Seberapa pentingkah ikut pelatihan menulis? Sekarang  ini banyak bertebaran pelatihan menulis secara daring (online). Memanfaatkan aktivitas  akibat pandemi korona  yang mengharuskan untuk berdiam diri di rumah, sekarang ini  menjamur penawaran pelatihan menulis. Pertanyaan krusial yang mesti dijawab adalah apakah semudah itu menjadi penulis?

Menulis adalah ketrampilan dan semua jenis ketrampilan tak bisa jika hanya dikuasai dengan cara mengetahui segala teori tentangnya karena yang lebih penting adalah melakukannya setiap saat secara teratur. Kalau orang sana mengatakan learning by doing.

Banyak sekali orang yang ingin atau bercita-cita agar bisa menjadi penulis,  tetapi tak sekalipun dalam sehari mereka berusaha membuat tulisan. Sama halnya dengan berkeinginan bisa main sepakbola tapi tak sekalipun belajar menendang bola. Jelas tak kan pernah bisa. Ini adalah kesalahan pertama orang yang pernah mengikuti sekolah menulis.

Menulis membutuhkan latihan karena tak ada orang yang serta merta langsung bisa menulis ratusan kata. Pertama,  ia pasti harus belajar membuat kalimat dengan cara memilih-milih kata. Satu kalimat biasanya mempengaruhi kalimat selanjutnya. Kemampuan memilih kata ini akan kaya jika orang tersebut banyak membaca.

Bagaimana kita memilih kata dengan baik dan enak dibaca? Analoginya sederhana saja. Apakah kita bisa langsung lihai memilih pakaian jika kita tak pernah melihat orang lain berpakaian? Itulah pertanyaan sederhananya. Kita pasti kesulitan memilih pakaian yang sesuai jika kita sendiri belum pernah melihat yang sesuai itu seperti apa.

Untuk bisa dan lihai memilih kata pun demikian. Syaratnya, kita harus sering membaca tulisan orang lain. Dengan sering membaca, kita akan lebih akrab dengan gaya bahasa orang lain dan tentunya perbendaharaan kata-kata kita juga makin meningkat.

Kebiasaan membaca ini akan merekam segala kata ke alam bawah sadar kita sehingga pada waktunya nanti akan muncul saat kita menuliskannya. Jika kita tidak banyak membaca,  kecil kemungkinan kita akan bisa memilah dan memilih kalimat yang baik itu seperti apa.

Membaca bisa membuat kita lama kelamaan mempunyai kepekaan rasa tentang kekacauan sebuah kalimat. Pada suatu waktu karena kebiasaan membaca yang teratur,  daya kritis kita akan sebuah kalimat tumbuh seiring dengan intensitas membaca kita. Ini bisa menjadi salah satu sebab  yang memicu kita untuk menulis karena merasa tidak sepaham dengan yang kita baca.

Membaca juga membuat kita bisa memahami ciri gaya tulisan dari penulis lain sehingga kita bisa membuat tulisan kita lebih berciri khas karena kita tahu gaya dari penulis lainnya saat kita membaca karyanya.

Setelah kebiasaan membaca kita meningkat, secara otomatis akan ada dorongan dari dalam diri kita untuk berbagi pemahaman tentang suatu hal. Kita jadi ingin menuliskan pendapat kita sendiri, Nah dalam kondisi ini kita harus memupuknya dengan membuat tulisan tiap hari.

Janganlah malas untuk membaca karena malas membaca adalah kesalahan kedua yang dimiliki oleh seseorang yang ingin menjadi penulis.

Setelah rajin membaca, lantas  tema  seperti apakah yang bisa kita tulis? Sederhana saja, Kita bisa menceritakan kembali buku yang sudah klita baca atau ide yang lain yang biasanya akan kita temui setelah menghabiskan satu buku. Atau jika mengalami kesulitan, menulislah tentang sesuatu yang Anda bisa dan kuasai. Atau bisa juga menuliskan perjalanan peristiwa dalam sehari.

Kebiasaan menulis buku diari kadang juga bisa menjadi alternatif lain agar ketrampilan menulis kita makin berkembang. Dan jangan takut salah karena menulis dengan persaan takut salah biasanya membuat penulis terbebani yang ujung ujungnya idenya menjadi buntu tak mengalir. (Sudah sering saya alami, lanjutkan saja nanti disunting lagi)

Macam-macam tulisan yang bisa kita buat, baik itu satra, esai populer, atau makalah akademis. Semua genre tersebut memerlukan bahan yang tidak sedikit yaitu bahan bacaan. Membaca lintas ilmu akan memperkaya pengetahuan secara beragam dan itulah bahan-bahan tulisan kita nanti.

Jika menengok uraian di atas, masihkah kita memerlukan kursus menulis untuk menjadi penulis yang hebat? Anda bisa menyimpulkan sendiri. Semua penulis buku best seller bukan hasil dari pelatihan menulis. Mereka adalah orang orang yang tekun menuangkan ide dalam secarik kertas. Mereka menulis dengan gembira tanpa dibebani perasaan bahwa tulisannya bakal laku atau tidak.

Seorang penulis adalah mereka yang mencintai aktivitas menulisnya lebih dari apapun. Bagi mereka, kepuasan batin lebih utama karena mereka beranggapan bahwa menulis adalah berbagi ide yang siapa tahu bermanfaat bagi pembacanya.

Mulailah menulis dari sekarang. Jangan menunggu dan hanya menulis karena ada event lomba atau proyek menulis yang menjanjikan keuntungan materi sesaat. Tangkaplah ide yang muncul dan tuangkanlah dalam tulisan. 

Jangan pernah membuang tulisan yang kamu anggap jelek karena itu adalah naskah yang belum jadi. Dan tidak ada barang jelek untuk sesuatu yang belum jadi.

Simpan setiap draft, baca kembali, sunting dan baca lagi. Jadikanlah aktivitas menulis draft , menyunting, dan membaca kembali sebagai sebuah kebiasaan yang menyenangkan. Dan inilah sesungguhnya yang disebut dengan belajar menulis.  

Nah menulis itu keterampilan dan segala keterampilan perlu latihan agar nanti efeknya terasa. Selamat mencoba!