Pandemi coronavirus membuat banyak aktivitas terhenti, bahkan pertandingan sepak bola di Liga Premier Inggris pun ikut terhenti. Berhentinya pertandingan di liga Inggris bukan berarti berhenti pula berita-berita yang berhubungan dengan sepak bola dari Inggris.

Berita menghebohkan datang dari klub Newcastle United. Klub yang berasal dari timur laut Inggris ini menghebohkan media massa dengan rumornya yang akan dibeli oleh Muhammad bin Salman.

Putra mahkota dari Arab Saudi itu dikabarkan rela membayar 300 juta pounds dari tangan Mike Ashley. Walau sebenarnya proyek ini bukan hanya proyek Muhammad bin Salman saja karena ini adalah proyek konsorsium yang dipimpin oleh pengusaha wanita bernama Amanda Staveley.

Tentu saja walau belum pasti, tapi kabar ini disambut gembira oleh para fans Newcastle United, baik di Inggris ataupun fans mereka yang berada di Indonesia. Prestasi adalah alasan dari kebahagiaan ini. 

Harus diakui, untuk menjadi klub bola berprestasi, diperlukan uang yang sangat banyak. Presiden klub tidak boleh pelit untuk mengeluarkan banyak dana untuk pembangunan klub. Setidaknya itulah yang ditunjukkan dari Chelsea, Manchester City, dan Paris Saint-Germain.

Chelsea, sebelum dimiliki oleh pengusaha Rusia Roman Abramovich, hanyalah klub yang tidak memiliki prestasi mengagumkan. Setelah dimiliki oleh Abramovich pada 2003, Chelsea bertransformasi menjadi klub papan atas yang diunggulkan dalam perebutan gelar liga Inggris.

Manchester City jauh lebih parah dibandingkan Chelsea. Sebelum kedatangan Sheikh Mansour, City adalah tim yang kurang dianggap di Inggris. Ini dibuktikan pada 2008 Manchester City dibantai telak 8-1 oleh Middlesbrough. Bahkan Manchester City diberi julukan khusus oleh Sir Alex Ferguson dengan sebutan tetangga berisik.

Paris Saint-Germain (PSG) di Prancis juga memiliki pengalaman serupa dengan Manchester City. Hadirnya Qatar Sports Investment membuat PSG menjadi tim yang begitu superior di liga Prancis dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan sekarang PSG sangat diperhitungkan di pentas Liga Champions.

Dengan hadirnya pundi-pundi harta Muhammad bin Salman, Newcastle United tentu punya kesempatan untuk bisa meniru kesuksesan dari Chelsea, Manchester City, dan PSG. Tapi harus diingat, Newcastle United mungkin saja bisa meniru jejak klub asal Spanyol Malaga.

Pada 2010, Malaga kedatangan Abdullah Al Thani dari Qatar. Kedatangan Al Thani juga disambut dengan gembira oleh malaguistas (sebutan penggemar Malaga). Kedatangan Al Thani menumbuhkan harapan akan menjadikan Malaga klub besar yang bisa menyaingi kedigdayaan dari Barcelona dan Real Madrid. 

Mimpi Malaga menjadi tim besar tentu saja terinspirasi dari kesuksesan Manchester City yang pada  2010 sukses finis di posisi 5 liga Inggris dan bermain di liga Eropa.

Awalnya impian untuk menjadi tim besar sepertinya akan terwujud. Memasuki pertengahan tahun kompetisi 2010-11, Malaga menunjuk pelatih Manuel Pellegrini. Memasuki kompetisi 2011-12, Malaga merekrut pemain dengan nama besar seperti Santi Cazorla bahkan Ruud Van Nistelroiy.

Tahun kompetisi 2011-12 bisa dikatakan menjadi tahun terbaik bagi Malaga. Hal ini bisa dilihat dengan finish-nya Malaga pada peringkat 4 liga Spanyol, Malaga berhak mengikuti kualifikasi liga Champions melalui jalur play off.

Pada liga Champions tahun kompetisi 2012-13, Malaga mempunyai prestasi yang terbilang sangat memuaskan. Di tahun ini pula, Malaga sukses memuncaki grup C di atas Ac Milan. 

Pada masa knock out 16 besar, Malaga sukses mengalahkan FC Porto dengan agregat 2-1. Langkah Malaga harus terhenti saat berhadapan dengan Borussia Dortmund dengan agregat 2-3 pada perempat final.

Di balik kesuksesannya, ternyata Malaga memiliki begitu banyak masalah keuangan, dimulai dari keterlambatan gaji pemain hingga utang yang menumpuk. Malaga juga terpaksa menjual para pemain bintangnya. Inilah awal mula dari kemunduran yang akan dialami oleh Malaga.

Praktis, dari tahun kompetisi 2013-14, tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan dari Malaga. Dari tahun ke tahun, peringkat Malaga terus menurun hingga puncaknya pada tahun kompetisi 2017-18 di mana Malaga harus terdegradasi karena hanya berhasil finish di peringkat 20. Sampai dengan tahun ini, Malaga terus bermain di kasta kedua liga Spanyol (Segunda Division).

Mimpi malaguistas akan kejayaan Malaga hanyalah angan-angan belaka. Mimpi tersebut tentu sudah seharusnya dikubur. 

Tidak jelas apa alasan dari Abdullah Al Thani membiarkan klub yang dibelinya kembali menjadi klub medioker. Yang jelas adalah sepak bola adalah sebuah bisnis industri hiburan. Apa gunanya menaruh uang untuk hal yang tidak menguntungkan, mungkin itu pikir Al Thani.

Sebagai pengusaha, Muhammad bin Salman tentu membeli Newcastle United dengan impian agar pundi-pundi kekayaannya bisa bertambah. Jika dengan membuat Newcastle United menjadi tim raksasa bisa menambah keuntungan, maka hal itu sudah pasti akan dilakukan.

Tidak perlu berekspetasi terlalu tinggi, tapi melihat dari potensi yang dimiliki Newcastle United, walaupun liga Inggris memiliki persaingan yang ketat, tapi menjadikan Newcastle United berada di posisi 7 besar saja sebenarnya adalah hal yang paling mungkin dilakukan. 

Harus diketahui bahwa di Inggris, Newcastle United adalah tim dengan salah satu basis penggemar terbesar. Setidaknya bisa mendapatkan pemasukan dari pembelian tiket, pembelian cendera mata, dan hadirnya sponsorship.

Walau semuanya kembali ke masalah dana, tapi membangun sebuah klub juga memiliki berbagai cara apakah ingin menggunakan cara super cepat seperti PSG, Manchester City, atau mau dengan cara smooth seperti Red Bull Leipzig.

Patut ditunggu apakah Newcastle United akan menjadi tim besar seperti dalam film Goal, atau malah akan menjadi tim medioker seperti Malaga.