Dalam kehidupan di dunia ini, tentunya kita dihadirkan dengan berbagai macam peristiwa yang entah kita alami dengan sendiri atau kita melihatnya yang terjadi pada orang lain. Namun, beberapa peristiwa penting dan bersejarah juga dapat kita tahu tanpa melihat atau merasakan peristiwa tersebut secara langsung dengan mendengarkan cerita atau melihat bukti peninggalan yang ada tersimpan di Museum. 

Biasanya barang-barang tersebut disimpan agar terjaga dan terawat, sehingga nilai-nilai yang bersifat memori itu tidak akan rusak atau hilang. Mengapa? Karena itu sebagai bentuk bukti pada latar belakang cerita barang itu. 

Dan biasanya, peristiwa yang kita alami sendiri atau orang lain, atau bahkan hanya mendengarnya dapat membawa kita pada tahap proses belajar. Kok bisa? Ya, Karena dengan peristiwa tersebut kita akan mendapatkan makna serta pelajaran dari setiap peristiwa itu, terlebih peristiwa itu tidak berkesan apalagi cenderung merugikan. 

Namun, tidak semua peristiwa membawa keburukan pada kehidupan kita, ada peristiwa yang membuat kita menjadi tersadar akan hal yang sebenarnya atau membuat kita menjadi mengenal dan tahu, dan memiliki rasa ketertarikan sampai mencari tahu lebih dalam, hingga memiliki rasa cinta pada hal tersebut.

 Lalu, Peristiwa apakah yang dapat membuat kita jatuh cinta? Dan peristiwa apa yang tidak berkesan sehingga membuat kita mendapatkan makna kehidupan?

Cerita mengenai peristiwa yang terjadi tersebut dalam KBBI yaitu hikayat. Hikayat adalah sebuah karya sastra lama Melayu berbentuk prosa yang berisi cerita, undang-undang, dan silsilah bersifat rekaan, keagamaan, historis, biografis, atau gabungan sifat-sifat itu, dibaca untuk pelipur lara, pembangkit semangat juang, atau sekadar untuk meramaikan pesta. 

Namun, Hikayat ini merupakan kata serapan dari bahasa Arab dari kata haka yang berarti menceritakan atau bercerita. Hikayat sebagai istilah sastra untuk pertama kalinya ditemukan dalam sebuah karya yang ditulis oleh Abu Al-Mutakhir al-azdi, yang berjudul Hikayat Abu al-Qasim al Baghdadi. 

Karya tersebut menggambarkan suasana hidup keseharian di Baghdad dalam bentuk kisah sederhana. Konon bermula dari sanalah istilah hikayat itu dipergunakan. 

Karya sastra lama berupa hikayat ini tentunya memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

A.    Cerita Berbentuk Prosa

Jenis sastra ini beralur naratif. Di dalamnya ada yang berupa:

1.      Cerita rakyat, seperti Hikayat Si Miskin dan Hikayat Malin Dewa

2.      Epos dari India, seperti Hikayat Sri Rama

3.      Dongeng-dongeng dari Jawa, seperti Hikayat Pandawa Lima dan Hikayat Panji Semirang

4.      Cerita Islam, seperti Hikayat Nabi Sulaiman dan Hikayat Nabi Nuh

5.      Sejarah dan biografi, seperti  Hikayat Raja-raja Pasai.

 

Melalui hikayat, peristiwa yang tidak dapat kita saksikan bisa kita dengar dan tahu akan adanya peristiwa penting tersebut. Salah satunya adalah Peristiwa kelahiran Nabi Muhammad Saw. 

Dalam sastra Melayu klasik, hikayat yang bercerita tentang perjalanan hidup Nabi Muhammad jumlahnya sangat banyak. Mulai dari Hikayat kelahiran, Hikayat Mukjizat Rasulullah,  Hikayat Nabi Mi'raj, Hikayat Nabi Mengajar, hingga Hikayat Nabi Muhammad wafat. 

Hal ini tentu saja dapat dibuktikan melalui salah satu kitab yang membahas kisah perjalanan Nabi Muhammad dari lahir hingga wafat, Kitab tersebut adalah kitab Sirah Nabawi. Dengan adanya hikayat ini, kita dapat mendengar dan membayangkan betapa beratnya perjuangan Rasulullah dalam membawa, menegakkan Agama Islam di muka bumi ini. Perjuangan demi perjuangan itu rela dilakukannya untuk membawa manusia kembali kepada Allah Swt.

Menurut pengamatan yang dilakukan oleh Ismail Hamid (1984), pada Hikayat Nabi Miraj, Hikayat Bulan Berbelah, dan Hikayat Mukjizat Rasulullah didasarkan kepada hadist-hadist yang terkandung dalam riwayat Al-Bukhari, Al-Tirmidzi, Muslim, dan Ali-Nasa’i. Dalam riwayat Al-Bukhari terdapat beberapa hadist yang menyebut tentang mukjizat bulan terbelah. Hadits-hadist tersebut diriwayatkan oleh Ibn Abbas, Anas bin Malik, dan Ibn Mas’ud.

        “ Bulan terbelah menjadi dua pada masa Rasulullah lalu beliau bersabda: Saksikanlah oleh kalian.” (HR Muslim No. 5010).

Dalam Al-Qur’an juga dijelaskan dalam surat Al-Qamar:1-3, yang memiliki arti:  

1. telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan[1434].

2. dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata: "(Ini adalah) sihir yang terus menerus".

3. dan mereka mendustakan (Nabi) dan mengikuti hawa nafsu mereka, sedang tiap-tiap urusan telah ada ketetapannya[1435]

         Yang dimaksud dengan saat di sini ialah terjadinya hari kiamat atau saat kehancuran kaum musyrikin, dan "terbelahnya bulan" adalah suatu mukjizat Nabi Muhammad SAW.

 Maka, tak heran jika hikayat berpengaruh dalam Islam, karena dengan adanya hikayat kita dapat mengetahui kisah-kisah terdahulu yang tidak dapat kita rasakan secara langsung kejadiannya.