Penghina Banser sebagai sebutan kafir saat memvideokan persekusinya benar-benar luar biasa dan mempertontonkan kegarangan. Orang ini adalah kaum radikal yang dengan mudah memberikan tudingan kafir. Bahkan makian “anjing” pun muncul dengan begitu mudah.

Sebagai rakyat Indonesia yang mengedepankan sopan santun, pelaku sudah menunjukkan ketidaksopanan dan kekurangajaran yang tidak menjalankan keindonesiaan yang santun dan baik itu. Penghina Banser itu tidak sedang menjadi orang Indonesia yang baik.

Selain menyalahi keindonesiaan, dia juga menyalahi ajaran agama. Ajaran agama apa pun mengajarkan kita untuk menghargai seseorang. Kalau memang salah, tunjukkan kesalahan terlebih dahulu. Kalau mau memberikan label tertentu, berikan penjelasan agar mereka bisa memahami salah di mana.

Tapi yang terjadi di dalam diri orang penghina Banser, dia hanya memiliki beberapa proposisi yang sudah ada, dan ternyata salah. Orang ini mengatakan dengan jelas bahwa takbir menjadi syarat orang beragama. Padahal tidak pernah ada informasi tentang itu.

Hal yang paling berbahaya dari seseorang adalah menganggap benar apa yang salah dan tidak pernah jadi kebenaran yang diakui oleh dunia. Sekarang ini, kita melihat, bagaimanapun juga, agama yang ada dan dihidupi oleh orang ini tidak seperti yang sudah diajarkan sebelum-sebelumnya.

Di zaman pasca kebenaran ini, kita melihat bahwa orang-orang banyak yang mendefinisikan kebenaran sesuka hatinya. Padahal kebenaran itu harusnya memiliki sifat bebas dari interpretasi, bukan? Asumsi tidak pernah mengalahkan subjektivitas ataupun objektivitas dari kebenaran.

Akan tetapi, saat ini kita melihat bahwa seolah-olah asumsi seseorang terhadap kebenaran itu bisa dianggap lebih tinggi dari kebenaran. Saya jadi bertanya-tanya, sebetulnya esensi kebenaran itu apa?

Harus diakui dan mau tidak mau kita harus menyadari bahwa saat ini kita hidup di zaman postmodern yang betul-betul menawarkan kebenaran versi apa pun di dalam pandangan apa pun yang sangat relatif. 

Pada dasarnya, kebenaran itu tidak bisa direlatifkan karena sifat kebenaran adalah absolut dan tidak bisa diganggu gugat. Misalnya kebenaran mengenai keberadaan Allah atau Tuhan, tidak bisa diganggu gugat oleh pemikiran manusia.

Bahkan atheis sekalipun tidak bisa membuktikan bahwa Tuhan tidak ada, hanya memberikan statement bahwa Tuhan itu tidak ada. Demikian juga dengan kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh penghina Banser itu, ia memiliki asumsi bahwa tanpa bertakbir orang itu bukanlah muslim sejati, melainkan kafir. 

Pandangan ini bisa dikatakan merupakan pandangan yang sesat dan tidak pernah ada di dalam sejarah seperti yang saya tuliskan di atas. Orang ini mempermainkan logika-logika yang sebetulnya tidak pernah valid, lalu ia buat valid seolah-olah itu adalah kebenaran yang sejati.

Ketika post-truth itu diperdengarkan dengan nada keyakinan yang penuh, memang harus diakui kalimat memiliki daya goncang yang cukup berdampak bahkan bagi kedua anggota Banser itu.

Tak berlebihan jika kita mengatakan bahwa kalimat bernada yakin itu, jika diulang-ulang, bisa menjadi hal yang dianggap benar. Logika semacam ini berlaku untuk semua agama yang dipelajari secara cepat dan dangkal.

Kita mudah percaya bahwa agama itu berbicara tentang sesuatu yang mistik, seru mungkin tidak pernah dialami oleh orang-orang lain secara umum. Contohnya adalah klaim seorang pemuka agama yang katanya pernah naik-turun surga, yang pernah bertemu dengan Tuhan, makan yang halusinasi menjadi tamu kerajaan Arab yang ternyata hanyalah orang bermasalah di negeri tersebut.

Dan kita dengan mudah percaya akan hal tersebut sehingga yang untuk bukanlah kebenaran itu sendiri, namun pemuka agama itu malah. Sayang sekali, bukan, jika mayoritas orang beragama yang masih dangkal itu tertipu oleh tindakan orang-orang tak bertanggung jawab?

Pada akhirnya wajah yang dengan yakin menghina Banser kafir itu berubah menjadi begitu tertunduk kusut saat ia ditangkap. Mengapa orang ini harus ditangkap? Jawabannya adalah sederhana.

Karena jika orang ini saja sudah berani mengintimidasi Banser, bagaimana ia akan membuat role model bagi kaumnya untuk mengintimidasi kaum yang disebut minoritas?

Setelah ditangkap, orang ini mendadak jadi seperti pengecut dan kucing yang habis tersiram air oleh majikan yang ikannya dicuri. Orangnya memang harus ditangkap agar menghindari potensi kerusakan dari kaum kaum minoritas yang ada di Indonesia.

Dan saya melihat narasi jahat sudah disiapkan oleh para pemuja hati untuk mendiskreditkan Banser dan Nahdlatul ulama. Beruntung para ketua Banser ini bisa menahan diri meski kupingnya panas. Beruntung bahwa kedua orang ini memang sudah diedit di dalam ajaran agama untuk bersabar. 

Kalau kata peribahasa sih "anjing menggonggong kafilah berlalu." Dan ada betulnya ya sepertinya?

Hidup ini sekali, maka gunakanlah sebaik baiknya bukan malah untuk menghina orang lain. Melainkan menjalankan kebaikan dan berbuat baik untuk orang lain. Jangan dengan mudah mengumpat orang apalagi menghina kafir dan sebutan binatang. Karena sebelum diucapkan kata-kata itu sudah ada di dalam lidah kalian dan otak kalian. 

Semoga pasca ditangkap, dipenjara dan diajarkan, boleh sadar kalau Anda bodoh.