…menyentuh kebutuhan mendasar dalam meningkatkan kualitas cita rasa…

Vetsin atau lebih dikenal sebagai Micin yang punya nama kimia Mono Sodium Glutamate (MSG), sudah lebih dari 100 tahun lalu ditemukan oleh orang Jepang.

Micin yang diolah melalui proses biokimia alami, berfungsi sebagai penguat cita rasa masakan. Sejak ditemukan tahun 1908 lalu dipatenkan, Micin pun selama hampir 60-an tahun, mengalami pengembangan proses pembuatan.

Hingga tahun 1960-an menjadi lebih dikenal dunia dengan berbagai nama merk dagang.

Tak pelak, karena menyentuh kebutuhan mendasar dalam meningkatkan kualitas cita rasa masakan, maka MSG pun menjadi sangat populer, khususnya sebagai bumbu penyedap bagi banyak jenis masakan.

Termasuk di Indonesia yang sejak tahun 1970-an di sebuah kota di Jawa Timur dibangun sebuah pabrik penghasil satu merk penyedap masakan, yang menjadi sangat populer dalam dunia masak memasak.



…sangatlah cocok dengan jenis aneka masakan yang memang minim rempah…

Bisa dibayangkan, sebelum tahun 1960-an, jauh hari sebelum MSG mendunia, maka cita rasa masakan Indonesia masih cukup hanya mengandalkan aneka bumbu herbal atau rempah-rempah saja, tanpa tambahan MSG yang waktu itu masih belum dikenal luas.

Atau memang bisa jadi, MSG itu ditemukan di Jepang sebagai respons alamiah dari para ahli masak di sana yang karena kondisi lingkungan hidup alamiahnya, membuat kelimpahan rempah-rempah untuk bumbu masakan terbatas.

Oleh karenanya, penggunaan MSG sebagai peningkat cita rasa masakan, sangatlah cocok dengan jenis aneka masakan yang memang minim rempah seperti di Jepang dan kawasan di sekitarnya yang bukan wilayah tropis.

Semakin ke selatan, masuk area tropis khususnya wilayah Asia Tenggara, maka rempah-rempah sudah tumbuh subur, menjadi bumbu dasar aneka masakan.

Seperti daun salam, jahe, bawang merah-putih, kencur, lengkuas, kemiri, lombok merah dan hijau, serta garam itu semua adalah contoh bumbu masakan yang lebih alami karena tak melalui proses sintetis seperti MSG, yang meski juga alami.



…tanpa tambahan MSG sebenarnya sudah memiliki cita rasa yang kuat…

Oleh karena keberadaan bumbu-bumbu yang relatif lebih alami, maka olahan masakan macam oseng Kikil tahu tempe itu, kiranya tak perlu mendapat tambahan MSG, karena bumbu rempah-rempahnya yang sudah termasuk lengkap, pepak.

Itu belum karena ditambah kecap manis pula, yang termasuk penyedap masakan dan hasil proses biokimiawi berupa fermentasi kedelai hitam pula. Alhasil, oseng Kikil yang juga bergelimang tahu tempe pun tanpa tambahan MSG sebenarnya sudah memiliki cita rasa yang kuat dan sedep.

Olahan Masakan Seperti Oseng Kikil dan Tahu Tempe Bisa Mengandalkan Kehadiran Bumbu Masakan Selain MSG.

Beda dengan beberapa olahan masakan yang lebih mengandung bumbu rempah minimalis, maka penambahan MSG memang bisa diperlukan, sesuai selera sang koki dan calon penikmatnya.



Inovasi aneka rupa cita rasa produk mie instan berkali-kali dilakukan, agar penikmatnya tak dihajar oleh rasa yang itu-itu saja.

Seperti fenomena kehadiran mie instan dengan bumbu-bumbu instan yang kaya kandungan MSG, yang ada di dalam setiap kemasannya, sebagai bahan pangan cadangan yang siap sedia setiap saat dengan cukup mudah diolah menjadi masakan.

Sedia mie instan dalam lemari dapur atau ruang makan pun lalu ibaratnya membuka payung saat hujan melanda. Terutama pas tengah malam saat rasa kelapadan di setiap sisi saluran pencernaan, mendadak meronta.

Semangkuk Mie Instan yang Tak Pernah Salah Sebagai Teman Melewatkan Rasa Lapar di Tengah Malam.

Inovasi aneka rupa cita rasa produk mie instan berkali-kali dilakukan, agar penikmatnya tak dihajar oleh rasa yang itu-itu saja. Pada tahun 1970-an, mie instan yang beredar hanya punya satu rasa, yaitu Kaldu Ayam.

Lalu, pada awal tahun 1980-an, mulai ada mie instan rasa Kari Ayam. Berlanjut jelang akhir dekade 1980 muncul inovasi mie goreng, yang sebetulnya mienya tak digoreng melainkan cukup direbus lalu ditiriskan.

Kemudian pasca reformasi tahun 1998, peluang usaha aneka kuliner memang semakin menggairahkan. Awal tahun 2000-an, pengembangan varian mie instan dilakukan besar-besaran. Baik versi kuah maupun goreng.

Peluang tersebut berdampak pula pada riset dan pengembangan variasi mie instan yang memiliki cita rasa favorit masakan Indonesia, seperti soto, sate, opor, kari. Hanya rasa rawon yang belum pernah ada.

Lalu berlanjut inovasi aneka cita rasa kuliner nasional. Rasa rendang Padang, cakalang Manado, mie Aceh, soto Banjar dan lain-lain. Adapun rasa cwimie Malang, tahu campur Surabaya dan rujak soto Banyuwangi, adalah cita rasa yang belum pernah ada.



Cara menyantapnya pun dipengaruhi oleh adegan film-film drama Korea, yakni terlihat lahap langsung dari panci tempat memasak.

Pengaruh olahan kuliner luar negeri juga memperkaya varian mie instan produk dalam negeri. Seperti mie ala Korea yang rasa pedasnya membuat lidah minta ampun kebakaran. Cara menyantapnya pun dipengaruhi oleh adegan film-film drama Korea, yakni terlihat lahap langsung dari panci tempat memasak.

Mie Instan ala Korea yang Menawarkan Sensasi Rasa Ekstra Pedas dengan Tekstur Mie yang Lebih Kenyal.

Sampai-sampai, sisa bumbu kuah yang menempel di sekitaran bibir bintang filmnya dibiarkan tak dilap. Skenarionya memang dibuat demikian, agar penonton penasaran, lalu filmnya di-pause, terus ditinggal masak mie Korea-an sebentar.

Begitu sudah matang, dilanjut duduk depan layar, menikmati adegan drama sambil asyik menyumpit dan mendongak mengangguk-angguk, menarik ulur sruput juntaian mie panjang-panjang tanpa putus.

Mie panjangnya baru digigit putus, ketika seisi rongga mulut penuh dan kedua sisi pipi mulai mengembung. Bulir-bulir air mata karena kepedasan pun mulai menetes bersamaan dengan adegan kisah yang mulai menyesak.

Pada akhirnya, penikmat drama terpaku dalam pandangan menerawang nun jauh di sana, tak terima dengan akhir kisah yang tak disangka-sangka. Sontak, rasa pedas di lidah pun menular ke hati, yang hanya terlampiaskan dengan menatap panci wadah mie yang tengah menyendiri.



…terasi itu bagian dari inti cita rasa masakan yang banyak diminati, yaitu; sambal.

Saat ini muncul varian terobosan mie instan olahan dalam negeri, yang belum pernah disangka-sangka sejak mie instan mulai berkembang ditahun 1970-an, yakni rasa terasi.

Orang Indonesia penyuka sambal. Banyak dari sekian aneka sambal, maka terasi menjadi bagian penting sebagai campuran sambalnya. Jadi, terasi itu bagian dari inti cita rasa masakan yang banyak diminati, yaitu; sambal.

Bagi Kebanyakan Orang Indonesia Asupan Gizi adalah Memenuhi Kriteria 4 Sehat 5 Sambal.

Peluang disambut, riset dilakukan, selera rasa disesuaikan, cita rasa dikembangkan, lalu hadirlah mie goreng instan rasa terasi. Mengandalkan rasa pedas dan gurihnya terasi yang dipadu bumbu-bumbu lainnya dalam takaran yang memadai, menjadikan mie instan ini memiliki keunikan cita rasa tersendiri.

Tingkatan pedas mie terasi bisa dipilih oleh penikmatnya dengan menyediakan saset-saset berisi sambal nikmat dan sambal gila. Pilihan diserahkan sepenuhnya pada penikmat mie terasi, apakah berminat cukup nikmat pedasnya atau sekalian pedasnya bikin gila.

Ketika memasak mie terasi, disarankan cukup tuangkan sambal nikmat, kemudian diincip. Jika dirasa kurang sensasi pedasnya baru silakan dituangkan kegilaannya.



Demi menghormati sang waktu, yang telah rela digunakan buat memasak mie yang ditunggu.

Tekstur mie terasi, cenderung kenyal meski sudah direbus selama tiga menitan. Tak perlu bawa jam weker kayak jaman anak kecil yang baru belajar masak mie instan, tapi cukup pakai perasaan. Jika dirasa kurang lunak, bisa ditambah waktu rebusnya hingga bangsa dua menitan.

Ditambahkan telor ayam atau aneka irisan kayak bakso alus, bakso bakar, sosis daging, udang, kepiting, juga bakal bisa menambah meriah suasana dan rasa.

Tak ditambah irisan apa-apa pun sebenarnya juga tak mengapa. Tapi lha mbok yao ada cemplungan telor bangsa dua atau satu, begitu. Demi menghormati sang waktu, yang telah rela digunakan buat memasak mie yang ditunggu.

Karena rasa pedas gurih yang nikmat tersisa menyentuh indera perasa, maka sebaiknya sedia secangkir kopi panas disamping mangkok mie terasi. Tujuannya bukan apa-apa. Hanya, agar mata yang telah terbuka karena pedas terasa, menjadi lebih melek lebar terbuka menatap indahnya dunia.

Kopi dan mi, memang serasi.
You and me, indeed so lovely.

Potret Serasi Antara Mie Terasi dengan Sejenis Kopi.



…sang penikmat khasiatnya sebagai penguat cita rasa masakan, menjadi ketagihan.

Ulasan jeda tentang keberadaan mie instan yang selalu berkembang dan berhasil menjadi bagian pemerkaya olahan masakan yang selalu dinanti, menunjukkan betapa kandungan MSG dalam bumbu setiap mie instan telah berhasil membuat kebanyakan orang merasa butuh untuk mengulangi sensasi cita rasanya, suatu saat nanti.

Keunikan lain dari MSG adalah kemampuannya untuk membuat penikmat masakan menjadi ketagihan akan kekuatan cita rasa yang dihasilkannya. Bisa dimaklumi karena bahan dasar MSG adalam Asam Amino sebagai bahan pembangun protein.

Protein, yang juga bisa dihasilkan dalam tubuh, memiliki kemampuan untuk 'merekam dan terekam', karena proses sintesanya dalam tubuh berkaitan dengan kode-kode genetika dalam setiap individu manusia.

Sehingga, menjadi satu alasan mengapa MSG mampu membuat sang penikmat khasiatnya sebagai penguat cita rasa masakan, menjadi ketagihan.

Karena, asam-asam glutamat yang masuk kriteria asam-asam amino tersebut, sekali masuk tubuh maka bakal 'terekam' sebagai asupan kimiawi alami yang terlibat sebagai bagian dari sintesa protein dalam tubuh.

Sejak itu pun, si penikmat masakan bakal susah untuk melupakan sensasi cita rasa MSG yang sudah kadung 'terekam' sebagai bagian 'bahan bangunan' penyusun tubuh, yakni Protein.



…karena MSG sebagian besar setiap orang pernah merasakannya.

Jadi, penemuan MSG lebih seratus tahun lalu, itu telah berhasil mengubah tatanan mengolah masakan yang memiliki bumbu-bumbu dasar lebih melimpah, seperti aneka masakan khas Indonesia.

Bahkan, keberadaan MSG di dapur, meski tak sering digunakan, tetap terpajang di atas rak maupun dalam lemari, sebagai penambah semangat bagi dapur agar bisa menghasilkan olahan masakan bercita rasa membahagiakan.

Hanya saja, sekali tempo, menarik kiranya untuk mengolah masakan tanpa MSG sedikitpun, cukup mengandalkan aneka bumbu penyedap rempah-rempah.

Sambil berusaha agak keras sedikit, membayangkan cita rasa asli masakan yang diolah, jauh-jauh hari puluhan tahun lalu ketika MSG belum menginvasi dapur.

Jangan Terik Tempe khas Kediri Satu Lagi Contoh Masakan Tradisional yang Bisa Mengandalkan Kehadiran Bumbu Masakan Selain MSG.

Agak susah sih, karena MSG sebagian besar setiap orang pernah merasakannya, entah dari masakan olahan rumah, masakan olahan acara kondangan atau masakan olahan tempat makan jajanan, yang terlanjur terekam menjadi bagian memori cita rasa.

Namun, apa salahnya kita coba.

Agar indera pengecap rasa bisa keluar dari rutinitas paparan MSG dalam setiap makanan. Memberi kesempatan baginya untuk bertualang rasa masakan yang diolah menggunakan bumbu yang bukan sintetis, namun yang lebih alami.

Sejenak kembali menuai cita rasa asli masakan hasil olahan dalam negeri.