Berpikirlah dua kali sebelum bertindak.

Saya sering kali mendengar hal tersebut dari orang lain, entah itu ditujukan kepada orang lain maupun diri saya sendiri ketika saya masih kecil. Mungkin karena hal tersebut datang ketika saya masih kecil, tentunya saya terus bertanya-tanya, apa maksud hal tersebut.

Ketika saya mulai beranjak dewasa, saya selalu terpikirkan mengenai hal tersebut dan perlahan mengerti maksudnya. Mungkin saja saya paham karena keadaan yang selalu saya rasakan, entah keadaan itu datang kepada saya, maupun dari orang lain.

Saya pernah membaca buku yang menurut saya sangat spesial karena sudah bertahun-tahun lamanya tetap saja bisa menjadi salah satu buku yang mega best-seller bahkan tidak hanya di satu negara saja. Dari buku itu saya mendapatkan banyak sekali hal yang sangat menggambarkan kehidupan manusia dan dapat diambil salah satunya hal ini.

“Mengadili diri sendiri itu lebih sulit daripada mengadili orang lain dan jika kita berhasil mengadili diri sendiri artinya kita betul-betul orang yang sangat bijaksana.”

Saat membaca tentu saja saya tertegun. Bahkan saya sendiri seakan langsung melihat banyak momen terdahulu di hidup saya yang mencerminkan kutipan kalimat tersebut.

Entah itu sengaja maupun tidak sengaja ketika menyalahkan orang lain padahal saya sendiri juga salah atau bahkan ketika semakin ke sini saya sadar, saya memang memiliki banyak kesalahan mulai dari hal-hal terkecil sekali pun.

Mengapa ketika kita ditanya tentang kesalahan orang lain, kita bisa saja membuat cerpen atas hal itu. Sedangkan ketika berbicara mengenai diri sendiri, banyak hal yang difilter dari mulut maupun otak kita yang semakin lama malah kita seakan tidak menyadarinya.

Seperti peribahasa gajah di pelupuk mata tak tampak semut di seberang lautan tampak.

Ada saatnya ketika kita mengkritik orang lain, kita akan merasa “kenapa tadi berbicara seperti itu ya?” ketika sudah berlalu. Tapi bagaimana dengan orang yang dikritik?

Bukankah sakit hati yang dirasakan akan datang pada saat itu juga?

Apakah dia bisa segera melupakannya?

Pun kalau kita meminta maaf dan jika dimaafkan, apakah keadaan tetap seperti semula?

Sebenarnya hal tersebut bisa saja menjadi bumerang untuk ketika kita berbicara dan menyakiti orang lain. Tapi kenapa bisa kalimat-kalimat tersebut dengan mudahnya keluar dari mulut kita secara sadar maupun tidak sadar?

Karena pada dasarnya setiap orang memiliki mindsetnya masing-masing. Akan ada beberapa reaksi yang dilakukan setiap individu ketika mendengar hal yang tidak sesuai dengan hidupnya.

Entah itu diam, mengkritik orang lain, dan menggabungkan kedua mindset yang ada.

Ada yang mengatakan diam itu emas, ada juga yang menentangnya. Jika kita lihat dari beberapa kondisi, memang benar diam adalah emas. Meskipun emas sendiri tidak mudah lapuk, tapi apakah jika dibiarkan saja emas tersebut akan terus berbinar jika seperti ini keadaannya?

Tidak akan ada kelanjutan jika kita terus diam dan tidak menyelesaikannya. Pasti ketika kita merasa ada yang salah dari seseorang, kita ingin memperbaikinya. Hal tersebut tidak bisa disalahkan. Tapi bagaimana cara mengkritik dengan melontarkan kalimat-kalimat yang membangun merupakan poin pentingnya.

Tidak apa berbicara, tidak apa menanggapi, tidak ada yang salah dari semua hal tersebut jika kita memang memikirkannya matang-matang dan tidak berusaha menjatuhkan orang lain.

Tapi kalau memang bisa, mengapa tidak menyatukan kedua tanggapan sehingga tidak ada yang berat sebelah dan tidak ada yang merasa tersakiti?

Ada banyak cara di dunia ini sebetulnya, namun bagaimana cara kita bisa menanggulangi masalah tersebut merupakan tombaknya. Jalan mana yang akan kita ambil, itu terserah kita. Toh pada akhirnya yang akan menganggung semuanya kembali ke kita lagi.

Ketika ingin melakukan suatu hal, ada saatnya pula ketika kita harus tahu apa yang akan terjadi nantinya.

Lah kita kan bukan cenayang?

Walau bukan cenayang sekali pun, ketika kita mengambil tindakan, bukankah setidaknya kita sudah memprediksi beberapa kemungkinan yang akan terjadi?

Di bagian itulah seharusnya kita sadar tentang apa yang baik dilakukan maupun tidak baik dilakukan.

Seperti kalimat awal yang telah saya tuliskan, “Berpikirlah dua kali sebelum bertindak.”

Untuk apa kita hidup di dunia ini, pasti setiap manusia punya tujuannya masing-masing. Entah bagi mereka itu tujuan dunia maupun tujuan akhirat.

Yang pasti, bukankah kita diberikan kesempatan hidup sekali di dunia ini bukan untuk melukai orang lain? Kalau pun di dalam diri kita ada rasa ingin melukai orang lain, karena apa?

Hidup memang tidak hanya sekedar tertawa manis dengan senyum lebar karena bangga atas hal-hal yang baik, karena di balik itu semua ada jalan yang cukup curam yang bahkan bisa saja membuat kita terluka setiap kali melangkah.

Justru karena itulah, apakah hidup menghakimi orang lain dengan tindakan maupun kata-kata dapat membuat kita tertawa manis karena lega atas apa yang dimiliki? Atau hanya tertawa manis karena bisa melihat orang lain terluka?