Sepuluh, sembilan, delapan, tujuh, enam, lima, empat, tiga, dua, satu………

Selamat tahun baru . . .
Happy new year
  . . .

Suara riuh tiupan terompet diiringi dengan warna warni kembang api menghiasi langit biru. Pergantian Tahun identik dengan tiupan terompet. Berbagai macam bentuk dan model terompet akan muncul pada saat itu. Anak-anak akan memilih terompet yang sesuai keinginan hati. Suara riuh terompet menggema seantero dunia. Semua orang menyambut datangnya pergantian tahun baru.

Tidak peduli berapapun harga terompet. Bentuk terompet yang diinginkan pasti dibeli. Tidak ada kata mahal. Tidak terpikirkan oleh mereka bahwa barang ini tidak bisa digunakan lagi setelah pergantian tahun. Mereka hanya ingin melewati detik-detik tahun baru yang hanya sekali ini dengan perasaan bahagia. Sebuah perasaan yang tidak bisa diukur dengan nominal.

Itulah fenomena sebelum tahun 2021, Ketika menjelang pergantian tahun, semua bersiap untuk merayakannya. Berburu terompet  dengan berbagai pilihan. Terompet besar dengan model Xaxopone dihiasi kertas warna-warni masih menjadi idola anak-anak. Mereka siap menyambut pergantian tahun dengan terompet di tangan kanan dan kembang api di tangan kiri.

Tetapi suasana tahun baru 2021 berbeda. Tidak ada tiupan terompet. Tidak ada acara berkumpul bersama di tengah kota untuk menantikan detik detik pergantian tahun baru. Tidak ada acara menyambut tahun baru dengan menginap di tempat wisata. Tidak ada percikan kembang api mengiasi langit biru.

Banyak warga yang akan menikmati pergantian tahun dengan di rumah saja. Mereka akan menikmati pergantian tahun dengan berkumpul bersama keluarga, dengan acara bakar-bakaran di teras rumah atau sekadar menghabiskan waktu dengan menonton televisi.

Media sosial akan dibanjiri dengan ucapan selamat tahun baru. Mereka sibuk menuliskan beberapa untaian kalimat menjelang tahun baru kepada kolega. Persiapan acara virtual dengan saudara dan teman-teman sekantor sudah tersusun rapi. Gadget siap ada ditangan menunggu join pada pertemuan virtual.

Bagaimana dengan nasib para penjual terompet? Ternyata mereka sudah mempersiapkan jauh jauh hari untuk tidak mempunyai stok terompet dengan jumlah banyak. Pak Hadi, Laki laki paruh baya, yang berstatus sebagai kepala keluarga harus bisa memutar otak agar dapur tetap mengepul.

Sebagai penjual terompet biasanya di pertengahan Desember, beliau sudah memasarkan dagangannya. Bahkan setelah pergantian tahun pun mereka masih tetap bisa menjual dagangan mereka. Sehari menjelang tahun baru merupakan puncak penghasilan tertinggi yang beliau dapatkan.

Biasanya menjelang tahun baru, terompet bisa terjual tujuh puluh lima buah dengan berbagai bentuk. Mulai harga termurah tiga ribu rupiah sampai yang termahal lima puluh ribu rupiah. Nominal yang didapatkan cukup lumayan, bisa menutup kekurangan di minggu minggu sebelumnya.

Tetapi tidak untuk tahun baru 2021, suatu kondisi berbeda telah terjadi. Perekonomian tidak stabil melanda hampir pada setiap orang, terlebih juga penjual terompet. Tetapi tidak ada kata putus asa untuk berjuang hidup.

Kebijakan Pemerintah yang mewajibkan setiap orang harus menggunakan masker dalam kegiatan sehari hari, menjadi peluang usaha. Kemanapun melangkah harus menggunakan masker, sehingga setiap orang memiliki lebih dari satu masker. Semakin banyak anggota keluarga semakin banyak masker yang harus dimiliki.

Mengalihkan dagangannya dengan menjual masker membuat pendapatan keluarga tetap berlangsung. Pengahasilan yang didapat dari berjualan masker cukup lumayan. Setiap hari selalu ada pembeli. Ada pemasukan untuk keluarga. Berjualan masker menjadi solusi

Bagaimana dengan para penjual terompet lainnya? Ternyata mereka sudah bisa memprediksi bahwa omset penjualan terompet pasti menurun.  Sebenarnya omset pejualan terompet dari tahun ke tahun sudah mengalami penurunan. Tahun ini pastilah menurun sangat drastis.

Di antara mereka juga ada mengalihkan dagangannya dengan menjual mainan anak anak. Mereka yakin dengan berjualan mainan anak anak tidak akan lekang oleh waktu. Kapanpun, dimanapun dan situasi apapun tetap bisa menggelar dagangannya.

Tidak ada usaha yang sia-sia. Ternyata mereka mampu melihat situasi dan kondisi saat ini. Mereka bisa menangkap peluang usaha ditengah pandemi covid yang tidak tahu kapan berakhir.

Para penjual terompet yang beralih menjadi penjual masker dan mainan anak, masih tetap menghasilkan pundi pundi rupiah untuk keluarga.  Bagaimanapun mereka harus tetap membuat dapur tetap mengepul di tengah pandemi covid.

Cara cerdas yang mereka lakukan sungguh luar biasa. Tidak semua orang dapat mengalihkan usaha ke bentuk yang lain. Banyak orang yang masih bingung dengan pengalihkan bentuk usaha mereka.  

Di antara himpitan ekonomi, mereka harus tetap berjuang demi menghidupi keluarga. Dengan keyakinan mereka, selama kita mau bergerak, rejeki pasti menghampiri. Selama masih ada nafas, jatah rejeki dari Tuhan pasti ada. Karena setiap insan yang lahir ke dunia akan diiringi oleh aliran rejeki sampai ajal menjemput.

Bahkan Ada pepatah jawa yang mengatakan “Rejeki kui Sangkan Paraning Dumadi” yang maknanya adalah rejeki bisa darimana saja, dari siapa saja, dan kapansaja. Rejeki akan mengalir dari jalan yang tidak pernah diduga  selama kita mau berusaha. Tuhan Yang Maha Esa maha kaya yang akan melimpahkan rejeki kepada setiap umatNya.