Pada Maret 2020 lalu, Indonesia dihebohkan dengan masuknya virus COVID-19 ke Indonesia dan menyebar dengan begitu cepat. Bahkan, peneliti saat ini telah mengkonfirmasi bahwa virus COVID-19 telah bermutasi dan menjadi momok tersendiri bagi masyarakat Indonesia. 

Walaupun sudah terdapat vaksin yang telah mendapat izin penggunaannya oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan telah terdistribusi dipelayanan kesehatan di Indonesia, namun sampai saat ini penggunaannya masih dibatasi dan sebagian besar masyarakat belum mendapatkan vaksin tersebut. 

Oleh karena itu, berbagai cara ditempuh masyarakat agar terhindar dari virus COVID-19 ini. Mulai dari penggunaan obat modern hingga penggunaan obat herbal.

Banyak beredar informasi mengenai penggunaan obat herbal dapat menyembuhkan COVID-19 tersebar melalui broadcast grup keluarga, grup rekan kerja, internet, atau media-media lain. Sebagian besar dari informasi tersebut tidak memiliki dasar yang jelas. 

Obat herbal biasanya didapatkan secara turun-temurun dari nenek moyang terdahulu. Obat herbal atau obat tradisional yang berasal dari tanaman ini diyakini masyarakat memiliki segudang manfaat yang baik bagi tubuh. 

Namun apakah semua obat-obatan herbal tersebut sudah terjamin keamanan dan khasiatnya tanpa menimbulkan efek samping?

Ternyata, tanaman atau obat herbal memiliki efek samping. Walaupun efek samping ini tidak selalu muncul, namun dampak lain yang tidak diinginkan mungkin juga bisa terjadi jika obat herbal tersebut tidak digunakan dengan 3T, yaitu tepat dosis, tepat kondisi, dan tepat waktu pemberian. 

Dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 6 Tahun 2016 Tentang Formularium Obat Herbal Asli Indonesia menjelaskan mengenai informasi penggunaan obat herbal yang ada di Indonesia termasuk efek samping dari masing-masing obat herbal tersebut. 

Beberapa efek samping yang dapat ditimbulkan dari penggunaan obat herbal diantaranya yaitu:

  1. Penggunaan kunyit dapat menyebabkan mual pada dosis tinggi, dan perlu persetujuan dokter jika digunakan untuk ibu hamil dan menyusui.
  2. Penggunaan temulawak dalam dosis yang tidak sesuai dapat mengiritasi lambung.
  3. Penggunaan jahe dapat menyebabkan sedikit nyeri perut dan rasa tidak enak di ulu hati.
  4. Penggunaan produk dengan kandungan bawang putih dapat menyebabkan nyeri lambung dan alergi.
  5. Penggunaan kencur dapat menyebabkan nyeri ulu hati dan alergi.


Selain lima obat herbal diatas, tentunya masih banyak obat herbal yang memiliki efek samping walaupun efek samping tersebut belum tentu muncul pada setiap orang. Beberapa obat herbal juga dapat berinteraksi jika dikonsumsi bersama dengan obat atau makanan tertentu. 

Beberapa hal yang bisa dilakukan sebelum kita mengkonsumsi obat herbal, diantaranya:

  1. Apabila ingin membeli obat herbal yang terjamin dan aman untuk dikonsumsi, belilah di tempat terpercaya seperti di apotek. Tanyakan kepada apoteker mengenai dosis, waktu penggunaan, dan efek samping yang mungkin dapat terjadi.
  2. Apabila ingin membeli secara online makan belilah di website resmi yang telah dipercaya dan mendapat izin resmi. Bila perlu, konsultasikan dahulu kepada tenaga kesehatan seperti apoteker dan dokter sebelum menggunakan produk herbal tersebut.
  3. Melakukan cek KLIK (Cek Kemasan, Cek Label, Cek Izin Edar, dan Cek Kedaluwarsa) agar kita dapat terhindar dari obat yang berbahaya dan tidak memenuhi syarat izin edar dari BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). 
  4. Cek aturan pakai atau dosis yang disarankan. Apabila ketika penggunaan obat herbal tersebut muncul efek samping yang tidak diinginkan, maka segera konsultasikan lebih lanjut kepada apoteker atau dokter.
  5. Berhati-hatilah apabila mendapatkan pesan berantai mengenai penggunaan obat herbal yang diklaim dapat menyembuhkan penderita COVID-19. Segera cek website resmi pemerintah mengenai kebenaran dari isi pesan tersebut.


Hingga saat ini belum ada obat yang diklaim oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), Food and Drug Administration (FDA), maupun Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai obat yang dapat menyembuhkan COVID-19. 

Penting untuk diketahui bahwa, obat herbal bukanlah pengobatan utama untuk mengatasi virus COVID-19 ini. Obat herbah digunakan sebagai alternatif untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar bisa terhindar dari berabagai macam penyakit, termasuk virus COVID-19.

Hal yang wajib dilakukan untuk mencegah penularan virus COVID-19 yaitu, tetap menerapkan protokol kesehatan dengan melakukan 5M, yaitu mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas. 

Selain itu, mengubah pola gaya hidup menjadi lebih sehat, rajin beraktivitas fisik serta berolahraga minimal 15-30 menit dalam sehari, disertai dengan makan makanan yang bergizi seimbang juga menjadi hal penunjang lain yang bisa kita lakukan dalam melawan virus COVID-19 ini. 

Jangan lupa juga untuk saling mengingatkan orang orang sekitar agar dapat menerapkan protokol kesehatan dan menjaga kesehatan agar kita bisa terhindar dari bahayanya COVID-19.

Sekali lagi ditekankan bahwa penggunaan obat-obatan herbal belum tentu terjamin keampuhan dan keamanannya. Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan orang tidak disarankan untuk meminum obat herbal.

Oleh karena itu, sangat penting untuk berkonsultasi kepada dokter atau apoteker obat herbal mana yang dapat digunakan pada kondisi saat ini.


Referensi:

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2016 Tentang Formularium Obat Herbal Asli Indonesia (FOHAI)

Posadzki, P., Watson, L. K., & Ernst, E. 2013. Adverse effects of herbal medicines: an overview of systematic reviews. Clinical medicine (London, England), 13(1): 7–12. https://doi.org/10.7861/clinmedicine.13-1-7

Qonaah S, & Afianto H. 2020. Strategi BPOM Dalam Upaya Mengatasi Pemberantasan dan Penyalahgunaan obat Ilegal Melalui Gerakan "Waspada Obat Ilegal". Jurnal Komunikasi, 11(1): 43-50. DOI: 10.31294/jkom.v11i1.7483

Central for Disease Control and Prevention (CDC). 2021. About Variants of the Virus that Causes Covid-19. (Online). https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/variants/variant.html