2 tahun lalu · 6853 view · 11 menit baca · Politik wanista.jpg
Foto: wanista.com

Penjarakan Basuki!

Kunjungan Anggota Dewan Mufti Mesir, Syekh Amru Wardani, ke Indonesia tempo hari memunculkan kerusuhan baru dalam kasus Ahok yang makin hari makin memanas dan makin memantik emosi.

Sudah saya duga sebelumnya bahwa kedatangan ulama al-Azhar yang satu ini hanya akan menimbulkan kerusuhan baru dan tak akan menyelesaikan persoalan sama sekali. Alih-alih menuntaskan persoalan Basuki, ulama yang satu ini justru mendapat hujanan caci maki dari para pembela kitab suci yang saleh dan penuh teladan ini.  

Tega-teganya para pembela kitab suci itu melayangkan kata-kata sopan nan aduhai kepada ulama moderat yang satu ini. Ternyata, oh ternyata, dendam kesumat pasca runtuhnya kekuasaan Mursi tak kunjung punah dan tampaknya masih terasa hingga saat ini. Entah makhluk halus model apa yang menggelayut di balik dada mereka ini.

Mereka mengaku Azhari, tapi kebencian mereka kepada para pembesar al-Azhar seolah tak kunjung terobati. Mereka membenci al-Sisi, padahal mereka juga sadar bahwa di masa al-Sisi lah para pelajar asing itu mulai tenang dan tak merasakan kerusuhan seperti di zaman Mursi.

Mereka mengaku sebagai para pemangku Islam Wasathiy, tapi yang mereka perjuangkan sejujurnya adalah Islam Ikhwaniy yang oleh al-Azhar sendiri ditolak dan tidak diamini. Tapi itulah cerminan akhlak para pembela kitab suci. Ulama mumpuni pun dilabeli dengan kata-kata yang tak beretika sama sekali.

Singkat cerita, berkat selembaran surat MUI, Syekh Amru pun kembali merayapkan kaki ke bumi para Nabi atas instruksi Syekh Ahmad al-Thayyib, Grand Syekh al-Azhar saat ini.

Saya yakin. Mereka pasti gembira ria sekali melihat ulama itu pergi kembali. Sebab, seandainya Syekh Amru itu tahu fatwa MUI yang melarang memilih gubernur non-Muslim seperti Basuki, niscaya ulama yang Ahli fikih dan Ushul Fikih itu akan mengernyitkan dahi sambil ketawa-ketiwi.

Hanya di Indonesia saja fatwa diskriminatif semacam itu dibela sampai mati. “Pokoknya ini fatwa MUI harus kita hormati. Mereka ini adalah ulama-ulama kita yang lebih tahu persoalan yang terjadi. Sudahlah, anda jangan kurang ajar kepada ulama-ulama kami. Mereka itu adalah pewaris para nabi. Anda ini siapa? Kok berani-beraninya merendahkan MUI!” Begitulah kira-kira kicauan para pembela kitab suci manakala kita mengkritik fatwa MUI.

Memang sepertinya kita harus belajar memaklumi, karena ustaz-ustaz saleh dan penuh teladan ini tampaknya belum mampu membedakan mana ulama sejati dan mana ulama setengah politisi. Mereka belum bisa membedakan mana fatwa yang senafas dengan spiriti kitab suci, dan mana fatwa yang sarat akan ketidak-adilan dan diskriminasi.

Maklum saja kalau mereka kebakaran jenggot manakala ada orang-orang yang berani “merobek” lembaran fatwa MUI. Karena bagi mereka MUI itu adalah kumpulan ulama-ulama sejati. Fatwa mereka pokoknya harus dijadikan rujukan secara pasti. Sebab, fatwa mereka ini adalah fatwa yang—meminjam ungkapan al-Quran—la ya’tihi al-Bathil min baini yadaihi wa la min khalfihi (kitab yang tidak ada kabatilan nya sama sekali).

Kalau anda berani mengkritik fatwa suci buatan mereka ini, hati-hati, seketika itu juga anda akan dipandang sebagai Muslim edan yang tak hormat kepada para pewaris Nabi. Kalau anda berani sedikit saja mencubit fatwa MUI, mereka akan segera menuduh anda sebagai Muslim bejat yang tak beretika sama sekali.

Itulah kira-kira sekilas mengenai potret kecerdasan umat Islam saat ini. Ulama yang suka marah-marahan dan menebar diskriminasi dipandang sebagai ulama sejati yang tak boleh diingkari, sedangkan ulama yang suka menebar kedamaian dan keteduhan dipandang sebagai ulama sesat dan tak dihiraukan sama sekali. Cerdas sekali memang saudara-saudara kita ini.

Orang yang sudah jelas-jelas melayangkan hukum mutilasi kepada Basuki bagi mereka adalah ulama sejati. Alasannya mudah: karena dia termasuk atasan MUI. Orang yang mengatakan kasus pengeboman di Samarinda sebagai pengalihan isu Basuki bagi mereka adalah ulama sejati. Alasannya sederhana: karena orang yang berkata adalah orang MUI.

Kala Basuki “menghina” satu petikan ayat suci mereka tampil berbondong-bondong sebagai para Mujahid sakti yang sudah rela hati jika kelak terbaring mati. Tapi kala mendengar ada pengeboman yang menewaskan anak tak berdosa, entah kenapa, nurani mereka seolah redup dan suara mereka tak terdengar sama sekali. Inikah contoh ulama sejati yang patut dijadikan teladan di negeri ini, wahai para pembela kitab suci? 

Betapa lucunya ulama sejati panutan kita ini. Mereka ngotot ingin menuntut Basuki, tapi giliran gereja di bom dan anak kecil terbunuh mereka seolah tak peduli sama sekali. Tak terpikir bagi mereka untuk demo membela anak kecil terbunuh seperti demo pembelaan kitab suci tempo hari. Tak ada juga kicauan dari mereka yang setidaknya menunjukan rasa empati tinggi kepada keluarga korban yang hatinya mungkin terlukai.

Tapi tak perlu heran, soalnya bagi mereka gereja itu adalah tempat berteduh bagi orang-orang kafir yang menjadi kandidat penghuni neraka di hari nanti. Dan karena gereja merupakan tempat berteduh orang kafir, maka ketika ia dihancurkan kita tak perlu bersedih hati.

Soal ada anak mati ya biarkan saja. Toh dia sudah mendapatkan garansi surga dan dia juga pasti kembali kepada Penciptanya dalam keadaan rida dan diridai. Sudah. Kita jangan gagal fokus menghadapi masalah besar yang tengah menghancurkan Agama ini!

Kita harus mengerahkan seluruh daya, upaya bahkan kalau perlu nyawa kita untuk mengawal kasus Basuki yang sudah menghina kitab suci. Karena ini lebih mulia dan suci, ketimbang mengurusi gereja yang bukan milik kita sendiri.

Pokoknya kita ingin agar orang ini segera dibui. Dan setelah orang ini dibui, tidak apa-apa, biarkan saja wajah Agama ini dipandang buruk oleh orang-orang non-Muslim, terutama umat Kristiani. Mereka mau memandang baik ataupun buruk tak ada gunanya sama sekali. Karena toh mereka ini adalah calon penghuni nereka di hari nanti.

Yang penting Basuki di bui. Atau, paling tidak, dia kalah dalam kontes Pilkada nanti. Biar Anies dan Agus saja yang boleh bertahta di DKI. Karena mereka Muslim. Dan seburuk-buruknya Muslim adalah sebaik-baiknya orang “kafir” seperti Basuki. Apalagi al-Maidah 51 sudah jelas melarang orang-orang non-Muslim untuk dijadikan pemimpin, termasuk menjadi pemimpin di DKI.

Tidak usah pikirkan konstitusi. Sudah. Yang penting kita mentaati perintah kitab suci. Konstitusi itu buatan manusia, sementara kitab suci itu buatan Tuhan Yang MahaTinggi. Mendahulukan konstitusi daripada kitab suci itu adalah kufur tingkat tinggi.

Ayat al-Qurannya sudah jelas sekali: "Barang siapa yang tak berhukum dengan hukum Allah maka dia termasuk orang-orang kafir” (QS: [5]: 44). Ayatnya di al-Maidah lagi. Ah. Sudah. Kalau menggunakan ilmu cocokologi, kokohlah sudah keyakinan kita bahwa orang “kafir” seperti Basuki memang tak boleh dijadikan pemimpin di negeri ini, apalagi untuk mengurus DKI.

Tidak perlu taat kepada konstitusi. Karena kita sudah memiliki kitab suci. Kalau perlu nanti konstitusi pun kita rubah secara perlahan dengan butiran ayat suci. Semoga saja kalau konstitusi itu dirubah dengan butiran ayat suci, negeri ini akan aman dan maju seperti zaman Abu Bakar, Umar, Utsman dan ‘Ali. Bukankah kita semua merindukan negeri seperti yang dipimpin oleh mereka-mereka ini?

Lihatlah, saudara-saudara yang beriman, betapa derasnya kedunguan di negeri ini. Betapa banyaknya orang yang beragama dengan kulit, tapi tak mampu mengunyah isi. Betapa banyaknya orang yang mudah mengutip ayat suci, tapi mereka tak mampu memberikan kedamaian sejati.

Betapa banyaknya orang yang memiliki gairah keislaman tinggi, tapi mereka tak peduli dengan keutuhan NKRI. Betapa banyaknya orang yang mendaku sebagai para pembela kita suci, tapi giliran anak kecil terbunuh, dan gereja terbakar, para pembela kitab suci yang penuh teladan ini hampir tak bersuara sama sekali.

Padahal al-Quran jelas-jelas mengutuk keras perbuatan semacam ini. Tapi mengapa mereka tidak berkoar-koar padahal tindakan seperti inilah yang sejujurnya bertentangan dengan kemuliaan kitab suci? Yang ada kejadian tersebut malah diyakini sebagai pengalihan isu Basuki!   

Fenomena ini semakin menunjukan bahwa keindahan Agama ini mulai gagal dikunyah oleh para pemeluknya sendiri. Banyak orang yang hafal ayat suci, tapi mudah mengobral kata kafir kepada saudara sendiri. Banyak orang yang rajin berzikir, tapi mudah sekali menebar kata-kata benci. 

Lucu sekali. Ustaz-ustaz saleh dan penuh teladan ini seringkali meneriakan kata-kata kafir kepada orang-orang non-Muslim, tapi dalam saat yang sama, mereka sendiri lupa bahwa tindakan mereka itulah sebetulnya yang menyuburkan kemurtadan di negeri ini.

Terus terang, selama ini saya banyak menerima pesan yang mengeluhkan sikap para Pemuka Agama di negeri yang kita cintai. Baik dari umat Muslim, maupun dari umat Kristiani. Mereka kesal dengan kelakuan saudara-saudara kita ini.

Ekspresi kekesalan mereka cukup beragam dan pada akhirnya saya belajar banyak dari mereka-mereka ini. Yang paling terkini, sekitar dua hari yang lalu saya menerima pesan dari salah seorang kawan. Dia berterus terang begini:

“…Jujur aku lebih bahagia dan ngerasa lebih damai ketika aku gak beragama. Iya aku tau, Islam itu indah, tapi realita yang aku lihat justru kebalikannya. Justru temen-temenku, para Scientist dan Researchers yang kebanyakan atheist, mereka lebih waras dan humanis daripada yang mengaku beragama…”

Ada juga yang pernah mengirim pesan seperti ini: “…Sejujurnya mas, karena kasus Ahok, awalnya saya malah semakin benci Islam dan ingin masuk Agama lain. Bahkan teman saya bilang saya goblok dan tak tahu arti al-Quran jika membela Ahok…”.

Selain dua pesan ini masih banyak pesan yang lain lagi. Saya tak mungkin melampirkan semuanya di sini. Ini hanya sekadar bukti saja barangkali ada di antara ustaz-ustaz yang meragukan apa yang saya sampaikan tadi.

Sekarang izinkan saya bertanya kepada para pembela kitab suci: Apa kira-kira kesan yang pertama kali mendarat di kepala anda ketika menyimak pesan-pesan semacam ini?

Orang yang pura-pura waras tentu tak akan peduli. Tapi, setidaknya kalau kita masih dianugerahi setetes kewarasan kita akan merasa malu dan berupaya untuk memperbaiki wajah Agama ini dengan apa yang kita miliki.

Itupun kalau kita masih peduli. Kalau tidak ya sudah biarkan saja. Hitung-hitung kita menyuburkan kemurtadan di negeri sendiri. Kita kan lebih mementingkan urusan politik ketimbang mendakwahkan Agama sendiri. Kita kan lebih memilih memenjarakan Basuki ketimbang memperbaiki wajah Agama ini.    

Masih beranikah anda menuduh Basuki kafir sementara anda sendiri telah menyuburkan kemurtadaan di negeri ini? Masih sudikah anda berkoar-koar meneriakan dia sebagai penista kitab suci padahal anda sendiri tidak peduli dengan aksi-aksi teror yang jelas-jelas menodai kesucian Agama ini?  

Apa sebetulnya yang anda inginkan selama ini? Mau membela kitab suci apa melampiaskan syahwat politik yang keji? Mau membela kitab suci apa mau melukai hati saudara sendiri? Mau membela kitab suci apa berharap Agus-Anies menang dalam kontes Pilgub DKI? Mau membela kitab suci apa berharap Jokowi lengser dari kekuasaannya saat ini?

Tidakkah para pembela kita suci yang saleh ini malu dengan lantunan ayat suci yang mereka baca setiap hari? Tidakkah mereka malu dengan akhlak Nabi Muhammad yang welas asih dan pemaaf kepada orang-orang yang pernah bertahun-tahun membuatnya sakit hati?

Tidakkah mereka malu dengan gelar keulamaan yang mereka terima dari masyarakat secara gratis tanpa dibeli? Tidakkah mereka khawatir akan perpecahan yang lebih besar jika hal semacam ini terus dibiarkan terjadi?

Halo ustaz-ustaz MUI, FPI, HTI, PKS, Wahabi, yang kami hormati, kami minta pasang nurani anda saja untuk masalah ini. Di mana suara anda ketika Gereja dibom sampai hancur dan anak kecil terbunuh serta terlukai? Di mana rasa keadilan anda ketika anda menuduh Basuki sebagai musuh Islam dan penista kitab suci padahal dia sendiri sudah minta maaf dan tak bermaksud sama sekali?

Di mana suara anda ketika salah seorang atasan MUI mengutip hukum mutilasi depan tivi padahal hukuman tersebut tak pantas dilayangkan kepada orang seperti Basuki? Tidakkah anda memandang orang yang melayangkan hukum bunuh itu juga sebagai penista kitab suci?

Atau memang anda sengaja memelihara orang-orang semacam ini di MUI demi menyuburkan intoleransi dan kebencian di negeri yang kita cintai? Jangan salahkan masyarakat ya kalau kelak tidak akan ada lagi yang percaya dengan MUI.

Salah anda sendiri memelihara orang-orang seperti tadi. Sudah error, dijadikan atasan lagi. Ya sudah. Hilanglah sudah wibawa MUI. Saya yakin, masih banyak masyarakat Indonesia yang waras dan memiliki nurani. Dan mereka tentu tak akan pernah sudi melihat Agamanya tercoreng dengan prilaku orang-orang semacam ini.

Saya tidak mau menyebut merek. Karena kalau saya menyebut merek, ulama-ulama sejati ini pasti marah-marahan, merasa tersinggung, dan ujung-ujungnya bisa-bisa saya dituduh menistakan ulama, seperti yang dialamatkan kepada Basuki. 

Saya heran sampai sekarang ini. Apa sebetulnya yang mendorong ulama-ulama sejati ini ngotot menuduh Basuki sebagai penista kitab suci dan ingin menjebloskannya kedalam bui padahal dia sendiri hanya “terpeleset” satu kali?

Andai kata orang-orang Ateis yang kadang otaknya lebih canggih itu memerhatikan kelakuan para Pemuka Agama kita ini, paling-paling mereka hanya ketawa-ketiwi sambil mengerenyitkan dahi. Kok, bisa ada orang beragama tapi cara berpikirnya dangkal sekali. Terlalu murah tuduhan penistaan kitab suci itu untuk dilayangkan kepada Basuki. Kecuali kalau Basuki menginjak, merobek, meludahi atau membakar kitab suci, baru itu namanya penistaan kitab suci.

Dan kalau itu terjadi, anda boleh kerahkan seluruh masyarakat Muslim Indonesia, termasuk saya, untuk membaringkan Basuki di atas papan konstitusi. Tapi kalau hanya kaya kemarin. Aduh. Anda ini ko mudah sekali terprovokasi.

Coba pikir sekali lagi. Orang cuma salah bicara dan sudah minta maaf tapi tuntutannya setengah mati. Orang cuma kepleset satu kali tapi didemo sampai meneriakan kata-kata anj**g ba*i. Apa sebetulnya maunya anda ini?   

Anda puas ketika Basuki sudah ditetapkan sebagai tersangka seperti berita yang beredar sekarang ini? Anda puas ketika elektabilitas Basuki hancur hanya karena ketidak-adilan yang anda lakukan selama ini? Anda puas jika Anies-Agus menang dalam Pilkada nanti dan Basuki dijebloaskan ke dalam bui? Betulkah anda puas dengan semua ini wahai para pembela kitab suci?

Hmm, baiklah kalau begitu. Sudah, mulai sekarang penjarakan saja Basuki kalau memang nurani anda sudah terpenjara dalam jeruji kebencian kepada sesama hamba Yang Mahasuci. Penjarakanlah Basuki jika anda memang betul-betul berharap agar Agama kita dipandang sebagai Agama kezaliman yang sarat dengan rasa benci.

Penjarakanlah Basuki jika anda rela Agama yang dulu diperjuangkan Nabi Muhammad itu dinilai sebagai Agama yang miskin toleransi. Penjarakanlah Basuki jika anda rela NKRI yang dulu dibangun dengan kucuran darah dan keringat ini dikuasai oleh orang-orang tengil yang suka merasa benar sendiri.

Penjarakanlah Basuki jika memang di hati anda sudah tak tersisa lagi rasa empati. Penjarakanlah Basuki karena dia itu kafir sementara anda adalah manusia tersuci di dunia ini. Penjarakanlah Basuki karena memang anda senang melihat saudara sendiri dibui di balik jeruji besi.

Penjarakanlah Basuki agar Agus-Anies menang tanpa hambatan lagi. Penjarakanlah Basuki karena memang itulah yang anda inginkan selama ini. Penjarakanlah Basuki. Penjarakanlah Basuki. Dan silakan penjarakan Basuki!

Tapi ingat, kalau anda ingin memenjarakan Basuki, penjarakan juga “ulama-ulama” yang sudah meneriakan hukum bunuh dengan mengatasnamakan ayat suci. Karena sejujurnya tindakan mereka itulah yang menodai kemuliaan kitab suci, bukan Basuki. Berani?

Kairo, Medinat Nasr-Saqar Quraish, 17 November 2016