Arsiparis
1 tahun lalu · 59 view · 4 menit baca · Agama 18137.jpg
https://www.google.co.id

Penguatan Ajaran Perdamaian di Wilayah Publik dan Memperkuat Peran Negara

Indonesia adalah negara yang rawan terjadi konflik kemanusiaan. Konflik konflik yang berbau Suku, Agama, Ras, dan antar golongan (SARA) sering terjadi ditengah tengah kita. Keadaan yang dipicu setelah angin reformasi ini pertama kali meledak di tahun 1999 di Ambon dan hampir hampir memicu ke pertikaian yang lebih luas karena dibumbui dengan konflik agama.

Intoleransi semakin hangat dibicarakan ketika isyu dipoles dengan perbedaan kepercayaan yang sesungguhnya adalah ranah pribadi warga negara. Seharusnya   Ketika peran negara hilang, agama harus bisa mengambil peran sebagai penguat institusi negara. Agama jangan lagi mencari pembenaran pribadi ketika ada kasus kemanusiaan di wilayah publik.

Contoh terbaru adalah Kasus pembakaran terduga maling amplifier menjadi bukti nyata, sebuah komunitas atau golongan tertentu mengabaikan peran negara adalam kaitannya dengan kasus kejahatan, tidak semestinya agama dijadikan pembenaran untuk menghakimi seseorang mengingat negara kita adalah negara dengan entitas beragam. Setiap warga negara harus tunduk pada hukum hukum yang disepakati bersama jangan memaksakan dengan hukum hukum yang terdapat pada kepercayaan yang dianutnya.

Publik Adalah Wilayah Negara Dan Harus Tunduk Pada Aturan Negara

Ketika pemahaman personal (agama) dimunculkan ke wilayah publik harusnya sang pemeluk agama bisa mengambil point poin penting ajaran agama yang dianutnya yang bisa diterapkan secara universal. Ini disebabkan karena ajaran agama mempunyai sisi eksklusivitas yang memang harus dipegang oleh pemeluknya. Tidak selayaknya sisi eksklusivitas sebuah agama dimunculkan ke wilayah publik karena adanya keberagaman di tengah tengah kita.

Dalam kedudukan bernegara dan berbangsa kita tidak bisa memaksakan hukum yang dimiliki agama tertentu mengingat kemajemukan kondisisosial yang dimiliki negara kita. Hukum yang diacu oleh suatu Negara tentunya sudah mengakomodir setiap aturan dan hukum hukum yang berlaku baik itu hukum adat dan agama. Dan kondisi ini harusnya kita teladani dari para pendahulu kita yang berhasil mencetuskan ide keberagaman berbeda tapi tetap satu juga.

Setiap agama yang tumbuh dinegeri ini harusnya memapu menjadi penguat posisi negara sehingga setiap pemeluk agama menjadi warga negara yang santun dan taat aturan negara.

Tentunya sisi eksklusivitas suatu agama harus bisa dikunci rapat dalam ranah pribadi karena itu sebuah keniscayaan. Misalnya menganggap agamanya sebagai ajaran yang paling benar adalah keniscayaan dan inilah yang harus dikunci rapat di ruang pribadi masing masing pemeluk agama. Dan apabila ini dimunculkan ke ruang publik tentunya kan terjadi gesekan dan benturan mengingat semua agama berhak untuk meyakini agamanya benar. Seringkali pertikaian terjadi bila masing masing merasa benar.

Ada hal hal dalam ajaran agama yang inklusif dan universal yang harus ditumbuhkan, misalnya, berbuat baik ke sesama, cinta kasih dan tolong menolong. Itu semua adalah ajaran agama yang bisa digunakan dan dimunculkan ke wilayah  publik namun seringkali disalahartikan hanya ke sesama golongan saja padahal inti ajarannya tidak demikian

Penguatan Ajaran Agama Yang Bermuatan Perdamaian

Sejarah panjang konflik kemanusiaan seringkali lebih awet berlangsung bila itu dikaitkan dengan ajaran agama. Sejarah besar perang salib misalnya, banyak ditengarai hanya soal kekuasaan dan dominasi sumber ekonomi  namun karena dibungkus nilai nilai agama oleh elite di kedua belah fihak maka konflik itu menjadi berkepanjangan.

Krisis kemanusiaan di Irak, Afghanistan, Syiria dan negara timur tengah lainnya modusnya  juga hampir sama, bagaimana peran peran elite membungkus isyu teroris internasioal yang sebenarnya hanya ingin menguasai sumber energinya.

Perlu penguatan nilai nilai agama khususnya yang berisi tentang perdamaian. Pemahaman agama harus lebih universal mengingat kita hidup di tengah tengah perbedaan. Meringankan beban orang lain, tidak memaksakan kehendak ke orang lain dan selalu menghargai perbedaan adalah aajaran universal yang dimiliki oleh setiap agama.

Apa yang diwariskan oleh para pembawa wahyu adalah contoh nyata. Nabi Muhammad SAW, misalnya tak menganjurkan umatnya untuk memusuhi umat agama lain. Bahkan, kesabaran beliau adalah contoh dan teladan yang bagus untuk diikuti nyata akan figur beliau.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” (QS Al-Ahzab:21).

Tak dipungkiri juga pada penganut agama lain misalnya Yesus yang menyerahkan pipi kiri ketika pipi kanan ditampar. Ada  juga dalam ajaran Hindu  yang dalam Baghawatgita ajaran kemanusiaan sebegitu rupa dan mendamaikan. Budha Gautama pun sama mengajarkan kedamaian dengan mengabdikan hidup sebagai rakyat jelata.

Meminimalkan Superioritas Mayoritas 

Bahaya mayoritas yang terlalu memaksakan kehendak adalah ancaman nyata dari terjadinya konflik konflik kemanusiaan. Keserakahan untuk mendominasi adalah sumber pemicu ketika peran Negara dalam menciptakan keadilan warganya dianggap hilang.

Seringkali mayoritas bertindak mengabaikan peran negara ketika negara dianggap tidak mengakomodir kepentingannya. Kasus di negara kita kadang masih sering terjadi meski tidak seradikal di luar negeri. Misalnya  Myanmar, India dan beberapa Negara Eropa di mana mayoritas lebih bebas bertindak karena sejalan dengan negaranya.

Di Indonesia meski mayoritas muslim namun peran negara masih dominan karena kita adalah negara yang berdasar pancasila yang menjunjung tinggi perbedaan. Apa yang menjadi pertikaian yang disebabkan oleh mayoritas ini perlu dikelola dengan menghadirkan peran negara yang lebih dominan dalam menata keadilan.

Meminimalkan superioritas mayoritas ini bisa terjadi bila keadilan yang menjadi cita cita bangsa bisa diwujudkan oleh Negara. Dan semoga baik minoritas dan mayoritas menerima dan selalu berfikiran positif  terhadap  apa yang telah  menjadi peran negara yaitu melindungi segenap warga negara tanpa terkecuali.

#LombaEsaiKonflik