Suatu ketika, Nabi pernah membuat pengecualian ketika beliau tengah memotong pohon selama pengepungan di sebuah perkampungan Bani Nadir. Pengecualian itu bukan tanpa sebab, melainkan Nabi ingin memperlihatkan sebuah aturan tentang penghormatan belia terhadap alam, terutama pada masa perang.

Aturan yang diperlihatkan Nabi di atas memberikan kepada kita sebuah isyarat, bahwa segala sesuatu yang tercipta melalui proses penciptaan-Nya dipenuhi dengan berbagai tanda yang dapat mengarahkan seorang hamba pada kebaikan dan kemurahan dalam merenungi ciptaan-Nya.

Dengan begitu, menghormati alam merupakan sebuah ruang suci, sehingga mengantarkan manusia ke suatu pemaknaan bahwa menghormati alam sama dengan sedekah atau doa.

Di sisi lain, aturan-aturan seperti melindungi pohon, tanaman berbuah, dan tanaman sayur pada saat perang merupakan konsekuensi dari ajaran Nabi yang lebih umum dalam menghormati alam.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa, suatu hari, saat Nabi melewati Sa’d ibn Abi Waqqas, yang sedang berwudu, Nabi berkata kepadanya: “Kenapa mubazir begitu, wahai Sa’d?” Kemudian Sa’d bertanya, “Apakah ada mubazir dalam berwudhu sekalipun, wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab, “Ya, sekalipun ketika menggunakan air sungai yang mengalir.” (HR. Ahmad dan Ibn Majah).

Terkait dalam hal pernyataan Nabi di atas menunjukkan bahwa sumber daya alam seperti air adalah unsur penting dalam seluruh ajaran dan praktik ritual di dalam agama Islam, karena ia melambangkan kesucian badan dan kesucian hati, kebersihan dalam tampilan fisik serta memiliki kandungan material dan spiritual.

Dari kisah di atas pula, Nabi mengajarkan kepada Sa’d serta sahabat lainnya untuk tidak menganggap air, atau unsur lainnya, sebagai sesuatu hal yang remeh dalam kaitannya dengan pendidikan spiritual mereka, sebaliknya, menghormati alam dan menggunakannya secara bijak, justru di dalam dirinya sendiri merupakan pelatihan dan penanjakan spiritual akan tujuan mereka terhadap Sang Penciptanya.

Perintah Nabi untuk tidak memubazirkan sumber daya alam —sekalipun ketika menggunakan air sungai yang mengalir— menunjukkan bahwa Nabi selalu menempatkan penghargaan terhadap alam sejajar dengan prinsip penting lainnya yang harus menjadi acuan perilaku manusia dalam situasi apa pun dan dengan konsekuensi apa pun. 

Sehingga dengan prinsip tersebut, penghormatan terhadap alam merupakan sebuah keniscayaan dalam menentukan siklus peradaban kehidupan manusia.

Hal ini bukanlah persoalan ekologis untuk mengantisipasi bencana (akibat ulah tangan manusia) akan tetapi lebih kepada pemaknaan ‘hulu ekologi’ yang menempatkan hubungan manusia dengan alam di atas fondasi etika yang dikaitkan dengan pemahaman tentang ajaran-ajaran spritual dalam Islam.

Pelajaran Penting

Tak kalah pentingnya ialah segala apa yang telah diajarkan oleh Nabi tidak melulu mengarah kepada masalah ritual keagamaan semata. Dalam beberapa kesempatan, Nabi juga selalu mengingatkan kepada para sahabatnya akan pentingnya menghormati alam dalam kaitannya dengan menjaga serta merawat kelestarian lingkungan.

Karena jika lingkungan rusak, maka manusia sendiri-lah yang akan menanggung dampak dan akibatnya. Sebab bagaimana pun, manusia dan alam dengan segala aspek yang terkandung didalamnya saling terkait dan saling membutuhkan antara satu dan lainnya.

Ada banyak pelajaran penting tentang akhlak Nabi yang bisa kita aktualisasikan untuk menghormati alam serta merawat, menjaga, dan melestarikan lingkungan hidup. Semua akhlak baik berupa anjuran atau pencegahan tersebut dimaksudkan untuk mencegah manusia agar tidak mencelakakan orang lain, sehingga terhindar dari musibah yang akan menimpanya. 

Dalam hal ini, Islam melalui ayat-ayat Alquran dan sunnah Nabi telah memberikan panduan yang sangat jelas bahwa sumber daya alam dan sumber daya manusia merupakan daya dukung bagi keberlangsungan kehidupan manusia, sebab fakta lapangan menunjukkan bahwa terjadinya bencana alam seperti banjir, longsor, serta bencana alam lainnya lebih banyak didominasi oleh sebagian aktivitas manusia. 

Hal tersebut karena Allah telah memberikan fasilitas daya dukung seperti alam dan lingkungan bagi kehidupan manusia, tinggal manusia itu sendiri yang mau menjaganya atau tidak.

Oleh karena itu, sudah menjadi hal yang mutlak dalam siklus kehidupan untuk membangun hubungan antara manusia dan alam yang didasarkan pada kesadaran, perenungan, penghargaan dan penghormatan. Sehingga dengan tingkatan-tingkatan dasar tersebut akan tercipta suatu iklim kesejukan hubungan antara manusia dengan alam baik dari sisi material maupun nilai spritual.

Mengingat akan sikap penghormatan terhadap alam ini begitu besar sehingga Nabi pernah bersabda, “Jika detik-detik Hari Pembalasan telah mendekat dan seseorang di antara kalian menggemgam benih di tangannya, bersegeralah menanam benih itu”. (HR. Ahmad).

Meskipun persoalan penghormatan alam dalam kaitannya dengan menjaga kelestarian lingkungan yang ada pada zaman Nabi tidak sekompleks seperti saat ini. Namun demikian, secara garis besar Nabi telah memberikan aturan-aturan serta tuntunan bagaimana cara menghormati alam dalam proses menciptakan tatanan siklus peradaban kehidupan manusia di masa yang akan datang.