Jika satu saat Anda tiba-tiba mengetahui bahwa Anda tidak masuk “lingkar hijau” salah seorang teman Anda, apa yang akan Anda pikirkan kemudian? Apakah Anda merasa kecewa? Ataukah Anda merasa biasa-biasa saja?

Apakah tiba-tiba atas peristiwa tersebut pikiran Anda menjadi begitu cemasnya? Khawatir teman Anda tidak lagi menganggap Anda “teman dekatnya”? Begitukah?

***

Instagram dengan fitur close friend-nya terkadang bisa menjadi buah simalakama. Kita bisa memilih sekian follower kita menjadi hanya segelintir orang saja. Segelintir orang inilah yang kemudian masuk dalam kategori “lingkar hijau” atau “teman dekat” di Instagram.

Dalam lingkar hijau tersebut, kita sering kali merasa lebih nyaman ketika mengunggah sesuatu yang sifatnya lebih personal. Dapat juga disebut: bukan konsumsi publik. Misal hobi tersembunyi kita, curhat atau keluhan dari masalah kuliah hingga masalah negara, dan banyak lainnya.

Terdapat banyak cara memilih close friend. Ada yang sekadar pernah bertegur sapa di Instagram, lantas bisa masuk ke dalam lingkar hijau seseorang. Ada juga yang harus kenal, misal selama beberapa bulan terlebih dahulu hingga kemudian “diperbolehkan” untuk bergabung menjadi close friend.

Cara-cara tersebut, bagi saya, sama benarnya dan sama-sama sah dilakukan. Setiap orang memiliki hak untuk menentukan cara apa yang dapat ditempuh untuk menyusun anggota dalam lingkaran hijaunya.

Dan tentu saja, konsep “teman dekat” sendiri sangatlah cair dan beragam. Setidaknya, tidak ada definisi yang betul-betul saklek atau ilmiah terkait frasa tersebut. Sehingga, setiap orang dengan pengalamannya masing-masing dapat memaknai “teman dekat” sesuka hatinya saja.

Tapi, di sinilah titik permasalahannya bermula. Atas keragaman kesan terhadap “teman dekat” tersebut, sering kali kita hendak menjadikannya tafsir tunggal. Satu tafsir saja. Dan tafsir kitalah yang harus benar.

Salah satu tafsir yang cukup berbahaya ialah ketika pemahaman kita mengenai teman dekat justru menjadi sangat sempit dan terbatas. Terlalu formalistis. Semenjak adanya fitur close friend Instagram, makna teman dekat menjadi hanyalah sekedar lingkaran hijau. Tidak masuk lingkaran hijau seseorang, tandanya adalah kita bukan teman dekatnya.

Bukankah tafsir/pola pikir ini sangatlah tidak manusiawi? Sejak kapan teman dekat dan bukan teman dekat hanya semata-mata diukur dari fitur Instagram? Relakah hubungan kemanusiaan kita tiba-tiba dikecilkan sedemikian rupa dalam kungkungan algoritma yang sama sekali tidak kenal kemanusiaan itu sendiri?

Apabila jawabannya adalah “iya”, maka telah jelas terjadi dehumanisasi di sini. Manusia dan perasaannya yang begitu kompleks direduksi menjadi sekadar algoritma komputer. Padahal, ada begitu banyak alasan yang sangat sulit diterka secara tepat ketika seseorang tidak memasukkan kita ke dalam lingkaran hijaunya.

Sangat manusiawi memang ketika kita terkadang merasa aneh. Misal, sehari-hari bertemu dan bercengkerama, tetapi kita tidak dimasukkan ke dalam lingkaran hijaunya. Namun, bagi saya, hal tersebut tetap tidak bisa menjadi pembenaran bahwa tidak masuk lingkaran hijau sama saja tidak dianggap teman dekat.

Setidaknya, berkaitan dengan fenomena ini, terdapat dua hal yang saya temukan.

***

Pertama, hendaknya kita dapat memahami bahwa ada banyak manusia yang berinteraksi dengan diri kita. Manusia-manusia yang berlainan latar belakang keluarga, lingkungan, bahkan pemikirannya.

Kita tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa walaupun kita kenal seseorang secara dekat, tidak ada jaminan kita betul-betul paham jati dirinya. Mungkin kita bisa mengetahui baju apa yang ia sukai maupun yang kerap kali ia gunakan. Namun, tetap saja yang kita ketahui lebih banyak pada tataran permukaan saja.

Ibarat gunung es di lautan, kita hanya paham puncak-puncaknya saja. Badan gunung es yang besar dan berada di bawah permukaan laut, terkadang tak terlihat bahkan mungkin tidak terjangkau sama sekali.

Bagi saya, berurusan dengan setiap manusia adalah layaknya melihat gunung es tadi. Selalu lebih banyak hal yang tidak kita ketahui daripada yang kita tahu. Selalu lebih banyak hal yang tersembunyi dalam diri seseorang daripada yang ditampakkanya.

Hal-hal yang tersembunyi itulah yang mengakibatkan beragamnya cara teman-teman dekat kita menyusun lingkaran hijaunya. Bisa jadi, ia sedang punya masalah atau perasaan tidak enak terhadap kita, sehingga kita tidak dimasukkan ke dalam lingkaran hijaunya.

Kemungkinan lainnya, mereka sedang berpikir bahwa kita sedang sibuk atau tidak bisa diganggu karena sedang mengerjakan tugas tertentu. Dengan sebab itu, mereka merasa tidak enak hati kalau merecoki kita dengan story di lingkaran hijaunya. Dan tentu saja masih banyak alasan lainnya.

Kalau demikian adanya, bukankah merasa kecewa juga tidak akan menimbulkan akibat positif apapun? Alih-alih merasa kecewa, bukankah seharusnya kita merasa lebih empati? Bukankah akan menjadi egoistis kalau kita hanya memikirkan kepentingan diri sendiri?

***

Kedua, pola pikir penuh kekecewaan akan mudah mengantarkan kita pada pola pikir serba menuntut orang lain. Orang lain harus begini terhadap saya. Orang lain tidak boleh begitu terhadap saya.

Kita jadi serba mengurus orang lain sampai lupa mengurus diri sendiri. Kita terpancing untuk terus menuntut kawan kita tanpa pernah berpikir untuk menuntut diri kita sendiri. Akibatnya, kita mengharuskan teman-teman terdekat kita untuk memasukkan kita ke dalam lingkaran hijaunya.

Bukankah tanpa sadar hal itu merupakan satu bentuk keegoisan tersendiri?

Selain egois, pola pikir serba menuntut tidaklah baik bagi kesehatan mental kita. Anda bisa bayangkan, lebih mudah mana, apakah mengatur 7 milyar pikiran orang lain atau mengatur 1 pikiran sendiri?

Tentu jumlah manusia yang kita kenal sekarang tidak sebanyak 7 milyar itu, tapi poinnya adalah selalu lebih mudah mengatur pikiran sendiri daripada mengatur pikiran orang. Selalu lebih mudah berurusan dengan kepala sendiri daripada kepala orang lain.

Rocky Gerung, dalam salah satu kesempatan, pernah berujar, “Kalau tidak suka orang bicara, tutuplah telingamu. Jangan bungkam mulut orang.”

Dengan demikian, poin yang hendak saya tekankan ialah mari berhenti menuntut orang agar menganggap kita sebagai teman dekatnya. Baik teman dekat dalam arti sebenar-benarnya atau teman dekat dalam arti close friend Instagram.

Bebaskanlah orang untuk memandang Anda sebagai apapun sesuai kehendak nuraninya. Jangan paksa orang untuk menganggap Anda adalah sahabat sejatinya. Pemaksaan itu justru pelan tapi pasti akan mengakibatkan sakit mental pada diri Anda sendiri.

Anda akan merasa insecure, tidak percaya diri, atau bahkan mulai tidak percaya orang-orang terdekat Anda. Bukankah ini membuat situasi kian buruk bagi kehidupan sosial Anda?

Sebaliknya, kita selalu punya pilihan untuk tidak mengatur dan memaksa orang lain. Marilah ambil kesempatan berharga itu. Semata-mata, ketika kita menolak untuk menuntut orang, sejatinya kita sedang peduli pada kesehatan mental kita sendiri.

Dengan berhenti memaksa, kita akan berhenti merasa terbebani.

***

Mari mengubah pola pikir. Kita bisa menganggap siapa pun orang yang berinteraksi dengan kita sebagai teman dekat, tanpa perlu merasa terbebani untuk memasukkannya ke dalam lingkaran hijau itu.

Selamanya kita akan kesulitan apabila hendak mengontrol pikiran orang (bahkan sahabat terdekat sekalipun) agar menganggap kita sebagai teman dekatnya. Teman dekat pun maknanya sangatlah luas. Adalah sebuah kekeliruan, apabila menganggap teman dekat hanya sebatas lingkaran hijau.

Jangan pernah kita dibuat kecil hati apabila satu waktu kita tahu bahwa tidak ada nama kita dalam fitur close friend sahabat kita. Sisipkan selalu pertimbangan bahwa makna teman dekat lagi-lagi begitu beragam dan tak bisa dipersempit dalam batasan algoritma belaka.

Bisa jadi ia sedang tidak ingin diganggu oleh kita atau mungkin ia merasa tidak enak hati apabila justru lingkaran hijau itu berpotensi menambah beban pikiran kita. Akhirul kalam, mari melatih diri kita untuk berteman dengan siapa pun dan mengurangi keinginan kita untuk memaksa perasaan siapa pun.