Manusia terlahir tanpa memiliki pengetahuan, kalaupun bayi yang baru lahir itu menangis barangakali karena terkejut melihat silaunya dunia dan tubuhnya yang kedinginan. Semakin bertambahnya usia maka berkembang pula pengetahuan manusia.

Ketika tumbuh dewasa, banyak pengetahuan yang telah diketahui, tidak tahu juga berapa banyak yang belum diketahui, dan bahkan ada yang tidak tahu arti dari pengetahuan itu sendiri. Secara sederhana pengetahuan adalah segala sesuatu yang telah diketahui, yang awalnya tidak tahu menjadi tahu.

Dari segi motif, pengetahuan diperoleh dengan dua cara:

Pertamapengetahuan yang didasari tanpa adanya motif, tanpa niat, tanpa usaha, dan tanpa keingintahuan. Pengetahuan itu datang secara tiba-tiba, contoh ketika ada seseorang sedang berjalan, lalu tanpa disengaja tiba-tiba tersandung dan kakinya terluka, maka seketika orang itu menjadi tahu rasanya sakit saat terluka.

Keduapengetahuan yang didasari motif ingin tahu, niat, dan usaha. Pengetahuan seperti  ini biasanya diperoleh dengan proses kegiatan belajar mengajar, kajian, atau forum diskusi yang mana di dalamnya terdapat proses ingin tahu.

Macam-macam Pengetahuan

Pertama, Pengetahuan Sains (Knowledge Scientific)

Pengetahuan sains adalah pengetahuan rasional yang didukung oleh bukti empiris. Rasional berati menurut pikiran akal sehat dan di pertimbangkan secara logis, sedangkan empiris berati segala sesuatu yang berdasarkan pengalaman terutama diperoleh dengan penemuan, percobaan, dan pengamatan.

Objek penelitian pengetahuan sains adalah bukti yang empiris. Contoh, jeruk selalu berbuah jeruk, rasional jeruk selalu berbuah jeruk karena bibit jeruk berisi gen jeruk yang ketika bibit jeruk itu ditanam menghasilkan pohon jeruk. Kemudian bukti empirisnya adalah ternyata pohon jeruk itu menghasilkan buah jeruk.

Kedua, Pengetahuan Filsafat

Sebagian orang penasaran dan ingin tahu lebih mendalam “kenapa ya jeruk selalu berbuah jeruk”, untuk menjawab pertanyaan ini tidak bisa dilakukan dengan penelitian yang empiris, karena jawabannya bukan pada bukti empiris. Untuk menjawab pertanyaan tersebut terdapat dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama secara kebetulan saja memang jeruk selalu berbuah jeruk, dalam filsafat hal tersebut dinamakan teori kebetulan, namun tentu teori ini lemah karena tidak memiliki landasan dasar yang jelas.

Kemungkinan kedua jeruk selalu berbuah jeruk karena ada aturan atau hukum yang mengatur bahwa jeruk selalu berbuah jeruk. Hukum itu terletak pada gen yang ada di dalam bibit jeruk.

Para ahli mengatakan bahwa hukum itu tidak terlihat dan tidak empiris, namun rasio mengatakan hukum itu ada dan bekerja. Teori jeruk selalu berbuah jeruk karena ada aturan atau hukum yang mengatur demikian adalah teori filsafat.

Pengetahuan
Paradigma
Objek
Metode
Kriteria
Sains
Sains (ilmiah)
Sains (ilmiah)
Sains (ilmiah)
Rasional-Empirik
Filsafat
Rasional
Abstrak Rasional
Rasional
Rasional


Critical Thinking Buah Hasil dari Sains dan Filsafat

Perkembangan media informasi berbasis digital begitu pesat saat ini, manusia begitu mudah mengakses segala bentuk informasi dengan modal internet dan gadget. Namun masih banyak orang-orang yang mudah termakan oleh informasi atau berita hoaks yang cenderung mendatangkan keributan masyarakat.

Oleh karena itu, pengetahuan sains dan filsafat sangat diperlukan agar manusia dapat berpikir rasional dan mendapatkan bukti atau data yang valid. Hal tersebut menunjukkan bahwa untuk mendapatkan informasi yang valid. Manusia perlu berpikir secara kritis. Berpikir kritis atau dalam bahasa Inggris Critical thinking merupakan proses mencegah segala bentuk informasi palsu atau hoaks.

Critical thinking adalah proses seseorang berpikir dengan lebih lambat untuk mengkontruksikan hal yang dipikirkan agar dapat mengambil kesimpulan terbaik dengan menggunakan logika dan data serta meminimalisir terjadinya bias.  Proses yang diperlukan dalam berpikir kritis yaitu identifikasi, observasi, analisis, evaluasi, refleksi, inferensi dan kesimpulan.

Dikutip dari aeseducation.com -  Critical thinking merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh para pendidik, pembisnis, akademisi dan lembaga pemerintah dalam beraktivitas sosial dan penunjang karir pada abad ke 21.

Setidaknya ada empat proses yang meningkatkan seseorang dapat berpikir kritis:

Pertama, Formulasikan pertanyaan sebelum memutuskan sesuatu, bertanya merupakan cara terbaik untuk menggali informasi sedalam mungkin, agar informasi yang didapat benar-benar rasional dan bukti yang jelas.

Kedua, Cari informasi yang relevan untuk memperkuat data ketika memformulasikan pertanyaan.

Ketiga, Pertimbangkan dampak dari keputusan yang dibuat, agar mendapatkan dampak yang baik dari hasil keputusan yang telah kita buat.

Keempat, Explore alternatif pandangan lain, barangkali ada sudut pandang lain yang berdampak lebih baik untuk kita.

Dilansir dari TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika atau Kominfo menemukan 9.546 hoaks telah tersebar di berbagai platform media sosial di Internet. Data itu terangkum dalam kurun tiga tahun mulai Agustus 2018 hingga awal 2022. Selain berita hoaks, terdapat konten-konten negatif seperti penipuan pinjaman online sampai aspek-aspek radikal.

Hukum Bagi Penyebar Hoaks

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto, menegaskan akan memberikan hukum positif kepada masyarakat yang sembarangan menebarkan informasi palsu atau hoax di dunia maya. Hukum positif yang dimaksud adalah hukum yang berlaku.

Bagi penyebar hoaks akan dikenakan KUHP, Undang-Undang No.11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Undang-Undang No.40 Tahun 2008 tentang penghapusan diskriminasi ras dan etnis, dan tindakan ketika ujaran kebencian telah menyebabkan terjadinya konflik sosial.

Rikwanto mengungkapkan, penyebar hoaks di dunia maya juga bisa dikenakan ujaran kebencian yang telah diatur dalam KUHP dan UU lain di luar KUHP. Ujaran kebencian ini meliputi penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menenangkan, memprovokasi, menghasut, dan penyebaran berita bohong.

Rikwanto menjelaskan, ujaran kebencian ini bertujuan untuk menghasut dan menyulut kebencian terhadap individu atau kelompok masyarakat yang meliputi suku, agama, aliran keagamaan, ras, antargolongan, warna kulit, etnis, gender, kaum difabel, hingga orientasi seksual.

Ujaran kebencian atau hate speech ini dapat dilakukan dalam bentuk orasi kampanye, spanduk, jejaring media sosial, penyampaian pendapat di muka umum, ceramah keagamaan, media massa cetak maupun elektronik, sampai pamflet.

Kesimpulan dari semua uraian di atas adalah pentingnya memiliki wawasan yang luas serta berpikir secara kritis agar tidak terjebak pada kebodohan, keributan, dan informasi yang palsu atau hoaks. Albert Einsten pernah berkata “Semakin banyak belajar, justru semakin sadar aku tidak tahu apa-apa”.

Referensi: