Aktivis
1 bulan lalu · 171 view · 4 min baca menit baca · Saintek 11557_60415.jpg
Foto: pertanianku.com

Pengobatan Tradisional dan Sains Modern

Kehidupan terus mengalir; berubah dan seolah tak memiliki ujung. Ketika kita ingin beradaptasi dengan sesuatu yang baru, hal baru lain telah menggantikannya.

Manusia dalam ide-idenya bergerak cepat seiring dengan hasrat kebutuhan manusia itu sendiri. Revolusi kognitif, agrikultural, industri (sampai beberapa tahap), merupakan persetubuhan realitas manusia dengan realitas alam.

Manusia mengubah bahan yang masih asli dari alam seyogianya untuk membantu kehidupannya – meskipun pada perkembangannya tidak lagi mengubah untuk kegunaan tetapi untuk menukarkannya dengan laba, tetapi itulah bagian dari evolusi manusia.

Dalam kebudayaan, manusia tidak lagi mengenal mana yang menjadi tradisi. Segala tradisi menggantikan tradisi. Sendi-sendi kehidupan dengan cara-cara yang lama terus tergantikan.

Saya yang hidup di kampung, terhitung jauh dari kota, tumbuh dengan segala jenis cara hidup yang, menggunakan akal modern, tidak masuk akal – meskipun yang masuk akal itu belum tentu benar karena yang masuk akal hari ini akan digantikan dengan masuk akal yang lain di waktu yang akan datang.

Pada masyarakat tradisional (biasanya diidentikan dengan perkampungan) orang-orang membuat norma dan menerimanya. Bagi Habermas tidak dengan masyarakat modern. Orang harus mencapainya dengan konsensus intersubjektif – dia juga melancarkan kritik terhadap rasionalitas modern yang sebelumnya dilakukan oleh pendahulunya.

Cara-cara harus memenuhi kaidah-kaidah kemasuk-akalan. Segalanya harus memenuhi penjelasan. Hal demikian (kemasuk-akalan) juga berdampak pada jenis penyembuhan yang telah lama menjadi dominan di masyarakat, yakni pengobatan tradisional. 


Sebut saja, saya rasa sangat banyak jenis pengobatan tradisional yang marak, sekarang berkurang. Pengobatan tradisional dalam arti masih menggunakan metode-metode dengan sangat sederhana.

Jika sudah demikian, cara-cara pengobatan yang masuk dalam kaidah-kaidah modern hanyalah cara penyembuhan dengan menggunakan produk farmasi.

Dengan berbagai jenis tawaran pengobatan farmasi, di tengah kecanggihan dunia, malah membuat kita semakin binggung. Semuanya menawarkan kesembuhan. Bahkan untuk jenis sakit kepala ada sekian banyak obat yang ditawarkan.

Bisa kita saksikan di media, persaingan menghiasi farmasi. Masing-masing produk menyatakan paling baik dan manjur dibanding yang lain. Bukan menambah kita percaya, malah menambah konsumen semakin bingung.

Misalnya persaingan antara pasta gigi. Semua menjamin gigi tidak rusak dan belubang. Beberapa teman saya yang sering sakit gigi karena gigi berlubang, setelah saya tanyai tentang seberapa sering dia menggunakan pasta gigi, sahutnya sudah sejak dia sekolah menggunakan pasta gigi sampai lulus kuliah. Atau misalnya masuk angin dengan kerokan atau dengan meminum obat-obatan, seberapa jitu.

Beberapa dari kita pernah merasakan saat kecil sakit di rumah. Ada beberapa hal yang dilakukan orang tua dengan tidak mendahulukan obat-obatan dalam bungkusan. Seperti menggunakan obat bungkusan, pada cara tradisional tidak bisa diukur kesembuhannya ataupun melakukan kesimpulan faktor yang membuat sembuh.

Cara pengobatan tradisional sudah menjadi ilmu tersendiri manusia, diwariskan secara turun-temurun. Dengan situasi tubuh yang sakit, dan mengandalkan lingkungan, segala macam eksperimen dilakukan.

Sampai sekarangpun pengobatan-pengobatan tradisional masi dipertahankan di tengah dominasi produk farmasi, karena beberapa orang masi mempercayai intuisinya. Namun tidak sedikit yang lebih berpatokan pada produk-produk yang telah diakui oleh beberapa lembaga otoritas.

Yang perlu dilacak adalah dari mana patahan keberpalingan itu.


Kita telah terlanjur percaya dengan eksperimen-eksperimen riset. Terlalu mempercayai klaim-klaim sebelum kebenaran. Sementara riset itu hanya mereka yang memahaminya. umumnya masyarakat awam tidak mengetahui tetek-bengek uji laboratorium tersebut. Namun, yang terus diuang-ulang pun berbuah dengan akar masuk akal.

 Kalau memang hanya jenis farmasi yang mampu mengobati penyakit, pertanyaannya kemudian: bagaimana cara bertahan hidup nenek moyang kita saat belum berkembangnya farmasi?

Beberapa penyakit sudah ada sejak zaman purba. Tentunya ada proses sejarah untuk dapat melalui itu. Sekarang jenis penyakit makin bertambah.

Pada “masyarakat resiko,” segalanya seperti bertautan; menggunakan produk yang menghasilkan satu jenis penyakit, jenis penyakit itu sudah tersedia obatnya. Berbeda dengan cara-cara pengobatan kampung yang beragam jenis penyakit bisa dengan satu metode. Ada yang sembuh, ada yang tidak. Baik keduanya. Konsumsi obat yang berlebihan juga memiliki resiko.

Anda mungkin pernah mendengar pernyataan tentang kekecewaan terhadap pengobatan modern dengan obat-obatan hasil sains dan pernyataan rasa syukur atas kesembuhan dengan metode tradisional; ramuan, mantra-mantra, pijat, dsb..

Jika demikian, bagaimana produk farmasi bisa mendominasi hari ini?

Selain karena faktor kemasuk-akalan (dalam penjelasan sebelumnya), juga karena mepunyai kapital yang banyak. Farmasi bisa memainkan pikiran kita memalui berbagai macam cara; periklanan. Hegemoni dilakukan melalui media.

Dalam melakoni hidup, faktor dari luar juga menjadi dominan dalam membentuk diri kita. Faktor dari luar merupakan apa yang kita resapi dari panca indra. Hal demikian yang dijadikan cela, terutama dari periklanan; pernyataan-pernyataan yang telah diuji melalui eksperimentasi di laboratorium.

Pengobatan tradisional karena kesederhanaannya, hanya melewati percakapan sehari-hari. Dari mulut ke mulut.

Percakapan itu berlangsung secara terus menerus karena sudah ada pembuktian sebelumnya. Penyakit yang berkaitan melalui cara tradisional telah sembuh dan percakapan itu diperpanjang. 

Syaratnya adalah penyakit yang diderita sembuh. Tetapi informasi ini bisa terputus karena hanya mengandalkan percakapan – tentunya kita tidak bisa berharap banyak pada situasi sekarang yang semakin sendiri-sendiri laku hidupnya.

Di sini farmasi lebih menggunakan media, dan berlanjut mulut ke mulut. Awalnya pernyataan-pernyataan itu dibangun hanya lewat klaim-klain sains. Karena masyarakat telah memamak zaman modern, mudah untuk digiring.

Seharusnya tidak kemudian mempertanyakan cara pengobatan tradisional secara rasional, atau mempertentangkan dengan farmasi. Mempertanyakan dengan rasional sama saja dengan memberi pembenaran pada farmasi karena dibangun dari kaidah-kaidah yang bisa diukur.

Ukurannya ada pada kesembuhan dan perasaan tubuh. Intuisi kita mestinya lebih mengarah ke situ. Ada orang yang ketika sakit jika beristirahat akan sembuh. 

Begitu banyak problematika penyembuhan kemudian hanya bertolak dari masuk-akal.

Artikel Terkait