Orang tua sebagai lingkungan pertama dan utama di mana anak berinteraksi, di mana orang tua sebagai lembaga pendidikan yang tertua karena di sinilah dimulai suatu proses pendidikan bagi seorang anak. Sehingga orang tua berperan sebagai pendidik pertama bagi anak-anaknya.

Lingkungan keluarga juga dikatakan lingkungan yang paling utama, karena sebagian besar kehidupan anak berada dalam keluarga, sehingga pendidikan yang paling banyak diterima anak adalah dalam keluarga sendiri. Sehingga keluarga sebagai lembaga pendidikan memiliki fungsi dalam perkembangan kepribadian anak  dan  mendidik anak dirumah serta fungsi keluarga atau orang tua dalam mendukung pendidikan anak di sekolah.

Perubahan dan perkembangan yang terjadi dalam bidang ilmu pengetahuan dapat mengubah perilaku manusia, pola pikir, kebiasaan, bahkan gaya hidup. Perubahan-perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga pada anak-anak. Jika perubahan itu terpusat pada hal-hal yang negatif, hal ini akan sangat berbahaya, dikarenakan anak-anak belum mampu menyaring atau menyeleksi mana yang berdampak baik dan mana yang berdampak buruk bagi dirinya sendiri.

Adapun dampak negatif seperti tayangan-tayangan pornografi yang membawa dampak yang sangat buruk jika dilihat oleh anak-anak yang belum saatnya untuk melihat tayangan seperti itu. Tayangan itu juga bisa merusak jaringan otak terutama bagi anak-anak yang berada dalam masa pertumbuhan.

Berbagai macam jenis permainan atau games yang bisa menyita waktu berjam-jam, yang seharusnya waktu tersebut bisa digunakan untuk mengerjakan pekerjaan yang bermanfaat, terbuang begitu saja, tanpa terasa pula yang digunakan untuk itu semua telah menghabiskan banyak uang, yang mungkin hampir menyamai biaya kebutuhan primer.

Selain kecanggihan teknologi informasi yang berdampak buruk terhadap pendidikan anak khususnya perkembangan jiwa. Sementara perkembangan jiwa atau akhlak anak-anak itu, dipengaruhi faktor lingkungan rumah, seperti orangtua dan keluarga, lingkungan luar rumah, dan sistem atau budaya.

Dari faktor ini yang lebih dominan akan mempengaruhi mereka, itulah yang akan membentuk watak atau akhlak mereka dari kecil. Oleh karena itu, lingkungan rumah atau keluarga yang harus lebih kuat mempengaruhi mereka. Sebagai orangtua, dalam membangun dan membentuk watak anak, tentunya harus memiliki cara dan ilmu yang baik.

Maka dari itu, anak-anak harus dikenalkan kepada ajaran agama sedini mungkin, tidak hanya diwajibkan untuk sekolah umum saja, sejak SD bahkan Taman Kanak-kanak sampai ke Perguruan Tinggi, tetapi juga harus diberi pendidikan akhlak, yang  biasa disebut budi pekerti, yang sekarang ini hampir-hampir sirna di zaman saat sekarang ini. Di sekolah umum seperti itu mereka hanya mendapat pelajaran tentang pengetahuan umum, yang memang dibutuhkan oleh mereka dalam mengarungi kehidupannya di masa mendatang. Sedangkan pendidikan akhlak atau budi pekerti, lebih banyak terdapat dalam ajaran agama.

Dalam ajaran Islam, banyak dijelaskan hal-hal yang menyangkut pendidikan akhlak, misal bagaimana cara bergaul muda-mudi, sifat-sifat mulia seperti pemaaf, peduli, penolong, dermawan, santun dan menghormati orang yang lebih tua. Bagi anak-anak perempuan biasakan mengenakan busana muslim, agar saat dewasa nanti mereka sudah terbiasa mengenakannya. Dengan mengenakan busana muslim, paling tidak, tidak akan menimbulkan hasrat lawan jenisnya untuk melakukan hal-hal yang melanggar agama atau susila, dan hal-hal lain yang kurang sopan. Jadi, haruslah seimbang antara pendidikan umum dengan pendidikan akhlak, karena keduanya sama-sama memiliki peran dan posisi penting untuk kehidupan mereka. Apalah artinya orang berilmu, jika tidak ber-akhlak.

Begitu juga dengan kedisiplinan dalam melakukan aktifitas sehari-hari, juga harus dibiasakan, mulai dari bangun tidur yang diawali dengan shalat subuh, atau kegiatan lain bagi non Muslim, kemudian bersiap-siap untuk pergi ke sekolah bagi pelajar dan anak-anak. Kesibukan atau aktifitas di luar rumah juga harus diatur sedemikian rupa supaya bisa terpantau oleh orangtua.

Orangtua juga harus pandai mengalihkan kegemaran anak-anak untuk bermain games kepada hal-hal yang positif. Seperti diikutsertakan dalam berbagai kursus yang sesuai dengan bakat mereka, olahraga atau kegiatan lain yang bermanfaat untuk masa depan mereka.

Membuat jadwal aktivitas harian mereka dengan selingan-selingan yang menyenangkan, seperti cerdas-cermat ringan antar keluarga disertai hadiah-hadiah yang menghibur, agar mereka tidak jenuh dengan aktifitas yang itu-itu saja. Mengamati teman-teman mereka, dianjurkan untuk berteman dengan sesama teman sekolah, teman kursus atau kegiatan positif lainnya, karena teman memiliki pengaruh yang sangat besar. Memilih teman yang baik merupakan hal yang penting dalam perkembangan jiwa anak.

Para orangtua dan keluarga harus berusaha menjalin hubungan yang dekat dengan anak-anak, penuh kasih-sayang, sehingga mereka merasa diperhatikan, karena bisa jadi mereka berasyik-asyik dengan tayangan-tayangan Internet yang buruk atau hand-phone yang merupakan pelarian dikarenakan mereka merasa kurang diperhatikan. Sebaiknya orang tua juga membatasi penggunaan hand-phone yang dipenuhi dengan berbagai games, yang akan mengurangi bahkan menyita waktu belajar mereka dan dapat merusak kesehatan pribadi anak.

Untuk dapat menjalankan fungsi tersebut secara maksimal, orang tua harus memiliki kualitas diri yang memadai, sehingga anak-anak akan berkembang sesuai dengan harapan orang tua. Artinya orang tua harus memahami hakikat dan peran mereka sebagai orang tua dalam membesarkan anak, membekali diri dengan ilmu tentang pola pengasuhan yang tepat, pengetahuan tentang pendidikan yang dijalani anak, dan ilmu tentang perkembangan anak.

Dengan demikian, orang tua tidak salah dalam menerapkan suatu bentuk pola pendidikan terutama dalam pembentukan kepribadian anak yang sesuai denga  tujuan pendidikan itu sendiri untuk mencerdasakan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Pendampingan orang tua dalam pendidikan anak diwujudkan dalam suatu cara-cara orang tua mendidik anak. Cara orang tua mendidik anak inilah yang disebut sebagai pola asuh. Setiap orang tua berusaha menggunakan cara yang paling baik menurut mereka dalam mendidik anak. Untuk mencari pola yang terbaik maka hendaklah orang tua mempersiapkan diri dengan beragam pengetahuan untuk menemukan pola asuh yang tepat dalam mendidik anak.

Dengan mengetahui bagaimana pengalaman membentuk seorang individu, akan menjadikan orang tua lebih bijaksana dalam membesarkan anak-anaknya. Banyak masalah yang dihadapi mungkin dapat dihindari bila orang tua lebih memahami perilaku anak dan sikap orang tua mempengaruhi anak-anaknya, serta bagaimana menanganinya pada usia dini.

Sebagai orang tua perlu mengetahui tugas-tugas perkembangan anak pada tiap usianya, untuk mempermudah penerapan pola pendidikan dan mengetahui kebutuhan optimalisasi perkembangan anak .

Maka dari itu, penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak sangat penting dilakukan pada anak di usia dini, agar anak dapat tumbuh dalam lingkungan yang dapat membentuk pribadi yang baik, jujur, bertanggung jawab, disiplin serta mandiri. Keluarga merupakan pondasi utama dalam tahap pertumbuhan pan perkembangan jiwa dan  akhlak anak termasuk dalam pendidikan anak dimasa mendatang serta menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhannya. Dari sinilah dibutuhkan pentingnya peran penguatan keluarga dalam mendukung aktivitas yang dilakukan anak dalam hal yang positif dan menasehati anak dengan cara yang  baik jika melakukan kesalahan.