…mudah ditemui baik hasil olahan rumah tangga maupun penjaja masakan…

Lima huruf, satu kata, tiga konsonan, dua vokal yang sama, adalah olahan masakan yang sangat populer bagi masyarakat Indonesia, tiada pernah salah untuk disajikan pada pagi, siang, sore maupun malam hari, baik pada cuaca musim kemarau atau penghujan, adalah Pecel namanya.

Javanese Salad, demikian istilah keren agar Pecel lebih dikenal oleh dunia. Tak berlebihan, mengingat bahan utama masakan yang bisa bersanding dengan nasi ataupun lontong ini adalah beragam sayuran rebus matang, termasuk sebagian sayur mentah, seperti irisan mentimun dan daun kemangi.

Mirip olahan Salad, yang bertabur limpahan pasta, maka Pecel juga berlimpah bumbu utama berupa pasta ulekan kacang yang berpadu dengan aneka bumbu iklim tropis lain seperti bawang merah, bawang putih, cabe merah, daun jeruk, asam Jawa dan gula merah.

Hampir sama dengan Salad pula, maka Pecel memiliki kandungan gizi protein utama dari nabati bukan hewani. Meski, olahan Pecel juga sering kali dihidangkan dengan lauk pelengkap protein hewani, macam telur dan daging.

Pulau Jawa, khususnya wilayah Jawa Timur, masakan Pecel sangat populer. Bahkan di beberapa daerah menjadi menu masakan wajib yang mudah ditemui baik hasil olahan rumah tangga maupun penjaja masakan sekelas gerobak dorong, warung tenda, warung rumah kayu, warung rumah tembok, depot hingga kelas restoran.

Terdapat keasyikan tersendiri dalam mengulas serba-serbi Pecel. Karena selain membahas aneka ragam hasil olahan beberapa daerah yang menghasilkan cita rasa unik, maka juga bisa menjadi pengamatan awal untuk mencoba memahami karakter sosial yang unik pula dari daerah yang mengolah Pecel sebagai menu sehari-hari.

Apabila penyebaran nenek moyang kebanyakan orang Indonesia adalah dari wilayah barat menuju timur, maka sebaliknya penyebaran Pecel bisa ditelaah penyebarannya mulai dari timur ke barat.

Mari kita mengumbar lamunan sejenak, untuk memulai pengembaraan Pecel mulai dari wilayah Jawa Timur.



…serta bersanding lauk yang cukup sederhana…

Pecel Blitar

Khas dengan cita rasa pedas, berhias rasa dan aroma kencur yang menunjukkan bahwa daerah sekeliling Blitar begitu kaya dengan rempah-rempah sebagai berkah tanah subur di kisaran lereng Gunung Kelud.

Selain itu bumbu ulekan kacang yang cenderung kasar, menimbulkan sensasi material curah pada setiap kunyahan, dalam limpahan bumbu yang encer, serta bersanding lauk yang cukup sederhana seperti tahu, tempe, rempeyek teri, udang kering atau kacang dan paling mewah adalah telor dadar atau telor ceplok.

Pecel Blitar bertabur gurih kriuk gorengan ikan air tawar yang kecil-kecil atau sering disebut Uceng, juga menjadi kenikmatan tersendiri yang ditawarkan kepada setiap petualang cita rasa Pecel se-tanah air.



…lebih diminati oleh penyaji masakan ini di wilayah-wilayah lain…

Pecel Tulung Agung

Menawarkan peralihan keunikan olahan Pecel dari cita rasa pedas menuju ke cita rasa manis dengan ulekan bumbu yang lebih halus, serta sama sekali tanpa ada sensasi kencur di dalamnya, melainkan terdapat sentuhan cita rasa bumbu asam Jawa.

Hal ini mewakili kelimpahan bumbu di wilayah ini lebih terbatas, mengingat tanahnya memang kaya mineral tambang pualam, sehingga kreasi bumbu pecel pun menjadi minimalis.

Namun demikian, cita rasa pecel Tulung Agung cenderung lebih diminati oleh penyaji masakan ini di wilayah-wilayah lain, yang notabene bukan dikenal sebagai pengolah masakan Pecel yang khas mewakili daerahnya.

Sensasi cita rasa manis dan sedikit asam yang menjadi keunikan Pecel Tulung Agung, membuatnya bisa beradaptasi dengan selera kebanyakan penikmat masakan di wilayah lain. 

Juga, sensasi yang demikian lebih memungkinkan sajian Pecel bisa bersanding dengan olahan lainnya, misal sayur lodeh atau dendeng ragi yang sering disebut srundeng daging.



…bersanding guyuran kuah Sambel Tumpang…

Pecel Kediri

Tak jauh dari Tulung Agung, ke arah utara adalah wilayah Kediri yang juga memiliki keunikan tersendiri dalam mengolah Pecel.

Menjadi unik karena seringkali ditambah topping Sambel Tumpang atau sayur tempe semangit alias jangan tempe bosok. Sehingga, Pecel Kediri yang notabene memiliki cita rasa Pecel Tulung Agung pun menjadi bercita rasa lebih gurih, pedas dan cenderung asin.

Mirip Pecel Blitar, maka Pecel Kediri yang hampir selalu bersanding guyuran kuah Sambel Tumpang dalam setiap sajian, juga berdampingan dengan aneka lauk yang relatif sederhana, seperti tempe, tahu, peyek kedelai hitam.

Di wilayah Kediri dan sekitarnya, maka ibarat tempe ketemu tahu, maka Pecel dengan Sambel Tumpang itu adalah best friend forever, BFF.



…menumbuhkan harapan untuk membuka pintu rejeki…

Mari berputar Sejenak ke Pecel Malang dan Surabaya

Sejauh ini, Penulis belum pernah menemukan pecel yang olahan asli khas Malang. Karena, pengembaraan Pecel di wilayah ini didominasi oleh Pecel yang berorientasi cita rasa daerah-daerah di sekelilingnya, terutama Blitar dan Tulung Agung.

Namun kebanyakan penikmat Pecel di Malang, lebih cocok seleranya dengan Pecel dengan format bahan, bumbu dan olahan khas Tulung Agung yang memiliki cita rasa yang lebih halus dan tidak terlalu ‘medok’ atau ‘lekoh’, cederung tipis dengan sensasi manis sedikit asam. Mewakili selera kebanyakan warga kota Malang yang sebenarnya menilai aneka masakan bukan sebagai bagian petualangan cita rasa, namun cukup memenuhi kebutuhan.

Adapun di wilayah yang satu poros dengan kota Malang, maka di wilayah Surabaya juga tak memiliki olahan Pecel yang khas olahan ala Surabaya.

Di ibukota propinsi Jawa Timur ini, masakan Pecel adalah hasil karya tangan terampil para pendatang dari wilayah-wilayah asal pengolah Pecel berasal, yang mencoba mengembangkan usaha di wilayah yang menumbuhkan harapan untuk membuka pintu rejeki, karena memiliki putaran ekonomi yang tinggi.

Sepiring nasi Pecel lauk empal di warung daerah Undaan Surabaya, memiliki cita rasa format Pecel ala Tulung Agung.

Nama-nama daerah seperti Blitar, Tulung Agung, Kediri, Madiun, Ponorogo adalah nama brand sajian Pecel yang ditawarkan kepada warga yang menghuni kota terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta ini. 

Hanya saja, sebagai kota besar yang lahan pertanian pun perkebunan menjadi terbatas, maka seringkali hidangan nasi Pecel tersaji tanpa alas daun pisang. Tentu hal tersebut sedikit membedakan cita rasa Pecel sebagaimana olahan dari daerah asal yang masih orisinil berhias aroma segar daun pisang.



…Pecel tak pernah absen terhidang…

Lanjut Mengembara ke Barat

Ya udah, langsung aja kita jalan pelan-pelan ke barat, agar bertemu dengan Pecel Madiun.

Pecel yang diolah di area perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah ini, menyesuaikan cita rasa lidah orang Jawa Timur yang cenderung suka asin-pedas, berpadu selera orang Jawa Tengah yang suka cita rasa manis-gurih.

Jadilah Pecel Madiun yang mewakili perpaduan kedua karakter tersebut, berhias lauk pauk yang paling mewah, yaitu aneka gongsoan jerohan sapi seperti paru, babat, usus, jantung, juga otak, dibanding olahan Pecel di deretan sebelah timur.

Penulis tidak menyebut lidah sebagai jerohan, karena meski lidah ada di dalam rongga mulut sapi, namun bukankah sesekali lidah dijulur-julurkan keluar? Sapi lagi melet-melet sehabis menikmati rumput, misalnya.

Adapun lauk lainnya seperti gorengan ikan lele juga telor asin, itu terkadang bisa menjadi disturbing, mengganggu selera, jika menjadi lauk Pecel Madiun. Oleh karenanya, jarang ada warung Pecel Madiun yang menyajikan olahan ikan lele sebagai lauk pendamping Pecel.

Sepincuk nasi Pecel Madiun berdampingan dengan lauk favorit Penulis, yakni; gongsoan paru. Pecel Madiun sangat nikmat bersanding dengan teh hangat mondo-mondo yang tak manis juga tak sepat.

Warga Madiun terkenal fanatik dengan sajian Pecel. Baik mulai pagi, siang, sore, hingga malam hari, maka Pecel tak pernah absen terhidang. Bahkan, beberapa produk santapan waralaba luar negeri pun, keok sama Pecel Madiun di kota yang berjuluk kota Gadis, singkatan dari perdagangan dan industri ini.

Mungkin juga karena nasi dari beras Madiun yang terkenal pulen dan harum, sangat pas sebagai santapan bersama lauk Pecel beserta aneka aksesorisnya.

Sebuah Tugu di Pusat Keramaian Menjadi Ikon Bagi Kota Madiun sebagai Kota Pecel.

Melangkah santai menuju ke arah selatan kota Madiun, adalah kota Ponorogo yang juga tak kalah dalam menyajikan aneka hidangan baik kelas ringan macam dawet, jenang, hingga kelas berat yaitu Sate Ayam dan Pecel itu sendiri.

Agak berbeda dengan kota tetangganya di sebelah utara, maka hasil olahan pengrajin Pecel di kota Reog ini memiliki cita rasa relatif lebih berani dibanding Pecel Madiun, karena memiliki sensasi rasa pedas yang lebih terasa. 

Keberanian menyajikan Pecel yang lebih pedas, mungkin karena tersedia penawar rasa kebakaran di ujung lidah bagi si petualangan cita rasa Pecel, yakni berupa sajian es dawet khas Ponorogo yang manis dan menyegarkan.



…hidangan bagi kalangan bawah dengan bumbu dan lauk minimalis…

 Melangkah Menuju Jawa Tengah

Hidangan nasi Pecel tak sepopuler di Jawa Timur, yang bahkan hingga menjadi masakan dalam rumah tangga sehari-hari. Mungkin karena di wilayah ini terdapat pengaruh sosial budaya bertata krama kerajaan, sehingga ada hirarki strata sosial dari kalangan bawah hingga ningrat.

Karena pecel mewakili hidangan bagi kalangan bawah dengan bumbu dan lauk minimalis, maka meskipun Pecel tersedia namun masakan ini kurang populer di wilayah Jawa Tengah. Berbeda dengan Jawa Timur yang pernah ada kerajaan, tapi jauh-jauh hari sebelum kerajaan modern Jawa Mataram itu ada.

Alhasil, menjadi ciri khas masyarakat Jawa Timur yang memiliki karakter egaliter, mewakili kaum bawah semua. Dengan demikian, cocoklah Pecel menjadi kuliner idola, termasuk rujak cingur, tahu campur, tahu tek, lontong racing yang semuanya memiliki dasar bumbu petis.

Orang ningrat jaman dulu mana ada yang doyan petis. Mencium aromanya saja, pasti membuat hatinya bertanya-tanya, “Aroma kayak ini kok dijadiin bumbu masakan.”



…hasil olahan dari mana kaum urban itu berasal…

Pecel Nyamper Ampe Jakarte

Namun demikian, di wilayah Jawa Tengah poros pantura, tepatnya di Indramayu ada juga pecel khas. Bisa jadi karena dekat dengan wilayah pantai, sehingga dulu ada interaksi antar penduduk dari Jawa Timur yang saling mengenalkan cara memasak Pecel sebagai hidangan bagi masyarakat setempat.

Pecel Indramayu, nikmat disantap bersama lontong yang terbungkus daun pisang, dengan taburan guntingan aneka gorengan renyah, seperti bala-bala, tahu juga tempe. Menjadi hidangan sampingan, khususnya menyambut pagi guna mengisi energi mempersiapkan kegiatan sehari-hari.

Sementara itu, di Cirebon, masakan yang memiliki bumbu dasar Pecel diinovasi bersama lelehan kecap, biasanya Cap Oedang Sari yang melegenda, menjadi bernama nasi Lengko. Termasuk hidangan utama, karena berskala berat yang tambah nikmat jika bersanding dengan sate kambing.

Adapun di daerah agak ke ujung barat wilayah Jawa Tengah, yakni Banyumas, maka bumbu kacang yang memiliki cita rasa serupa bumbu Pecel, menjadi paduan wajib olahan soto ayam, yang populer disebut Sroto. Perpaduan segar kuah berbumbu dasar soto dengan gurih manis pedas bumbu kacang yang notabene adalah bumbu Pecel, membuat Sroto memiliki kenikmatan tersendiri.

Apalagi jika Sroto bersanding dengan tempe Mendoan serta sajian penutup berupa es dawet Ayu, maka dijamin petualang cita rasa yang tadinya mrengut merasakan kepenatan hidup yang kadang semrawut, sontak berubah menjadi cerah, ngguya-ngguyu.

Memasuki wilayah Jawa Barat yang kebanyakan masyarakatnya menyukai hidangan lalapan, sayuran segar tanpa dimasak terlebih dahulu, maka Pecel pun bernasib tak populer di bumi Priyangan ini.

Olahan Pecel yang dominan sayur matang hasil rebusan, kalah pamor dengan olahan sayur segar yang berbumbu ulekan kacang, yakni Karedok. Mirip dengan bumbu Pecel khas Blitar, maka Karedok memiliki sentuhan cita rasa kencur, yang lebih kuat, lebih mantera, mantab terasa.

Meniti langkah ke barat lagi, ke ibu kota negara Jakarta yang naga-naganya bakal pindah pulau ke arah timur laut yaitu wilayah Kalimantan, maka pecel sudah menjadi hidangan urban yang keotentikannya adalah hasil olahan dari mana kaum urban itu berasal.

Terdapat hidangan yang mirip Pecel di wilayah Jakarta, seperti Ketoprak. Bedanya, selain jika di Jawa Ketoprak adalah tontonan, sedangkan di Jakarta adalah makanan, maka Ketoprak minim tambahan sayuran. Cukup rebusan kecambah dan irisan mentimun.

Sama dengan Jakarta, pengembaraan Pecel ke wilayah-wilayah lain di luar Jawa bahkan dunia, adalah maka Pecel sebagai hidangan sehat yang merakyat, adalah kreasi masakan bawaan para pendatang yang berasal dari wilayah-wilayah pelopor pengkreasi Pecel tersebut di atas.



…lereng gunung Kelud begitu memesona, berlimpah flora dan fauna…

Ide Orisinil dari Blitar

Sebagai kesimpulan Penulis, maka Pecel itu berasal dari Blitar yang cita rasanya memang sangat kaya, meski terhidang dengan lauk yang sederhana.

Tak berlebihan, kesimpulan bahwa olahan Pecel berasal dari kawasan Blitar, karena ditunjukkan pula sebagai kisah sejarah dalam pahatan relief candi Penataran yang mengambarkan betapa wilayah sekitar lereng gunung Kelud begitu memesona, berlimpah flora dan fauna.

Foto satu relief candi Penataran yang menggambarkan keelokan wilayah lereng gunung Kelud di masa lalu, berlimpah flora dan fauna terutama unggas.

Kawasan Blitar kuno yang sangat elok pun lantas menjadi tempat favorit bagi raja, permaisuri, selir serta bangsawan kerajaan Jawa Timur jaman dulu, ketika melakukan plesir, rileks sejenak keluar dari rutinitas mengurus berbagai problema mengurus hal-hal terkait poleksusbudhankamraj (politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan kerajaan).

Pemandangan sekeliling candi Penataran berupa hamparan sawah dan aneka tanaman rindang. Circa Lebaran tahun 2014.

Kaya akan kelimpahan flora, beberapa jenis tanaman yang bisa diolah menjadi santapan nikmat, macam kacang tanah, asam, kencur, bawang merah putih, cabe merah, daun jeruk purut, bayam, kangkung, kenikir, kembang turi, daun singkong bahkan daun pepaya yang pahit pun lantas memicu kreatifitas orang-orang Blitar kuno untuk menghadirkan hidangan bernama Pecel sebagai bagian sajian sehari-hari yang merakyat, guna menunjang energi agar lancar menjalani aktifitas sehari-hari.

Memaknai penyebaran Pecel mulai dari wilayah Jawa Timur bagian selatan hingga ke beberapa daerah di Indonesia sebagai olahan masakan yang berhasil mencapai predikat populer sebagai hidangan, adalah buah dari semangat pengembaraan.

Tak terbatas sebagai bentuk kaki yang melangkah, pengembaraan juga bisa dalam bentuk luapan angan-angan yang guna membentuk suatu gagasan. Sama, baik langkah kaki maupun luapan angan, maka agar meraih keberhasilan, keduanya kudu disetel dalam perspektif menuju masa depan.

Penulis mencoba berpose bagai arkeolog yang tengah memaknai pesan-pesan relief candi Penataran. Circa Lebaran tahun 2014.