Di bawah Presiden Vladimir Putin, perilaku politik luar negeri Rusia semakin tegas di kancah politik internasional. Ada banyak bukti bahwa perilaku Rusia adalah kekuatan yang meningkat. 

Mulai dari pendekatan kritisnya terhadap Barat dengan tujuan menyeimbangi dominasi berlebihan, perilakunya terhadap tetangganya, intervensi dan serangan militer, serta terpenting dalam pembahasan ini tentu saja tentang keputusan Putin untuk tidak berpartisipasi dalam forum bergengsi yaitu diskusi KTT G20.

Kehadiran Putin sebenarnya memiliki makna strategis dalam hal perundingan ekonomi dan akan menjadi nilai tambah pada hasil diskusi. G20 sendiri telah menyepakati bahwa pada masa kepresidenan Indonesia hanya akan dibahas tiga tema utama, yaitu kerjasama kesehatan global, ekonomi digital dan transisi energi. 

Saat dunia berjuang untuk pulih dari krisis ekonomi, peran Rusia harus diakui penting dengan hasil yang signifikan meskipun ketika negaranya sedang tidak kondusif. Akan sangat berguna jika Putin datang ke pertemuan G20 untuk membahas tantangan ini yang mampu dikelola baik oleh Rusia, agar menjadi pertimbangan bersama. 

Tetapi juga hak Rusia untuk tidak berpartisipasi, hal ini kental kaitannya karena dipengaruhi oleh kekuatan politik luar negerinya, yang berusaha mempertahankan posisi menguntungkan negara Rusia.

Kekuatan Politik Luar Negeri Rusia

Absennya Putin di KTT G20 ada kaitannya dengan pembahasan masalah Rusia-Ukraina yang menjadi kesalahpahaman Rusia. Pertimbangan dasar ini mendorong kebijakan luar negeri Rusia selaras dengan prioritasnya, maka jika hal ini tidak masuk dalam perhitungan, Rusia merasa tidak memiliki urgensi apa pun untuk menghadiri apalagi untuk membahas hal perdamaian yang bukan merupakan tujuan utama forum KTT G20.

Menilik kacamata geopolitik yang menjadi keresahan dunia, Rusia mampu mengambil bagian untuk memainkan peran sentral politik luar negerinya, dengan mengeluarkan perintah ke negara-negara Eropa. 

Mengingat pasokan utama gas alam berasal dari Rusia, mampu membuat Eropa sangat berhati-hati dalam mengambil tindakan karena jelas membutuhkan bantuan energi Rusia yang sangat besar, terutama saat kawasan Eropa memasuki musim dingin. Rusia menjadikannya sarana adu kekuatan politik untuk mempengaruhi dominasi kekuatan. 

Hal ini digunakan Rusia mengurangi tekanan oleh negara Barat dalam hal intervensinya kepada Ukraina, dan jelas bahwa kekuatan politik yang didominasi oleh negara Barat menjadi semakin berkurang.

Rusia telah menekankan melalui diplomasi politik luar negerinya bahwa masalah Ukraina adalah konflik regional dan masyarakat internasional tidak perlu campur tangan. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa forum G20 tidak perlu mengabdikan dirinya untuk perdamaian Rusia-Ukraina. 

Rusia bahkan hanya memberi Ukraina pilihan untuk menyerah dan tidak membuka jalan menuju perdamaian. Selama belum ada yang menyerah serangan demi serangan sangat mungkin tetap terjadi.

Alasan Ketidakhadiran Putin

  1. Isu Rusia-Ukraina akan menjadi topik inti yang menarik perhatian pada KTT G20, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan agenda penting akan terus dimajukan bahkan menjadi desakan. Dua masalah yang akan dibahas terkait dengan perdamaian, dan yang menyangkut dampak negatif perang terhadap revitalisasi masalah politik dan ekonomi global dalam proses perdamaian Rusia-Ukraina. Ancaman kemungkinan krisis energi dan pangan akibat intensitas perang belum terlihat titik terang dalam sejarah. Tentu hal ini sangat dihindari oleh Rusia dalam upayanya mempertahankan keamanan dan kedaulatan negaranya.
  2. Rusia tidak membuka pintu penghinaan di KTT G20, melihat banyak negara yang mempromosikan hak asasi manusia dan perdamaian mendukung Ukraina. Putin kemudian dikenal sebagai penjahat terhadap kemanusiaan dalam hal diktator perang dengan jumlah korban perang yang terus bertambah, selain itu juga  dianggap sebagai dalang di balik gejolak ekonomi dan politik dunia. Celah yang dapat diperkirakan memberikan ruang penghinaan kepada Rusia ini kemudian diantisipasi dengan ketidakhadiran. Proses menuju G20 juga dinilai Rusia mungkin berada di bawah tekanan yang terlalu besar dan terus dibayangi oleh negara Barat yang pro-Ukraina.
  3. Dalam hal politik luar negeri Rusia tidak ingin terlalu banyak diintervensi oleh negara lain. Rusia berusaha mereposisi fungsi target KTT G20 sebagai ajang negosiasi masalah ekonomi multilateral, jauh dari latar belakang perang Rusia-Ukraina. Dimana fungsi dan peran agar lurus sebagaimana tujuan dan tema besar yang harus diperjuangkan dalam hal perundingan ekonomi secara internasional oleh berbagai negara.
  4. Ketidakhadiran yang harus dihormati terkait dengan hak untuk dapat menghadiri acara tersebut maupun menolak, sehingga semua pihak harus menghormatinya. Rusia juga telah berusaha mengirim pengganti Putin, menteri luar negeri Rusia, ke KTT G20 di Bali sebagai bentuk timbal balik dan rasa hormat bagi seluruh anggota.


Kesimpulan 

Rusia memperjelas bahwa kegiatan G20 tidak perlu dipersiapkan untuk kepentingan kedaulatan Ukraina, dan bahwa Ukraina sendiri bukanlah anggota G20, tetapi hanya tamu undangan. 

Masalah perang yang berkaitan dengan dua negara ini akan menjadi tanggung jawab bilateral Rusia dan Ukraina dan tidak akan diselesaikan di forum ekonomi seperti KTT G20. Jika Forum mengutamakan perdamaian, maka urusan ekonomi menjadi tidak relevan kembali.