Pengarang
4 minggu lalu · 102 view · 6 min baca menit baca · Pendidikan 34812_92728.jpg
Ilustrasi: Apple

Penggunaan Kalimat Efektif

Kalimat ialah satuan bahasa yang terkecil, dalam wujud lisan atau tulisan yang memiliki sekurang-kurangnya subjek (S) dan predikat (P). Jika tidak mempunyai S dan P, pernyataan itu bukanlah kalimat, melainkan frasa. 

Kalimat bagi seorang pembaca ialah kesatuan kata yang mengandung makna/pikiran. Sedangkan bagi seorang penulis, kalimat ialah satu kesatuan pikiran/makna yang diungkapkan dalam kesatuan kata (Ali Murthado dan Rahmat Hidayat Nasution, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi Teori dan Praktik Menulis Karya Ilmiah. (Medan: Wal Ashri Publishing, 2015). Cet. 3. hlm. 41).

Untuk mengungkap fakta atau pemikiran, baik lisan maupun tulisan, tentu harus dengan ungkapan yang tertata tepat (efektif) dan memiliki kesatuan makna agar ungkapan tersebut tidak salah definisi.

Kalimat efektif ialah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat-syarat komunikatif, gramatikal, dan sintaksis saja, tetapi juga harus hidup, segar, mudah dipahami, serta dapat menimbulkan daya khayal pada diri pembacanya. 

Kalimat efektif berguna untuk mewakili gagasan pembicara atau penulis dan mampu menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran orang lain (pembaca atau pendengar).

Kalimat efektif dalam pembentukannya memiliki syarat-syarat, yaitu gramatikal, kesatuan gagasan dan kesepadanan, kehematan, kesejajaran, kecermatan, ketegasan makna, kepaduan, dan logis.

1. Gramatikal

Gramatikal sering sekali menjadi masalah utama dalam ketidakefektifan kalimat, sehingga menimbulkan makna yang keliru. 

Contoh: 

Untuk melengkapi dua kalimat berikut, kata manakah yang cocok?

(a) menugaskan               (b) menugasi

a. Rektor ... ketua panitia pemilihan presiden mahasiswa membuat laporan pertanggungjawaban seminggu setelah pemilihan.

b. Rektor ...  laporan pertanggungjawaban yang transparan kepadanya.

Penyelesaian:

a. Rektor (b) menugasi ketua panitia pemilihan presiden mahasiswa membuat laporan pertanggungjawaban seminggu setelah pemilihan.

b. Rektor (a) menugaskan laporan pertanggungjawaban yang transparan kepadanya.


Kata menugaskan dan menugasi sama-sama merupakan P sebagai pelengkap dua kalimat di atas tentu mengecoh kita apabila tidak mengetahui makna dalam sebuah kalimat tersebut.

Penggunaan sufiks –kan dan –i tentu memiliki makna yang berbeda walaupun dalam kata dasar yang sama, misalnya kata tugas, jika diberi afiks menjadi menugaskan dan menugasi. Menugaskan memiliki makna menyerahkan tugas, pekerjaan (kewajiban) kepada:, sedangkan menugasi memiliki makna memberi seseorang tugas; menyerahi seseorang tugas:

Sufiks –kan dan –i memiliki beberapa perbedaan, meski terkadang dalam penggunaannya seolah-olah tampak sama. Melihat dua kalimat di atas objek (O) pada kalimat (a) menunjukkan pergerakan sedangkan kalimat (b) menunjukkan tidak adanya pergerakan.

2. Kesatuan Gagasan dan Kesepadanan

Kesatuan gagasan dan kesepadanan kalimat yang efektif ditandai dengan adanya subjek dan predikat yang jelas dan keseimbangan antara gagasan dan struktur bahasa yang digunakan.

Contoh:

a. Bagi para pemenang lomba foto harap mengambil hadiah di sekretariat LPM Dinamika UIN Sumatera Utara.

b. Kepada yang tidak berkepentingan dilarang masuk.

Kalimat di atas dapat diefektifkan menjadi:

a. Para pemenang lomba foto harap mengambil hadiah di sekretariat LPM Dinamika UIN Sumatera Utara.

b. Yang tidak berkepentingan dilarang masuk.

Kalimat yang telah diubah (diefektifkan) di atas menunjukan keseimbangan antara gagasan dengan struktur bahasa yang digunakan. Penyertaan subjek bagi atau kepada pada kalimat tersebut tidak relevan sehingga tidak memiliki kejelasan subjek. 

Perbedaannya dengan kalimat yang telah diefektifkan pada kalimat (a) para pemenang lomba foto sebagai S sudah seimbang dengan harap mengambil sebagai P, begitu pun dengan kalimat (b) kata pronomina yang sebagai penyertaannya tidak berkepentingan sebagai S seimbang dengan dilarang sebagai P.

3. Kehematan

Hemat yang dimaksud adalah tidak mubazir dalam menggunakan kata, frasa, atau unsur lainnya. Penghematan kata juga harus sesuai dengan kaidah kebahasaan.

Contoh:

a. Ussy pulang kampung hanya sendiri saja.

b. Pancasila adalah merupakan ideologi bangsa Indonesia.

Kalimat di atas dapat diefektifkan menjadi:

a. Ussy pulang kampung sendiri saja.

b. Pancasila adalah ideologi bangsa Indonesia.

Kata hanya dan saja pada kalimat (a) begitu juga kata adalah dan merupakan pada kalimat (b) memiliki makna yang sama sehingga dapat diefektifkan dengan memilih salah satunya. Kalimat tersebut dapat langsung diketahui maknanya tanpa menggunakan kesepadanan kata yang terkesan bertele-tele dan tidak hemat kata.

4. Kesejajaran

Arti kesejajaran dalam kalimat efektif adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan. Misalnya, bila bentuk pertama menggunakan kata kerja (verba), bentuk-bentuk selanjutnya juga harus berbentuk kata kerja. Begitupun seterusnya untuk jenis kata lain.

Contoh:


a. Agenda musyawarah LPM Dinamika hari ini adalah pembahasan rencana ke depan untuk menilai hasil yang dicapai.

b. Pak Prabowo lebih memilih tinggal di Indonesia karena pengabdian pada bangsa sendiri itu lebih penting.

Kalimat di atas dapat diefektifkan menjadi:

a. Agenda musyawarah LPM Dinamika hari ini adalah membahas rencana ke depan untuk menilai hasil yang dicapai.

b. Pak Prabowo lebih memilih tinggal di Indonesia karena mengabdi pada bangsa sendiri itu lebih penting.

Kata pembahasan dan menilai pada kalimat (a) dapat disejajarkan dalam satu jenis afiks yaitu membahas dan menilai atau bisa juga pembahasan dan penilaian. Begitu juga kata memilih dan pengabdian pada kalimat (b) dapat disejajarkan dengan mengubah afiksnya menjadi memilih dan mengabdi.

5. Kecermatan

Yang dimaksud kecermatan adalah tidak menimbulkan penafsiran ganda (ambigu) dan tepat dalam pilihan kata.

Contoh:

Ucok membawa dua kotak susu.

Kalimat di atas dapat diefektifkan menjadi:

a. Ucok membawa susu sebanyak dua kotak.

b. Ucok membawa dua buah kotak susu.

Kalimat Ucok membawa dua kotak susu memiliki makna ganda sehingga dapat menimbulkan dua simpulan atau kemungkinan seperti pada pengubahan kalimat tersebut. Makna kalimat pertama yang diefektifkan adalah yang dibawa Ucok adalah susu sebanyak dua kotak, sedangkan kalimat kedua yang dibawa Ucok adalah dua buah kotak susu.

6. Ketegasan Makna

Ketegasan makna adalah upaya memberi penegasan atau penekanan pada kalimat dengan tujuan menonjolkan pikiran pokok. Kata yang ingin ditonjolkan dapat menggunakan intonasi atau akting jika dalam bahasa lisan namun, jika dalam tulisan dapat dituliskan di awal kalimat.

Contoh:

Mahasiswa UIN SU seharusnya mampu bersaing dengan mahasiswa universitas lain di ajang nasional maupun internasional, begitu rektor mengharapkan.

Kalimat di atas dapat diefektifkan menjadi:

Rektor mengharapkan mahasiswa USU mampu bersaing dengan mahasiswa universitas lain.

Hal yang menonjol dari kalimat di atas adalah harapan Rektor USU bahwa mahasiswanya harus mampu bersaing. Rektor sebagai subjek dipindahkan menjadi kata yang pertama, berharap sebagai predikat verba sedangkan objeknya adalah mahasiswa USU.

7. Kepaduan

Kepaduan dalam kalimat efektif adalah hubungan timbal balik yang jelas antara unsur-unsurnya.

Contoh:

a. Hidup jangan mengharapkan akan belas kasihan orang lain.


b. Uang pendaftaran itu saya sudah berikan tadi.

Kalimat di atas dapat diefektifkan menjadi:

a. Hidup jangan mengharapkan belas kasihan orang lain.

b. Uang pendaftaran itu sudah saya berikan tadi.

Pada kalimat (a) tanpa ada kata akan dapat berdiri sendiri tanpa mengubah maknanya walaupun kata akan berfungsi sebagai perangkai objek namun, kata akan pada kalimat tersebut tidak relevan digunakan dalam kepaduan kelimat. 

Begitu juga dengan kalimat (b), antara saya sudah dengan sudah saya adalah masalah subjek dan predikat. Kepaduan sebuah kalimat ditandai dengan subjek yang menyertai predikat bukan predikat yang menyertai subjek.

8. Logis

Kelogisan dalam kalimat efektif adalah dapat diterima oleh nalar dan sangat erat kaitannya dengan tata bahasa.

Contoh:

Kepada Abangda Ketua Panitia waktu dan tempat kami persilakan memberi kata sambutan.

Kalimat di atas dapat diefektifkan menjadi:

Abangda Ketua Panitia kami silakan memberi kata sambutan.

Kata kepada dapat ditiadakan agar lebih padu dan waktu dan tempat tidak bisa dipersilakan karena memang sudah ada waktu dan tempat dan juga terkesan tidak santun seakan-akan orang yang mempersilakan memberi kesempatan tersisa.

Kepustakaan

  • A., Alek. dan Achmad H.P. 2010. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Kencana.
  • Awalludin. 2017. Pengantar Bahasa Indonesiauntuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Penerbit Deepublishing.
  • Hidayah, Nurul. 2016. Pembelajaran Bahasa Indonesia di Perguruan Tinggi. Yogyakarta: Penerbit Garudhawaca.
  • Murthado, Ali. dan Rahmat Hidayat Nasution. 2015. Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi Teori dan Praktik Menulis Karya Ilmiah. Medan: Wal Ashri Publishing.

Artikel Terkait