1 tahun lalu · 309 view · 4 menit baca · Lingkungan 13578.jpg

Penggunaan Model Panggung Sebagai Inovasi Konservasi Hutan

Ada sekitar 2/3 dari 191 juta hektar wilayah Indonesia merupakan kawasan hutan yang memiliki ekosistem bermacam-macam, mulai dari hutan tropis dataran rendah, hutan tropis dataran tinggi, hingga hutan rawa gambut, hutan rawa air tawar, serta hutan bakau atau mangrove (Nandika, 2005:1). Hutan adalah satu kesatuan ekosistem yang memiliki sumber daya hayati serta didominasi oleh pepohonan, mempunyai peranan positif yang bermacam-macam selain sebagai tempat pelestarian keanekaragaman hayati. 

Dilihat dari kelebihan ekologis, pepohonan hutan bisa memproduksi Oksigen (O2) dari fotosintesis yang mampu menetralisir polutan yang ada di udara. Dari aspek ekonomis, hutan memproduksi banyak komoditi mulai dari kayu, buah, hingga bagian pohon yang lain, dan juga area hutan mampu dijadikan tempat wisata sehingga bisa meningkatkan pendapatan daerah.

Seiring dengan bertambahnya penduduk, kebutuhan pertumbuhan ekonomi, serta kurangnya sistem pengelolaan hutan di Indonesia, ancaman terhadap sumber daya hutan semakin meningkat dan bahkan tidak terkendali. World Bank (1994) menyatakan bahwa laju perusakan hutan di Indonesia dalam waktu 25 tahun terakhir mencapai angka 0,9 juta hektar tiap tahunnya, sementara Program Inventarisasi Hutan Nasional, Departemen Kehutanan menyatakan bahwa laju perusakan hutan rata-rata mencapai 0,8 juta hektar tiap tahunnya. Di tahun 2004 yang lalu, laju kerusakan hutan mencapai 3,6 juta hektar dengan kerugian kurang lebih Rp 30 triliun. Penyebab kerusakan tersebut meliputi:

(1) kegiatan konversi hutan menjadi perkebunan, transmigrasi, permu-kiman, pertambangan dan lain-lain;

(2) penebangan liar

(3) kebakaran hutan yang hampir setiap tahun. Hal-hal tersebut sangat mungkin telah memusnahkan puluhan spesies organisme endemik yang hidup dalam ekosistem hutan

(Nandika: 2005:3-4)

Konsep Hutan Panggung merupakan desain alternatif untuk pembangunan berkelanjutan di masa yang akan datang, melihat kerusakan hutan di Indonesia akhir-akhir ini, perlu disediakan lahan hutan baru untuk menggantikan atau menambah luas hutan-hutan yang terdeforestasi, tanpa terhalangi oleh masalah ketersediaan lahan yang semakin menipis di berbagai daerah, terutama di kota-kota besar di Indonesia, yaitu dengan memanfaatkan ruang angkasa yang kosong. 

Solusi-solusi sebelumnya sudah banyak dijalankan, tetapu secara garis besar dapat dikatakan itu semua hanya berupa pembatasan penguranagn polutan udara serta konservasi hutan. Mengurangi polutan memang penting untuk dijalankan, namun tetap saja fungsi hutan sebagai penyerap polutan menjadi kunci utama. 

Dan upaya konservasi hutan ujung-ujungnya berkaitan dengan luas lahan yang tersedia, sehingga jika diterapkan di perkotaan yang mempunyai lahan terbatas dan padat penduduk akan kurang maksimal. Oleh karena itu, dibutuhkan solusi alternatif lain yang mampu mengatasi permasalahan-permasa-lahan tersebut.

Pembangunan Hutan model Panggung diharapkan mampu menekan tingginya kadar polusi udara yang semakin lama mengalahkan jumlah volume Oksigen (O2) di udara kota. Padahal Oksigen (O2) memiliki peran yang sangat penting dalam menyokong kelangsungan hidup berbagai organisme hidup. 

Berdasarkan perhitungan bahwa setiap 1 m2 ruang terbuka hijau mampu menghasilkan 50,625 gram O2/m2/hari (Gerakis, 1974 yang dimodifikasi Wisesa, 1988 dalam Niti Sesanti et. al, 2011). Ini berarti tiap luasan 1 hektar, O2 per harinya yang mampu diproduksi oleh pepohonan dalam Hutan Panggung adalah mencapai 506.250 gram atau 506,25 kilogram.

Disamping itu itu, Hutan Model Panggung juga akan berperan sebagai “payung kota” yang akan mampu menampung suplai air hujan yang mampu mencegah banjir dan mengalirkannya untuk irigasi pertanian di daerah pinggiran kota, bisa juga disimpan sebagai debit air, dan juga pemanfaatan-pemanfaatan lainnya. 

Hal utama yang harus kita ingat adalah hakikat konsep Hutan model Panggung yang pembangunannya tidak akan memakan lahan dengan jumlah yang berarti. Aktivitas pemanfaatan infrastruktur yang lain pun tidak akan terganggu.

Agar konsep Hutan model Panggung dapat terealisasikan, maka ada beberapa pihak yang dilibatkan dalam mengimplementasikan konsep tersebut, meliputi:

  • Dinas Kehutana, membantu peran pemerintah dalam mengimplementasikan hutan panggung tersebut, membantu penataan hutan dan juga pemeliharaan hutan panggung tersebut.
  • Kontraktor, Seorang kontraktor bangunan memiliki peranan dalam menganalisa kelayakan dari Hutan Panggung jika ditinjau dari kekuatan struktur.
  • Arsitek, Peran pertama arsitek adalah merencanakan implementasi dari konsep Hutan model Panggung yang berisi desain dan struktur dari bangunan tersebut. Peran kedua adalah harus bisa membuat desain yang fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar.
  • Kementrian Lingkungan Hidup, Upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah seperti mempromosikan hutan panggung tersebut melalui sosialisasi kepada masyarakat melalui peraturan pemerintah mengenai adanya hutan panggung tersebut

Pembangunan Hutan model Panggung tak terlepas dari berbagai ancaman yang dapat menghambat fungsi hutan panggung ini, salah satunya adalah erosi. Erosi dapat disebabkan oleh air maupun angin. Tidak dapat dipungkiri bahwa nantinya butiran hujan yang turun akan langsung mengenai permukaan tanah. 

Akibatnya lapisan teratas tanah (top soil) yang banyak mengandung zat hara menjadi terkikis. Selain itu, hembusan angin juga dapat membawa partikel halus di permukaan tanah. Karena kedua hal ini dapat memperburuk kualitas tanah, maka pada lahan di tiap sela pepohonan akan ditanami rumput untuk memperlambat aliran air permukaan sehingga mengurangi jumlah tanah yang dibawa. Selain itu juga perlu diadakan pengecekan mutu tanah secara berkala untuk menjaga tanah tetap optimal sebagai media tumbuh pepohonan dan berbagai jenis tumbuhan yang ditanam nantinya.

 Hutan model Panggung dapat digolongkan kedalam definisi Hutan Konservasi yang lebih spesifik lagi merupakan Kawasan hutan Pelestarian Alam (KPA), yaitu hutan dengan ciri khas tertentu, yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.