Seorang gamers, k-popers, dan wibu pasti memiliki psikologi yang berbeda dari orang lain pada umumnya. 

Terlalu sering bermain game online,  terobsesi dengan seorang idol, dan berlebihan dalam menyukai dunia anime sangat berpengaruh bagi kondisi psikologi seseorang. 

Tidak sedikit dari masyarakat yang menganggap remeh seorang gamers, k-popers, dan wibu. 

Namun siapa sangka menjadi seorang gamers, k-popers, dan wibu memiliki keistimewaan tersendiri dalam kondisi psikologi mereka.

 Meski dianggap remeh sebagian orang, menjadi seorang gamers, k-popers dan wibu adalah hal yang sangat menyenangkan, bahkan tak jarang hobi ini dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah yang menguntuntungkan.

Namun apakah hal ini berpengaruh terhadap kesehatan psikologi atau mental seorang gamers, k-popers, dan wibu?

Bagaimana pengaruh menjadi seorang gamers, k-popers, dan wibu terhadap kondisi psikologi?

Semoga tulisan ini dapat membuat kita mengetahui pengaruh menjadi seorang gamers, k-popers, dan wibu untuk kondisi psikologi mereka.

Anak muda zaman sekarang pasti sudah tak asing lagi dengan kata gamers, k-popers, dan wibu. Banyak dari kita yang merupakan salah satu dari ketiganya itu atau bahkan kita termasuk ke dalam tiga-tiganya.  

Tak jarang hobi ini menjadikan orang tua kesal karena dianggap membuat anak menjadi malas-malasan dan enggan untuk belajar.

Yang pertama kita bahas adalah seorang gamers. Gamers sendiri adalah sebutan bagi orang yang pandai dalam memainkan game online. 

Sebenarnya bermain game online ini dapat meningkatkan kemampuan konigtif dan dapat menjadikan seseorang untuk berpikir kritis, mengapa demikian? Karena saat memainkan game kita dituntut bagaimana cara menyusun strategi untuk mengalahkan musuh, memiliki perhitungan yang tepat kapan harus menyerang musuh. 

Hal ini menambah kepandaian kita dalam menghadapi masalah.  Selain itu kita dapat meningkatkan kemampuan komunikasi dan teamwork.

Bagaimana tidak? Bahkan kita tidak mengenal siapa teman kita dalam bermain game, namun kita sudah dapat berkomunikasi dengan baik sehingga dapat memenangkan suatu pertandingan.

Hal ini juga menambah skill kita dalam kerja kelompok yang dimana kita harus saling bekerja sama dengan baik.

 Pengaruh psikologi lainnya yaitu kita belajar mengontrol emosi, saat bermain game pasti kita akan merasakan yang namanya emosi. 

Biasanya terjadi kalau kita kalah dalam bermain kita akan menahan untuk berkata kasar. Jadi kecerdasan dalam mengontrol emosi kita akan meningkat.

Lanjut yang kedua, menjadi seorang k-popers atau sebutan bagi pecinta boyband/gilrband maupun drama asal Korea Selatan. 

Di Indonesia K-popers ini lebih banyak dihujat dibanding gamers dan wibu karena mereka dianggap tidak mencintai produk dalam negeri. Sedangkan pengaruhnya untuk kondisi  psikologi, tergantung bagaimana cara mereka mengagumi. 

Biasanya k-popers garis keras akan cenderung memiliki banyak dampak negatif, salah satunya mereka akan sering barhalusinasi tentang idol mereka, memang terkesan aneh namun tidak dipungkiri memang seperti itu yang terjadi. 

Namun bagi mereka yang dapat menempatkannya dengan tepat dan sewajarnya, menjadi k-popers untuk kondisi psikologi mereka sangatlah baik. 

Seorang psikologi mengatakan hati seorang k-popers lebih murni, hangat daripada orang lain, mereka berteman dengan orang yang memiliki ketertarikan yang sama walaupun beda kota, usia, Negara.

Mereka tidak mendeskriminasi ras  dan selalu berusaha mengatasi perbedaann budaya dan bahasa. Mereka tidak mudah menyerah, gigih dan ttidak menghianati orang yang mereka sukai.

Yang terakhir yaitu menjadi seorang wibu atau pecinta budaya Jepang yang seakan-akan mereka itu tinggal di Jepang.

Namun wibu sering diidentikan dengan pecinta anime Jepang. Banyak sekali serial anime Jepang yang ditayangkan  di Indonesia, contohnya serial Capatain Tsubasa, One Piece dan Naruto. 

Meski terkesan serial anime ini banyak disukai anak, namun tak jarang pula banyak orang dewasa menyukainya.

Sebenarnya menjadi wibu bukanlah hal yang aneh, namun mereka harus dapat membatasi antara dunia nyata dan dunia fantasi. 

Karena tak jarang seorang wibu menjadika waifu ( wanita- wanita cantik dalam anime) seakan-akan menjadi istri mereka sungguhan. 

Seorang wibu biasanya juga malas untuk bersosialisasi karena terlalu terobsesi dengan dunia fantasi mereka. 

Namun di sisi lain wibu juga memiliki dampak positif untuk kondisi psikologi mereka. seorang wibu yang gemar menonton anime mereka akkan merasa terhibur dan bahagia, punya banyak teman sesama wibu, berwawasan luas, dan jauh dari pergaulan bebas. 

Para wibu menganggap anime lebih mendidik daripada sinetron, dari menonton anime mereka juga dapat belajar sedikit bahasa Jepang secara otodidak.

Setelah mengetahui pengaruh menjadi seorang gamers, k-popers, dan wibu untuk psikologi kita, apa yang dapat kita ambil pelajarannya? Ya, tentu saja, ketiganya memiliki sisi positif dan negatif. 

Pada intinya semua itu harus sesuai dengan kadar kewajaran, karena pada dasarnya semua yang berlebihan itu tidak baik. 

Bagi kita yang bukan termasuk ke dalam ketiganya, kita juga harus menghargai apa yang menjadi kesukaan mereka, jangan sampai menghujat atau meremehkan sehingga dapat menimbulkan perpecahan di Bangsa sendiri.