyangkut hajat hidup orang banyak. Media mainstream seharusnya terus menayangkan perkembangannya agar masyarakat Indonesia keseluruhan bisa mengikuti perkembangannya.

Kemudian jika ada apa-apa yang menyangkut danger, masyarakat Indonesia secara keseluruhan bisa bergerak, membantu saudara-saudara kita di tanah betawi sana. Tetapi yang terjadi sekarang adalah penenggelaman isu, masyarakat dibuat buta dengan apa yang terjadi di teluk Jakarta.

Sekali lagi, proyek-proyek itu didirikan untuk apa? Untuk siapa? Bagaimana dampak manusianya? Mana yang benar: manusia untuk proyek atau proyek untuk manusia? Pilih AMDAL tanpa AMDAM atau pilih AMDAM yang lalu diikuti AMDAL?