Pada setiap tahap perkembangan manusia, terdapat tugas perkembangan karir yang harus diselesaikan. Remaja yang berada pada usia 15 hingga 24 tahun berada pada tahap eksplorasi karier ( Super, 1980). Pada tahap tersebut, remaja melakukan pencarian informasi mengenai diri dan lingkungan sekitarnya, dapat mengidentifikasikan minat dan kemampuan.

Comittment to Career Choice( CCC) adalah titik di mana seseorang memiliki pemahaman yang jelas terkait pilihan pekerjaannya yang disertai dengan adanya tujuan karir yang spesifik. Seseorang yang dianggap memiliki tingkat CCC yang tinggi akan merasa yakin bahwa ia mampu dalam mencapai tujuan karirnya.

Kecemasan Terhadap Karir

Beberapa faktor dapat mempengaruhi komitmen seseorang terhadap pilihan kariernya. Salah satu faktor kunci yang harus diperhatikan adalah kecemasan. Ketika seseorang dihadapkan pada tugas-tugas perkembangan profesional, tugas-tugas perkembangan tersebut dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman, seperti kecemasan, kebingungan, dan keraguan diri. 

Kecemasan karir dapat didefinisikan sebagai kecemasan atau ketidaknyamanan karir terkait dengan kegagalan akademik atau pengangguran terkait dengan proses pengembangan karir (Vignoli, 2015). Kecemasan dapat ditinjau dari dua macam bentuk, yaitu kecemasan sebagai sebuah kepribadian (trait) atau kondisi sementara (state). 

Perbedaannya, kecemasan sebagai trait menunjukkan tingkat kecemasan dan kecenderungan untuk menjadi seorang pencemas, sedangkan kecemasan sebagai state merupakan perasaan cemas yang tidak selalu ada, namun sering timbul karena ancaman atau stressor tertentu.

Hal tersebut disebabkan kecemasan sebagai perasaan yang terjadi saat ini (state) lebih mudah dipengaruhi dan berubah dibandingkan kepribadian seseorang yang pencemas Oleh karena itu, penelitian ini berfokus untuk melihat kecemasan sebagai suatu kondisi.

Kecemasan karir dapat menghambat proses pencarian karir seseorang karena dapat mengganggu perilaku yang berguna dalam pengambilan keputusan karir. Kecemasan karir yang tidak segera diatasi dapat menyebabkan pelepasan, ketidakpuasan dan menjauhkan diri dari lingkungan, meskipun pengetahuan dan pelatihan memadai (Daniels et al., 2010). 

Selain dapat menghambat pengambilan keputusan karier juga dapat menghambat seseorang dalam pengambilan keputusan karier Berdasarkan beberapa hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kecemasan karier dapat menghambat seseorang dalam proses pengembangan karier. 

Optimis

Optimis adalah perasaan dan keyakinan akan kemampuan seseorang untuk berhasil dengan berdiri di belakang akal sehatnya dan mengembangkan pandangan positif terhadap diri sendiri dan orang-orang di sekitar kita sehingga seseorang percaya diri dan mampu menghadapi apapun dengan tenang.

Percaya diri memegang peranan penting dalam proses kehidupan. Percaya diri merupakan salah satu modal sukses terpenting untuk hidup dengan optimisme dan merupakan kunci kesuksesan dan hidup bahagia. Orang dewasa dan anak-anak yang lebih optimis tentang kehidupan cenderung lebih sehat, lebih termotivasi, lebih sedikit mengalami depresi, dan bekerja lebih baik. 

Optimis menjadikan kita pribadi yang selalu percaya diri pada kemampuan kita mesti mungkin memiliki keterbatasan dalam mengambil keputusan jika berhadapan dengan masalah, optimis akan memberikan kita energi yang akan mendukung kita mudah bangkit kembali dan memperbaiki kesalahan yang telah dilakukan. 

Ditemukan juga bahwa orang yang optimis melihat penyebab peristiwa kehidupan yang positif sebagai jangka panjang, berdasarkan upaya mereka dan digeneralisasikan ke dalam situasi kehidupan yang berbeda. Dalam Al Qur'an, surat Al-Imran ayat 132, Allah menyerukan "Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman". 

Dalam ayat ini dalam dilihat betapa pentingnya memiliki sifat optimis dalam pribadi mukmin yang beriman, sifat optimis ini yang membawa kita semakin yakin bahwa Allah akan senantiasa bersama hambanya yang beriman.

Menghadapi Kecemasan Terhadap Karir Dengan Optimis

Dalam Islam, sikap optimistis ditunjukkan dengan berprasangka baik kepada Allah bahwa dalam setiap kesulitan dan permasalahan terdapat kemudahan dan jalan keluar (QS. Al-Insyirah: 5)Orang yang optimis melihat lebih banyak peluang daripada orang yang pesimis. 

Mereka lebih mampu menghadapi masalah ketika muncul dari sudut pandang yang lebih positif, sementara keterampilan koping memungkinkan wanita untuk terus mengubah pola kognitif atau perilakunya. Sehingga mengurangi tuntutan eksternal dan internal, terutama yang diharapkan untuk memenuhi beban dan melebihi kapasitas individu dan di antaranya ada hubungan positif antara optimisme dan kesuksesan profesional.

Untuk mengatasi kecemasan karier, seseorang justru didorong untuk lebih aktif melakukan tugas-tugas yang membantunya mengenal diri sendiri dan lingkungan kerja. Menjadi lebih aktif dalam bimbingan karier membantu seseorang membuat pilihan karier (Blustein & Phillips, 1988).

Referensi

Fitri, E., Zola, N., & Ifdil, I. (2018). Profil kepercayaan diri remaja serta faktor-faktor yang mempengaruhi. JPPI (Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia), 4(1), 1-5.

Mirah, F. F. E., & Indianti, W. (2018). Pengaruh kecemasan karier terhadap commitment to career choice dengan kelekatan orang tua sebagai moderator. Jurnal Psikologi Insight, 2(1), 74-89.

 Putrianti, F. G. (2007). Kesuksesan peran ganda wanita karier ditinjau dari dukungan suami, optimisme, dan strategi coping.