Beberapa hari lalu saya dihubungi seorang teman yang saya kenal saat Workshop Menulis bersama Ayu Utami. Dia sedang skripsi, mengambil topik novel Eks Parasit Lajang- Ayu Utami. Dia perlu responden dan meminta saya menjadi salah satunya. OK siap, kata saya. Akhirnya semalam kami bertemu. Di suatu kafe kecil di daerah kampus. Ditemani hidangan kelas mahasiswa dengan rasa lumayan.

Ternyata teman saya itu sedang sedih. Skripsinya sudah selesai, bagian Pendahuluan sampai Penutup sudah dibuatnya. Sayang saat konsultasi terakhir, salah satu dosen pembimbingnya meminta dia membahas novel lain, karena menganggap novel tersebut tidak pas sebagai bahan ajar anak SMA. Tentu teman saya itu meradang, sekaligus heran mengapa penggantian novel tidak dilakukan saat proposal dulu. Lebih sedih lagi, teman kuliahnya ada yang mengangkat Eks Parasit Lajang sebagai topik skripsi tentang bahan ajar SMA, tidak dilarang dan kini sudah wisuda. 

Dosen pembimbing saya, kata teman saya itu, menganggap Eks Parasit Lajang menganjurkan seks bebas. Ayu Utami tidak menganjurkan seks bebas, kata saya, meski dia menceritakan tentang seks bebas. Anak SMA belum waktunya membahas tentang seks menurut dosen saya itu, kata teman saya lagi. Terlalu maju untuk ukuran saat ini. "Bener nggak sih, Mbak?" kemudian dia bertanya pada saya dengan memelas.

Saya berpikir sejenak. Tidak tahu, kata saya. Saya awam tentang sastra, latar belakang pendidikan saya juga bukan satra, meski saya penyuka sastra. Tapi saya ingat, kira-kira 30 tahun lalu, saat saya SMA, kami membahas novel Raumanen karya Marianne Katoppo. Raumanen berkisah tentang seks bebas juga, plus akibat yang ditanggung sang tokoh karena hidup bebasnya. Dan seingat saya, pembahasan tentang Raumanen itu memang bagian dari kurikulum saat itu. Teman saya terbelalak dan tertawa bahagia mendapati fakta ini.

Kami pun lanjut berdiskusi, dan bersepakat bahwa Ayu Utami tidak menggugat nilai virginitas pranikah yang berlaku di masyarakat. Yang digugatnya adalah praktik-praktik ketidakadilan yang sering dialami banyak perempuan di tengah dominasi budaya patriarki. Yang dikisahkan dalam Eks Parasit Lajang memang bukan representasi perempuan Indonesia umumnya. Poin-poin ini saya dan dosen tidak bersepakat, kata teman saya itu.

Sastra yang baik memang seringkali multi interpretasi, kata saya. Inilah yang membedakan bahasa sastra dan bahasa hukum. Bahasa hukum mengejar kepastian, menghindari multitafsir, karena seringkali berkait dengan reward dan punishment. Sastra bicara masalah rasa, menggugah kesadaran yang bangkit dari hati. Pada akhirnya, setelah membaca sastra, seringkali seseorang tercerahkan, terbangkitkan kesadaran dan kemanusiaannya.

Mungkin inilah yang menyebabkan kenapa teks-teks suci sering ditulis dalam bahasa sastra, meski jadi rentan multitafsir. Dan bukan ditulis dalam bahasa hukum. Karena spiritualitas memang bicara tentang kesadaran manusia. Ada tidak ada hukum, ada tidak ada reward, manusia yang berkesadaran akan selalu bertindak dalam koridor kemanusiaan. Spiritualitas tidak dicapai dengan ketakutan akan adanya hukuman, dan keinginan mengejar reward

"Bayangkan bila sesuatu yang menggunakan bahasa sastra digunakan sebagai hukum positif," tambah teman saya. "Akan ada perdebatan panjang tentang tafsir siapa yang dipakai." Saya tertawa, karena diskusi ini ternyata meleber kemana-mana. "Semoga bukan tafsir dosen pembimbingmu. Dia keliatannya kurang kontekstual."

Kisah ini terjadi kira-kira tiga tahun lalu, teringat lagi oleh saya saat saya membaca Prolog buku Pembentuk Sejarah: Pilihan Tulisan Goenawan Mohamad. Prolog itu ditulis Akhmad Sahal. Menurut Sahal, hampir semua tulisan Goenawan Mohamad (GM) adalah penolakannya terhadap pemutlakan ide atau pikiran. Entah dalam bentuk ideologi, utopianisme, dogma, saintisme bahkan juga pada kategori-kategori konseptual yang mengklaim kepastian. 

GM menampik pemutlakan dan kepastian pikiran, karena baginya watak pemikiran itu sendiri mengandaikan adanya keterlibatan, pergulatan dan acuan pada realitas tertentu. Kebenaran seringkali bersifat nisbi dan sementara, sehingga tak bisa dipatok sebagai kepastian. Mengapa? Karena yang kita hadapi bukanlah sesuatu yang final, melainkan proses, berubah dalam waktu, dan membuka diri untuk bisa dipertanyakan lagi.

Dosen sastra yang melarang pembahasan Eks Parasit Lajang sebagai skripsi entah paham atau tidak makna pemutlakan ide. Bisa jadi ia hanya dihantui kekhawatiran akan maraknya seks bebas seperti kebanyakan kaum konservatif. Tapi ini membuat saya berpikir tentang banyaknya orang yang akan sulit beradaptasi dengan kemajuan peradaban. Kolot, tak bisa kompromi, berpegang teguh pada pandangan usang. Bila perlu bertahan dengan penuh amarah dan intimidasi. Mereka yang dikritik GM karena menganggap kepercayaannya adalah kebenaran absolut.

Mereka yang abai pada fakta-fakta yang terjadi. Bagaimana suatu keputusan yang diambil dapat tepat sasaran bila begitu banyak fakta diabaikan. Perempuan-perempuan yang terpinggirkan dalam relasi dengan pria memang ada. Perempuan-perempuan yang yang dirugikan karena praktek-praktek patriarki pun ada. Stigma perempuan yang tak menikah sebagai perawan tua dan stigma genit pada janda misalnya. Terus menerus menjadikan kelompok tersebut sebagai bahan bercanda bahkan sering mendapat perlakuan yang kurang baik. 

Sampai kapan hal tersebut akan berlangsung? Sampai kita mau terbuka menilai ulang nilai-nilai yang berlaku selama ini.  Mungkin dengan membuka lebih banyak peluang untuk menjadikan topik-topik di luar nilai-nilai konvensional untuk dibahas di institusi ilmiah seperti perguruan tinggi. 


Semoga Bu Dosen itu tahu....