Pada tahun 1941, merupakan langkah besar Jepang, yakni dengan mengawali penyerangan terhadap pangkalan laut milik Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii. Perang tersebut merupakan bagian dari besar “Perang Dunia II” yang terjadi di Benua Asia. Setalah peristiwa pengeboman Pearl Harbor, Jepang melakukan ekspansi terhadap Indonesia tidak lain guna kebutuhan Perang Asia Timur Raya

Indonesia dipilih Jepang karena memiliki wilayah yang terdapat sumber daya dan bahan mentah, kemudian dapat diproyeksikan untuk kemenangan Jepang dalam Perang Pasifik melawan Amerika Serikat. Bagi Jepang, dengan menguasai Indonesia, dan kawasan Asia Tenggara lainnya tentu menandakan bahwa mereka siap melawan sekutu dalam pertempuran di kawasan Asia Pasifik.

Sebagaimana yang sudah disampaikan sebelumnya, bahwa kemenangan perang pasifik penting  bagi Jepang. Selain itu, Jepang berusaha keras untuk mengekspansi seluruh Asia, demi ambisi Jepang menciptakan Emperium Asia Timur Raya, termasuk Indonesia masih berada dalam pengaruh dan kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda.

Keinginan Jepang mengusai Indonesia, salah satunya adalah ditandai kedatangan Jepang pada tanggal 11 januari 1941, Jepang mendarat di Tarakan, Kalimantan Timur, hingga  di Eretan Wetan, Indramayu pada 1 Maret 1942 mempertegas keseriusan Jepang untuk menguasai wilayah Hindia Belanda. Adapun tujuannya, yakni sebagai pertempuran penghabisan Jepang melawan Belanda, serdadu Jepang kemudian bergerak menyerbu Lanud Kalijati. Pada saat itu, Lanud Kalijati diproyeksikan sebagai pangkalan udara milik Pemerintah Hindia Belanda.

Sebagai negara dengan kapasitas militer yang mempuni, tidak butuh waktu lama bagi Jepang untuk merebut kekuasaan di Indonesia yang sebelumnya berada dalam kekuasaan Belanda. Pada tanggal 8 Maret 1942, penandatanganan perjanjian Kalijati, yang berarti Belanda mengakui kekalahan dan menyerah terhadap Jepang. Hal ini juga menandakan bahwa dimulainya era baru, yakni Masa Pendudukan Jepang, (Fadli dan Dyah, 2019). Oleh sebab itu, dengan kekalahan tersebut, mengharuskan Belanda harus mengakui kekalahan, yakni menyerah tanpa syarat terhadap Jepang, serta menyerahkan semua kekayaan alam yang terkandung di dalam wilayah Indonesia, (Aditia, 2020).

Memasuki masa baru di bawah pendudukan di Indonesia. Kehadiran Jepang di Indonesia rupanya disambut baik oleh masyarakat Indonesia. Mengingat masyarakat Indonesia sudah sejak lama menyimpan perasaan tidak senang terhadap Pemerintah Kolonial Belanda.

Bagi Indonesia, kedatangan Jepang maknai sebagai sebuah ramalan Jayabaya yang menggambarkan kedatangan sebuah bangsa kerdil bercirikan, yakni kulit berwarna kucing. Akan tetapi, mereka hanya memimpin Indonesia hanya seusia tanaman jagung, serta akan muncul sosok ratu adil yang akan mengantarkan Indonesia menuju kemakmuran, (Aditia, 2020). Oleh sebab itu, kedatangan Jepang diterima dengan baik, bahkan Jepang membuka ruang bagi rakyat Indonesia untuk memikirkan kemerdekaan bangsanya.

Pada masa awal kehadiran Jepang di Indonesia, terdapat keinginan dan upaya dari Jepang untuk meningkatkan jumlah produksi pangan, yakni dengan memperkenalkan jenis padi baru dan teknik pertanian yang lebih modern, (Frans Husken,1998). Selain itu, Jepang yang datang sebagai saudara tua dari Indonesia, tetap fokus pada tujuannya yakni sedang membutuhkan sumber daya alam di Indonesia guna keperluan Perang Pasifik.  Seperti yang disampaikan oleh M.C. Ricklefs (2007), dalam buku berjudul Sejarah Indonesia Modern.

Dalam studinya tersebut, Ricklefs mengungkapkan bahwa mulai ada tindakan yang keras dari Jepang untuk mengeksploitasi tenaga rakyat Indonesia secara kejam dari pada Masa Pendudukan Belanda. Pada Oktober 1943, Jepang mulai menghimpun apa yang dinamakan sebagai serdadu-serdadu ekonomi (romusha), mereka adalah rakyat Indonesia dengan berlatar belakang seorang petani, yang diambil dari desa-desa di Jawa, yang kemudian dipekerjakan oleh Jepang. Sabagai contoh, yakni seperti yang dialami rakyat Indonesia salah satu di daerah Indramayu.

Indramayu dipilih sebagai tempat eksploitasi tenaga manusia untuk kebutuhan perang dikarenakan wilayah Indramayu memiliki tanah yang subur, hal ini dilihat dari ketersedian beras hasil garapan petani jauh sebelum masa Pendudukan Jepang. Bersamaan dengan itu, terdapat masalah kemanusian yang serius selama proses pendudukan Jepang di Indramayu, yakni perampasan secara paksa hasil bumi kepada pihak Jepang  di Desa Kapelongan. selain itu, petani hanya bertugas sebagaimana yang bisa dikerjakan tanpa memperoleh hasil dari apa yang sudah digarapnya, (Slamet Muljana, 2008). Oleh sebab itu, hal ini adalah bentuk dehumanisasi yang dilakukan Jepang, di mana tindakan tersebut dinilai tidak manusiawi karena membuat masyarakat desa dan keluarga dari para petani kelaparan.

Melihat apa yang terjadi, tentu para petani yang mulai resah berupaya melakukan perlawanan, sehingga melahirkan gerakan sosial oleh petani di Kaplongan, pada tahun 1944 (Ahmad Fauzi, 2012). Pemberotakan petani yang terjadi di Kaplongan adalah yang pertama di Indramayu, yang kemudian mempengaruhi perlawanan  petani yang terjadi di perbatasan Sindang dan Lohbener. Perlawanan yang dilakukan oleh petani dan masyarakat Desa Kaplongan, berhasil membuat Jepang mengalami tertekan, serta kualahan dalam menghadapi perlawanan tersebut.

Daftar Pustaka

Aditia. Jejak Sakura di Nusantara: Pasang Surut Hubungan Jepang-Indonesia Tahun 1880an-1974. Sasdaya: Gadha Mada Journal of Humanities. Vol. 4. No. 1. 2020.

Fauzi, Ahmad. 2012. Perjuangan Petani Kaplongan Terhadap Penjajah Japang April 1944. Skripsi. Sejarah Peradaban Islam IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Husken, Frans. Masyarakat Desa dalam Perubahan Zaman: Sejarah Diferensiasi Sosial di Jawa 1830-1980. (Jakarta: P.T Gramedia Widiasarana Indonesia, 1998).

Maulana, Slamet. Kesadaran Nasional dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan Jilid II. (Yogyakarta, LkiS, 2008).

Ricklefs. Sejarah Indonesia Modern. (Yogyakarta: Gadjah Mada University Perss, 2007).

Rijal Fadli, Muhammad dan Dyah Kumalasari. Sejarah Ketatanegaraan Indonesia Pada Masa Pendudukan Jepang. Sejarah dan Budaya:Jurnal Sejarah, Budaya dan Pengajarannya. Vol. 13, No. 2. 2019.