Pertumbuhan dan perkembangan seorang anak sangat dipengaruhi oleh keadaan di sekitarnya seperti lingkungan keluarga, lingkungan sosial masyarakat dan juga lingkungan sekolah. Ketiga lingkungan tersebut menjadi faktor utama yang akan membentuk perilaku anak dalam kesehariannya, serta menjadi hal utama yang akan menentukan bagaimana keadaan anak, baik keadaan fisik maupun mental. 

Anak yang tinggal dalam lingkungan yang baik dapat dilihat dari perilaku positif ketika berinteraksi dengan orang lain. Begitupun sebaliknya, ketika anak tinggal di lingkungan yang kurang baik, anak  cenderung untuk menampakkan perilaku yang kurang baik pula. 

Ketiga lingkungan tersebut, baik lingkungan keluarga, sosial masyarakat, dan lingkungan sekolah tidak bisa bekerja sendiri untuk membentuk perilaku anak. Sehingga seluruh lingkungan tadi harus bersinergi agar dapat menghindari terciptanya gap dan anak mendapatkan kontrol yang sempurna di mana pun ia berada. 

Jika salah satu lingkungan ini tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik, maka akan tercipta sebuah gap dalam pembentukan perilaku, contohnya anak cenderung mudah marah, emosi yang meledak-ledak, tidak dapat menghargai orang lain, atau bahkan anak cenderung memiliki perilaku bullying.

Beberapa hal yang dapat terjadi pada anak yang dikarenakan oleh ketidaksempurnaan pengawasan dari tiga lingkungan yang sudah saya sebutkan di atas, yang perlu mendapatkan perhatian lebih banyak adalah bagaimana mengarahkan dan membimbing anak untuk tidak melakukan atau memiliki kecenderungan untuk melakukan tindakan bullying. 

Hal ini dikarenakan tindakan bullying sangat memberikan pengaruh terhadap keadaan psikis maupun psikologis anak dan menjadi penentu bagaimana pertumbuhan dan perkembangan anak ke depannya.

Perilaku bullying bukan hal lumrah untuk diketahui, sudah sejak dahulu bahkan dari zaman dahulu sudah ada perilaku bullying ini. Namun, dengan perkembangan zaman, perilaku bullying juga sudah sangat berkembang bahkan caranya pun sudah sangat maju, di mana perilaku ini dilakukan melalui media massa atau media sosial. 

Tak ayal, jika banyak dari korban bullying akan merasakan adanya gangguan baik secara fisik maupun mental. Mengapa bullying dapat mempengaruhi mental?, Apakah bullying bisa mengakibatkan korban memiliki gangguan kesehatan mental?. Untuk menjawab dua pertanyaan tersebut, perlu diketahui terlebih dahulu apa itu bullying dan kesehatan mental.

Bullying

Menurut KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), sepanjang tahun 2021 sebanyak 2.982 kasus terkait perlindungan khusus, anak yang didapatkan dari pengaduan masyarakat. 

Sebanyak 1.138 kasus yang dilaporkan tersebut merupakan kasus anak yang menjadi korban kekerasan fisik maupun non fisik. Jumlah ini yang dilaporkan masyarakat di seluruh Indonesia, bagaimana dengan jumlah yang tidak dilaporkan? Pastinya akan lebih banyak dari data yang di publish oleh KPAI.

Lalu apa itu Bullying?. Bullying adalah segala bentuk tindakan yang berbentuk kekerasan atau penindasan yang dilakukan secara sengaja oleh individu maupun kelompok yang memiliki kekuasaan dan lebih kuat kepada orang lain, tindakan ini memiliki tujuan untuk menyakiti dan dilakukan secara terus menerus. 

Beberapa bentuk tindakan pelaku bullying antara lain dengan melakukan kontak fisik seperti mendorong, menjambak, menendang, dll, atau dengan melalui kontak verbal seperti merendahkan korban, memaki, mengintimidasi, dll.

Tindakan bullying ternyata tidak hanya terbatas pada kontak fisik maupun verbal, namun terdapat beberapa tindakan yang juga tergolong dalam tindakan bullying, seperti: cyberbullying (tindakan bullying melalui media elektronik atau media sosial); perilaku non-verbal langsung atau tindakan bullying yang dilakukan dengan menampilkan muka yang merendahkan, menjulurkan lidah dan lainnya; perilaku non-verbal tidak langsung dengan melakukan adu domba atau sengaja mengucilkan orang lain; serta tindakan pelecehan seksual.

Dampak yang dapat ditimbulkan oleh tindakan bullying terhadap korban terutama anak, antara lain: 1) Anak akan kehilangan semangat dalam menjalankan kegiatan sehari-harinya, 2) Menurunnya partisipasi dan prestasi akademik anak, 3) Menurunnya semangat belajar anak, 4) Menurunnya tingkat kecerdasan dan kemampuan analisis anak, 5)Anak akan merasakan marah yang berkepanjangan dan depresi.

Kesehatan Mental

WHO (World Health Organization) menjelaskan bahwa kesehatan mental adalah sebuah kondisi kesejahteraan yang dimiliki oleh seseorang, di mana ia mampu memahami kemampuan yang dimiliki, dapat mengelola stres dengan baik, memiliki kemampuan adaptasi yang baik, hingga mampu memerikan kontribusi bagi lingkungan sekitarnya. 

Ketika seseorang tidak mampu mengelola stres dengan baik, mengalami depresi yang berkepanjangan dan tidak terselesaikan, maka akan menimbulkan gejala negatif yang mengakibatkan seseorang mengalami gangguan kesehatan metal.

Menurut WHO, 1 dari 5 anak di dunia mengalami gangguan kesehatan mental. Hal ini menandakan bahwa bukan hanya orang dewasa yang dapat mengalami gangguan kesehatan mental, namun anak juga dapat mengalaminya. 

Faktor yang menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan mental pada anak tidak jauh berbeda dengan faktor penyebab gangguan kesehatan mental pada orang dewasa. 

Secara garis besar, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan anak mengalami gangguan kesehatan mental, antara lain: 1) Perasaan stres yang di alami anak, 2) Anak mendapatkan pengucilan sosial di lingkungan sekitarnya, 3) Pengalaman traumatis yang dialami anak yang disebabkan oleh perilaku orang lain terhadap dirinya maupun dikarenakan oleh perasaan trauma yang ditimbulkan karena kehilangan seseorang.

Baca Juga: Bullying

Lalu bagaimana cara untuk mengetahui anak dalam keadaan kesehatan mental yang baik atau tidak?. Anak yang memiliki kesehatan mental yang baik biasanya pertumbuhan dan perkembangan psikomotoriknya sesuai dengan anak sesusianya, dapat belajar dan bermain sesuai kecerdasannya, serta anak akan memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang benar-salah atau baik-buruk. 

Sedangkan anak yang kesehatan mental yang kurang baik, biasanya ia akan cenderung mengalami gangguan tidur dan menurunnya nafsu makan, tidak mampu mengelola emosi dengan baik dan cenderung marah-marah, penurunan prestasi, mengeluhkan adanya rasa sakit, hingga anak mulai melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk yang sebelumnya tidak pernah dilakukan.

Apa Hubungan Bullying dan Kesehatan Mental?

Tindakan bullying yang didapatkan oleh seorang anak di lingkungan sekitarnya memiliki hubungan yang erat dengan kesehatan mental anak. Hal ini sebabkan oleh dampak yang ditimbulkan oleh tindakan bullying akan memicu terjadinya gejala-gejala negatif yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental.

Ketika anak mengalami bullying dan menjadi korban bullying secara terus menerus tanpa adanya penyelesaian, maka yang akan terjadi adalah anak akan merasakan takut dan memendam kemarahan karena tidak bisa membalas pelaku bullying. 

Selain itu, ketika anak menjadi korban bullyingia akan merekam kejadian bullying yang ia dapatkan dan menjadi sebuah memori menakutkan bagi anak. Kemarahan dan memori buruk yang disimpan oleh anak, berpotensi untuk mengakibatkan munculnya stres pada anak. 

Stres yang berkepanjangan akan menimbulkan depresi pada anak dan depresi inilah yang kemudian dapat menjadi faktor utama pemicu terjadinya gangguan kesehatan mental pada anak. 

Ketika anak sudah terlanjur mengalami gangguan kesehatan mental, maka anak akan cenderung tidak bersemangat, penurunan prestasi dan performance akademiknya, enggan untuk melakukan interaksi sosial, lebih banyak berdiam diri dan tidak berkomunikasi dengan orang lain, hingga yang paling parah yaitu tindakan bunuh diri. 

Cara yang dapat dilakukan untuk menghindari tindakan bullying dan menjaga kesehatan mental anak.

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya bullying dapat dilakukan dengan mengoptimalkan peran tiga lingkungan yang sudah disebutkan di atas, yaitu lingkungan keluarga, lingkungan sosial masyarakat, dan lingkungan sekolah. Secara lengkap, berikut beberapa cara yang dapat dilakukan:

1) Lingkungan Keluarga. Pencegahan melalui lingkungan keluarga dapat dilakukan dengan: Memberikan lingkungan yang penuh kasih sayang pada anak; Membangun rasa percaya diri anak; Menanamkan nilai keagamaan pada anak; Mengajarkan etika, saling menghormati dan menyayangi; Mengajarkan anak untuk mampu mendeteksi kemungkinan terjadinya tindakan bullying; Mendampingi anak dalam menyerap informasi yang diterimanya baik secara langsung maupun elektronik.

2) Lingkungan Sosial Masyarakat. Pencegahan melalui lingkungan sosial masyarakat dapat dilakukan dengan menciptakan lingkungan masyarakat yang menjunjung tinggi persatuan dan menghormati sesama, tokoh masyarakat menjadi wadah untuk melindungi anak agar terhindar dari perilaku bullying, dan seluruh lapisan masyarakat secara bersama-sama menjadi kontrol sosial dan menjaga eksistensi nilai agama serta nilai etika bermasyarakat.

3) Lingkungan Sekolah. Pencegahan melalui lingkungan sekolah dapat dilakukan dengan: Membangun komunikasi efektif antara guru dan murid; Menciptakan suasana lingkungan belajar yang aman dan nyaman; Membantu murid yang menjadi korban bullying; Terus mengedukasi murid terkait perilaku bullying; dan menyelenggarakan program anti bullying di sekolah.

Dengan mengoptimalkan ketiga peran masing-masing lingkungan tersebut, maka akan mengurangi terjadinya tindakan bullying dan dapat menjaga kesehatan mental anak. 

Anak Indonesia Tanpa Bullying dan Gangguan Kesehatan Mental! Generasi Sehat untuk Indonesia Hebat!