Bagi saya, teman adalah partner terpenting kedua setelah keluarga. Tapi tunggu, teman seperti apa dulu nih? Pergaulan itu membawa dampak yang sangat besar bagi kehidupan. Jika sudah salah dalam memilih circle, tentu bakal jatuh ke jurang. Belum lagi jika bertemu dengan teman yang toxic, justru membawa efek buruk bagi diri sendiri.

Belajar dari pengalaman, saya sendiri sudah menemui banyak karakter dan ya tentu saja pernah bertemu dengan teman yang toxic. "Yaelah baru begitu doang, masalahku tuh lebih berat dari kamu, nih ya aku tuh...." kurang lebih seperti itu.

Niat hati ingin bercerita agar plong, syukur-syukur diberi saran dan masukan... Eh malah dia yang curhat. Kesel ndak sih digituin? Pastinya iya kan. Bukan hanya satu atau dua orang, namun hampir keseluruhan orang yang saya temui seperti ini. Entah ada masalah apa hingga mayoritas masyarakat di Indonesia ini sangat suka dengan 'adu nasib'.

Sebenarnya apa sih untungnya? Kalo ditilik lebih jauh, membandingkan kesengsaraan diri sendiri dengan orang lain tidak akan mengubah kondisi yang kita alami. Nantinya yang ada hanya merutuki nasib tanpa mau menjadi lebih baik.

Jika masih terus berada di mind set yang seperti ini, kapan kita akan maju? Masa stuck terus? Pola pikir masyarakat yang mayoritas seperti ini bisa jadi salah satu faktor yang  membuat negara sulit maju.

Berikut adalah contoh nyata bahwa sampai saat ini kita masih mempunyai mental yang belum siap untuk maju. Saat ini seluruh penjuru dunia sedang diguncang oleh pandemi Covid-19. Semua negara termasuk Indonesia sedang mencari jalan keluar dari kondisi sekarang ini, yaitu dengan uji coba terhadap vaksin.

Alih-alih dikejutkan dengan adanya penemuan vaksin, kita malah dikejutkan oleh presiden dan para wakil rakyat. Bukannya menyelesaikan masalah pandemi yang kian pelik ini justru menambah beban rakyat. Dan akhirnya terjadilah perpecahan di antara rakyat dan para wakilnya itu sendiri.

Ya, pecah yang dimaksud itu bukan lain adalah karena UU Ciptaker yang telah disahkan. Hal ini membuat masyarakat resah, terutama buruh. Terjadi kerumunan di mana-mana karena aksi demonstrasi di berbagai daerah yang dilakukan oleh buruh dan mahasiswa sebagai pejuang aspirasi masyarakat.

Bukan tanpa alasan para buruh dan mahasiswa melakukan demo besar-besaran tersebut. Salah satu poin undang-undang yang didemonstrasikan yaitu Pasal 59 yang mengatur batas waktu Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) dihapus karena dianggap tidak fleksibel, sehingga memberatkan dunia usaha.

Yang tadinya PKWT ketika sudah lewat dua tahun atau diperpanjang kembali untuk satu tahun, perusahaan hanya memiliki dua pilihan, yaitu tidak memperpanjang kontrak kerja atau mengangkatnya sebagai karyawan tetap. Namun sekarang bisa saja diperpanjang hingga lima tahun bahkan lebih.

Entahlah, saya merasa terlalu banyak kontroversi di negara ini. Undang-undang seakan menjadi lawakan bagi para pejabat. Walaupun begitu, saya tetap bersyukur tinggal di negara Indonesia ini, apapun kondisinya.

Selain bersyukur, saya juga bangga tinggal di negara Indonesia. Banyaknya perbedaan bukan berarti alasan untuk terasingkan. Karena sudah ada undang-undang yang mengatur tentang kesamaan hukum. "Hak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di depan hukum." (Pasal 28D ayat 1 UUD 1945).

Lagi-lagi berbincang dengan undang-undang. Karena negara kita berlandaskan oleh undang-undang, sebab itulah tiap perbuatan kita telah diatur didalamnya. Meskipun demikian, hukum yang berlaku masih tetap runcing ke bawah dan tumpul ke atas.

Bagi kaum menengah ke bawah, melakukan kesalahan kecil bisa menimbulkan proses hukum yang berkepanjangan padahal terkadang kasus-kasus itu bisa dibicarakan secara kekeluargaan.

Namun para kalangan atas atau pejabat negara menganggap hukum seakan menjadi permainan alias kebal terhadap hukum. Apakah ini yang dinamakan peraturan dibuat untuk dilanggar?

Kurangnya implementasi dan kesadaran hukum, baik dari pihak masyarakat maupun pihak penegak hukum sendiri, adalah penyebab itu semua bisa terjadi.

Tidak apa jika negara ini terus berada di tingkat "berkembang" daripada naik tingkat menjadi "maju" namun terjadi tindakan rasis. Banyak negara maju yang masih rasis terhadap perbedaan.

Contohnya yaitu Amerika Serikat yang merupakan negara maju, namun rasis dengan adanya perbedaan ras antara kulit putih dan kulit hitam. Selain itu, baru-baru ini presiden negara Prancis yang melakukan pelecehan terhadap agama Islam dengan menganggap bahwa Islam itu teroris serta tidak ada larangan dalam pencetakan karikatur Nabi Muhammad SAW yang jelas-jelas bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan.

Karena itu, tidak perlu mengadu nasib dengan membanding-bandingkan jika tidak paham apa yang sebenarnya terjadi. Banyak orang yang hanya melihat indahnya tanpa mengetahui proses jatuh bangun hingga bisa di titik tertinggi. Lantas, jangan banyak mengharapkan kemajuan Indonesia kalau mind set kita masih kuno seperti ini.

Ubah mind set kita seiring dengan perkembangan zaman.

Sebagai generasi muda penerus bangsa, jangan berharap apa yang akan negara beri ke kita. Ubah menjadi, apa yang akan kita beri ke negara di masa mendatang?

Jangan bangga karena sesuatu. Namun buatlah sesuatu itu bangga terhadapmu.