Di hari-hari ini kehidupan kita nyaris tak bisa lepas dari apa yang disebut media sosial. Media sosial bersama internet telah menjadi bagian yang hampir-hampir tak terpisahkan dari hidup manusia, mirip seperti listrik, air, bahkan aliran oksigen. Kehadirannya tidak dirasa, namun saat tiada dicari-cari.

Media sosial bersama internet telah banyak sekali memberi keleluasaan hidup pada manusia. Dengan internet, masyarakat mudah mendapatkan segala informasi yang diperlukannya. Mau informasi tentang sains, teknologi, sosial, politik, agama, keluarga, anak, perempuan, tanaman, dan lain sebagainya, semua ada di sana.

Demikian juga media sosial, telah memberikan kebebasan begitu luas pada manusia. Dengan media sosial, manusia bebas berhubungan secara virtual dengan siapa saja, baik yang sudah maupun yang belum dikenal sebelumnya. Kita leluasa mencari informasi tentang teman-teman kita yang telah lama hilang. Pun kita bebas membagikan berbagai informasi tentang kita kepada siapa pun yang kita mau.

Namun di balik kenyamanan dan kebebasan yang hampir tiap saat kita nikmati itu, apakah kita sadar bahwa ada bagian lain dari diri kita yang jadi terbelenggu? Apakah kita sadar ada bagian dari kita yang jadi menurut dan patuh mengikuti kekuatan tertentu yang tidak henti-hentinya memengaruhi dan merayu kita?

Mungkin setiap kita pernah mengalami situasi semacam ini: Sedang mengejar deadline, namun yang kita lakukan adalah menengok media sosial kita berkali-kali. Sedang bertekun di hadapan laptop, namun sebuah dentingan notifikasi Facebook atau WhatsApp kembali merebut pehatian kita, dan kita dengan mudahnya mengalihkan fokus dari apa yang sedang kita kerjakan.

Sebuah dentingan di Facebook bisa berarti banyak. Bila kita habis memosting sesuatu, dentingan itu bisa jadi tanda bahwa ada seseorang mengirimkan reaction atau berkomentar terhadap postingan kita. Tentu kita ingin tahu dong, siapa orang yang telah menyukai atau menulis komentar tersebut, dan apa isi komentarnya.

Apalagi bila kita baru memosting sebuah status yang menurut kita sangat cerdas, foto yang menarik, atau video yang keren, kita pasti menunggu-nunggu adanya notifikasi terhadap postingan itu. Begitu terdengar bunyi 'ting', tak ayal lagi kita terkam telepon pintar kita layaknya kucing menerkam ikan asin, lalu kita cari sumber notifikasi itu dengan rakus.

Bahkan sering juga kita temui tangan kita begitu mekanis meraih telepon pintar kita, lalu seolah berada di luar kemauan kita, jemari kita mulai memencet-mencet icon aplikasi media sosial, Facebook, Whatsapp, Telegram, Instagram, Youtube, dan lain-lain.

Dalam film dokumenter 'The Social Dilemma' yang cukup jadi perbincangan belakangan ini, diungkapkan bahwa media sosial memang didesain sedemikian rupa sehingga mampu merogoh sisi terdalam jiwa manusia, sehingga manusia akan dibuat kecanduan tanpa sadar.

Dalam kondisi inilah kita manusia seolah-olah telah tercerabut kebebasan kita untuk melakukan hal yang perlu/harus/suka kita lakukan, karena waktu/fokus/tenaga kita telah terampas, suka tidak suka, oleh media sosial.

Dengan ilmu psikologi mereka bisa merancang sebuah sistem yang dengan jitu bisa menangkap apa yang menjadi kebutuhan jiwa manusia, yaitu ingin diakui sebagai sesuatu sesuai yang dia inginkan.

Dalam ber-Facebook kita seperti didorong untuk berusaha menampilkan diri kita sesuai dengan citra atau image yang ingin kita bentuk. Bila kita ingin mencitrakan diri sebagai orang yang perhatian pada keluarga, maka kita akan kerap memosting kebersamaan dengan keluarga atau status-status tentang keluarga.

Bila kita ingin mencitrakan diri sebagai seorang yang suka memasak atau membaca buku, tentu kita sering posting tentang masakan atau buku yang kita baca. Bila kita ingin mencitrakan diri sebagai seorang yang sholeh/sholihah, maka kita sering memosting kata-kata bijak para ulama atau kutipan-kutipan ayat suci. Dan lain sebagainya.

Menjadi masalah saat kebutuhan mencitrakan diri ini menjadi akut, sehingga kita begitu merisaukan apa yang kira-kira orang lain pikirkan tentang kita. Saat kita mengalami suatu kejadian, yang kita pikir adalah perlukah kita memosting itu dan apakah hal itu berdampak bagus pada pencitraan diri kita.

Kadang kita takut apabila kita mengalami sesuatu yang tidak mendukung citra yang ingin kita bangun, maka kita akan mengalami bullyan dari para folower kita. Belum pernah dalam hidup kita menjadi begitu memusingkan pikiran dan perkataan orang lain seperti di era media sosial.

Whatsapp dan aplikasi chat lainnya pun mempunyai karakteristiknya sendiri. Dengan kemudahan keterhubungan itu, memang tak sedikit keuntungan yang bisa didapat. Proses koordinasi dalam penyelesaian pekerjaan menjadi lebih cepat dan mudah. Berbagai transaksi jual beli pun bisa diselesaikan dengan mudah. Pun guyonan jarak jauh bisa lebih gayeng dengan imbuhan foto dan video yang leluasa dikirimkan.

Namun kemudahan dan kenyamanan yang ditawarkan oleh aplikasi chat itu pun menyimpan potensi tersendiri yang mengancam kebebasan manusia. Keberadaan aplikasi chat tak pelak lagi sangat mendukung dunia profesional. 

Namun hal ini juga berpengaruh pada kondisi fisik maupun psikis para pekerjanya. Dengan chat seolah-olah pembatasan jam kerja tidak ada lagi karena mereka bisa dihubungi kapan saja. Hal ini rawan memunculkan stress pada diri para pekerja.

Jumlah group pun makin bertambah tanpa disangka-sangka. Ada group alumni SD, TK, SMP, SMA kelas anu, group jurusan, group fakultas, group angkatan, group warga komplek, group arisan, group karyawan satu bidang, group karyawan satu bidang tanpa bos, group ex bidang yang dulu, group ex bidang yang dulu tanpa ex bos, dan lain-lain.

Group-group ini dengan cara tertentu juga memunculkan tekanan tersendiri untuk kita. Bila group-group proyek atau kantor kerap menjejali kita dengan persoalan-persoalan dunia kerja tanpa batas waktu, maka lain lagi dengan group 'nongkrong-nongkrong' atau group silaturahmi yang dibuat tanpa tujuan tertentu, namun hanya karena kesamaan asal-usul.

Group-group ini kadang hanya berisi informasi atau guyonan-guyonan yang sudah basi. Atau group hanya akan ramai dengan ucapan saat ada yang berulang tahun, menikah, punya anak, atau berduka cita. Di lain waktu group bisa dibanjiri dengan nasihat-nasihat atau ayat-ayat yang bikin jengah kita yang membacanya. Bukan kita anti agama, tapi berulang-ulang digerojog nasihat bukan bikin kita tambah sholeh/sholihah, yang ada malah kita muak.

Kondisi group yang semacam ini kadang membuat kita serba salah. Mau bertahan, tapi group begitu amat isinya. Kadang kita sudah ketinggalan sekian banyak chat. Kita bela-belain 'manjat', eh, ternyata nggak ada yang penting juga. Mau keluar tidak enak. Nanti dikira tidak mau silaturahmi.

Di era banjir teknologi seperti sekarang ini kadang yang justru muncul dalam diri kita adalah rasa semakin tidak memiliki diri sendiri. Gulungan informasi dan tarikan media sosial membuat kita seolah terombang-ambing dalam arus tak terlawan.

Membiarkan diri terbuai rayuan media sosial bisa-bisa membuat kita tak ingat lagi hal-hal penting yang ingin kita wujudkan dalam hidup ini. Perlu kemauan dan determinasi yang kuat untuk mengembalikan lagi cita-cita, rencana-rencana yang pernah kita buat.

Tak pelak lagi memang lebih kompleks tantangan yang harus dihadapi manusia di era media sosial. Namun tetap ada peluang untuk menaklukkannya, karena tentu kemampuan manusia sudah didesain sesuai dengan jamannya. Hanya bila kita mulai merasa tak berdaya, tidak salah bila mencari pertolongan untuk mengatasinya.

Beginilah 'social dilemma'. Penjara yang tercipta dari kehadiran media sosial.