Profesi meminta-minta atau dikenal dengan sebutan mengemis makin diminati, cukup dengan mengulurkan tangan bisa menghasilkan sejumlah uang yang cukup. Bukan hanya cukup makan, tetapi cukup pula untuk membangun rumah.

Menjadi pengemis yang profesional dan teroganisir memang cukup menjanjikan. Mengemis bukan hanya dilakukan di jalan-jalan tetapi sering dilupakan juga para peminta-minta berdasi atau berpeci memakai kendaraan dengan membawa proposal sumbangan mengharapkan iba dari rumah ke rumah atau toko ke toko.

Mengemis memiliki beragam tujuan dan kondisi, baik karena memang tak ada lapangan pekerjaan yang bisa didapat sampai karena motif memperoleh pendapatan yang besar. Bayangkan, pengemis rata-rata bisa memperoleh 300.000 /hari. Sementara Anda yang bukan pengemis, berapa pendapatan Anda perbulan? 

Beragam pernyataan muncul menanggapi hal ini, setiap dari pembaca bisa memiliki pandangannya sendiri. Bagaimana agama memandangnya?

Agama selalu memiliki cara pandangnya tersendiri yang jauh lebih manusiawi. Bagi si peminta-minta (tasawwul), agama memahami bahwa setiap manusia dilengkapi dengan naluri untuk bertahan hidup, melalui daya pilih (ikhtiar) sesuai daya upaya masing-masing.

Tantangan hidup yang keras membuat sebagian orang tidak lagi mengenal cara-cara makhruh, halal atau haram. Lebih dari itu, dalam agama ada ajaran bahwa untuk mempertahankan hidup yang benar-benar terancam, maka dalam keadaan darurat (tak ada pilihan lain) diperbolehkan melakukan apa saja – sekalipun yang terlarang (mahdzur) demi keselamatan jiwa; seperti memakan bangkai, memakan hewan yang diharamkan apalagi hanya sekedar meminta-minta.

Begitu pula bagi si pemberi kepada si peminta-minta. Masyarakat beragama sebenarnya sudah terbiasa dengan ciri hidup bermasyarakat, misal melalui ibadah berjamaah atau mengumpulkan harta kepada baitul mal.

Watak manusia sebenarnya al-insanu madaniyun biththabi’I yaitu berwatak kemasyarakatan. Jadi, begitu melihat para peminta di jalan yang menampilkan fisik memelas dan tak berdaya, secara spontan mereka akan tergerak untuk memberi pertolongan.

Namun sebenarnya agama juga memberi batasan akan hal itu, masyarakat dibatasi untuk menolong dalam hal yang baik saja (surah al-Maidah:2).

Masyarakat secara pribadi dan umum terlupakan dengan furudh al-kifayah, bagaimana kewajiban-kewajiban dalam masyarakat tidak dijalankan di antaranya meningkatkan kecerdasan pengetahuan, ibadah dan kesejahteraan masyarakat.

Dalam ajaran agama dikenal dengan perkataan, ‘tidak dibenarkan memelaratkan diri sendiri dan tidak dibenarkan menyusahkan orang lain.’ Sekarang ini kesadaraan masyarakat akan hal di atas sudah diambang jurang, sehingga permasalahan kemasyarakatan banyak timbul. Hidup sudah semakin masing-masing, tak lagi memerhatikan tetangga terdekat sekalipun.

Dalam pengaturan negara hak hidup ada jaminan untuk dilindungi, seperti itu juga dalam ajaran agama surah al-Isra ayat 70, status manusia dijelaskan sebagai al-karamah al-insaniyah: manusia seharusnya memiliki kedudukan yang mulia, diberikan martabat yang terhormat.

Dalam pengaturannya, negara dihadapkan oleh berbagai jenis manusia yang menjadi tanggungjawab pemerintah untuk mengaturnya. Pertama, manusia yang kerjanya merusak (surah al-Baqarah dan al-isra ayat 30). Kedua, manusia yang suka membangun (surah Hud:61 dan al-Baqarah:31). Dan, ketiga manusia yang pandai memelihara sebagaimana sabda Rasulullah saw bahwa kalian adalah pemelihara (ra’in) dan yang bertanggungjawab (mas’ul).

Jika si peminta-minta ini dalam keadaan terpaksa maka kewajiban masyarakat sekitar dan negara untuk tetap memuliakan para peminta-minta, bukan malah menghina kehormatannya (Ad-Dhuha:10) apalagi memenjarakan mereka sebab mereka tetap masuk golongan al-karomah al-insaniyah.

Namun, jika mereka menjadikan ini sebagai penghasilan rutin apalagi terorganisir berkedok pemalsuan dan penipuan maka dalam pandangan agama mereka layaknya seperti meminta bara api (HR. Ahmad) dan negara wajib mengadili mereka sebab mereka termasuk golongan manusia yang suka merusak.

Dengan memberi hukuman kepada mereka, negara telah melindungi hak kepemilikan harta benda seseorang atas tindakan penipuan.

Ini setidaknya kebiasaan para pengemis yang membuat mereka bertahan dalam profesi tersebut, yaitu kelemahan secara semangat dan ilmu, kemalasan secara mental, ketakutan dalam kesuksesan berusaha, tertindih hutang membuat orang sulit bangkit dari kemiskinan, dan dikuasai orang lain dalam hal pemerasaan atau perbudakan.

Tentu pemerintah dihadapkan pada permasalahan yang sulit jika menghadapi manusia jenis seperti ini.