Dua minggu lalu dunia maya sedang dihebohkan dengan adanya video viral yang menampilkan artis sekaligus youtuber Baim Wong sedang memarahi seorang bapak tua, kakek Suhud namanya. Menurut video yang beredar diketahui jika kakek Suhud mengikuti Baim Wong lalu meminta uang padanya. “Kerja, jangan ngemis!” begitu sepenggal kata yang diucapkan Baim ke pak tua itu.

Miris. Begitu arogannya kalimat tersebut terlontar, padahal dalam kanal youtubenya terlihat dia seperti “menjual” kaum-kaum miskin seperti pak tua tadi untuk menghasilkan pundi-pundi adsense. Lalu apa boleh kita menyebut bahwa yang dilakukan Baim Wong tadi sebagai bentuk nyata kacang lupa kulitnya?

Kalau saja konten-konten yang dibuat tidak “menjual” kisah sedih dari orang miskin, mungkin kakek Suhud tidak akan secara gamblang berani meminta uang padanya. Sadar atau tidak, saat ini kaum miskin telah menjadi objek bagi content creator bukan hanya Baim Wong untuk mendatangkan rezeki.

Bukan tanpa alasan para content creator banyak menyajikan konten seperti itu. Tentu saja karena ada pasarnya, banyak peminatnya, terutama netizen Indonesia. Fenomena ini didukung sebuah laporan World Giving Index oleh Charities Aid Foundation (CAF) tahun 2021 yang menobatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan.

Pada tahun 2021 Indonesia mendapatkan skor indeks secara keseluruhan sebesar 69%, naik 10% dari tiga tahun sebelumnya yaitu pada tahun 2018. Fakta yang cukup menarik mengingat Indonesia bukanlah negara maju yang warganya dipenuhi konglomerat. Indonesia hanya negara berkembang yang terdapat banyak kehidupan sederhana dari para warganya.

Namun ternyata hal tersebut tidak membuat warga Indonesia menjadi bakhil. Keterbatasan ekonomi tidak membatasi langkah mereka untuk berderma. Negara kita ternyata dipenuhi oleh orang yang mudah tersentuh oleh kisah sedih baik itu tentang kemiskinan, kesulitan pendidikan, maupun terkait kesehatan. Di Instagram, saya mengikuti sebuah akun yang rutin mengadakan penggalangan dana untuk berbagai macam kegiatan mulai dari sedekah Jumat atau infaq masjid. Pada Instagram dengan username @dapurumma tersebut, pengumpulan sumbangan dari followersnya bisa dibilang secepat kilat.

Pada instastorynya, beliau pernah mengunggah bahwa baru berselang dua jam dari pembukaan sumbangan, dana yang terkumpul sudah mencapai delapan juta rupiah. Angka yang cukup fantastis bila mengingat singkatnya waktu, bukan?

Fakta di atas menunjukkan bahwa hati masyarakat Indonesia mudah tersentuh oleh hal-hal sentimentil semacam itu. Melihat latar belakang orang lain yang hidupnya berada dalam kesulitan, hati warga Indonesia tergerak dengan cepat. Memberikan bantuan kepada yang membutuhkan tanpa berpikir panjang.

Bukti lain yang menunjukkan kedermawanan warga kita adalah terdapat banyak organisasi yang menggalang dana dari masyarakat untuk membantu sesama yang membutuhkan seperti Kita Bisa, Aksi Cepat Tanggap, Rumah Zakat, dan lain-lain. Sumbangan warga dapat dikumpulkan melalui organisasi tersebut untuk kemudian disalurkan kepada pihak yang memiliki kesulitan ekonomi.

Menariknya, sumbangan yang terkumpul tidak pernah berjumlah sedikit. Jika kita membuka laman organisasi tersebut, sumbangan yang diberikan warga memiliki jumlah yang banyak. Melihat fakta itu, kadang saya merasa bersyukur ada hal baik yang dapat saya banggakan dari Negara ini. Tidak melulu hal buruk yang memekakkan telinga seperti korupsi, perampokan, atau tindakan kriminal lainnya.

Namun, sifat murah hati yang dimiliki warga Indonesia ternyata justru menjadi senjata bagi youtuber untuk meraup untung. Mengapa? Rupanya para content creator mampu membaca sisi sentimentil penontonnya. Mereka tau bahwa viewer di Indonesia menyukai tontonan yang menyuguhkan kisah sedih dari objek konten.

Secara spesifik, penonton Indonesia mudah tersentuh dengan tontonan yang menyuguhkan kisah kemiskinan. Jika dilihat ke belakang, sudah sejak zaman dulu Indonesia memiliki program televisi yang memuat kisah semacam itu. Ingatkah dengan program uang kaget, bedah rumah, atau orang pinggiran?

Pada saat itu, rating mereka cukup tinggi yang menunjukkan pula tingginya antusiasme penonton terhadap kisah kemiskinan di dalamnya. Mungkin hal tersebut yang kemudian diadaptasi oleh youtuber untuk menyentil sisi murah hati warga Indonesia.

Terbukti beberapa video yang memuat kisah kemiskinan seperti yang ada dalam kanal Youtube Baim Paula, Boy William, maupun Rans Entertainment memiliki jutaan views. Jutaan views tersebut berarti pundi-pundi rupiah bagi pembuat videonya. Penonton senang, youtuber pun senang!

Di atas kertas, tidak ada salahnya dengan konten semacam itu karena saat ini tidak ada peraturan yang jelas mengenai pembagian hasil bagi objek konten dan pembuatnya. Selama ada konsensus dari kedua belah pihak, semua dianggap clear. Objek konten dalam hal ini kaum miskin sepakat karena mendapatkan bantuan finansial dan pihak pembuat video sepakat memberi bantuan dengan dokumentasi.

Tapi apakah mental seperti ini akan terus bertahan dan eksis di Indonesia? Mental menjual kemiskinan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Ibarat yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Kaum miskin hanya mendapat sekali bantuan dengan liputan tentang kisah sedih mereka sedangkan si youtuber akan terus mendapatkan aliran dana ke rekening mereka seiring bertambahnya jumlah penonton. Adilkah?

Sayangnya, sisi lembut dan murah hati warga Indonesia tersebut justru turut andil pada ketidakadilan di atas. Sifat-sifat tersebut membuat kita mudah menjadi “pasar” bagi konten-konten menyedihkan macam tadi. Konten yang menjual kisah kemiskinan. Konten dibuat karena banyak pasarnya. Seperti itu konsepnya. Jadi sebenarnya perlu reformasi menyeluruh jika ingin meninggalkan mental yang saya sebutkan di atas tadi.

Baik pembuat konten, maupun penonton semua perlu berbenah untuk menghidangkan tontonan yang berkualitas dengan ide kreatif tanpa menjual kisah kemiskinan. Jika terus dibiarkan, apakah ini akan menjadi lowongan pekerjaan baru di tengah pandemi? Ketika semua orang sulit untuk bekerja dan bertahan hidup, pihak-pihak yang memiliki modal bisa mengolahnya menjadi ladang uang. “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” pepatah itu akan makin terasa benar adanya.