Akhir-akhir ini, publik telah dibuat gempar oleh kejadian yang tak biasa dalam dunia cinema yang menjadi hot news dan juga bahan perdebatan di masyarakat luas. Yakni sinetron yang menceritakan tentang kehidupan poligami di dalamnya.

Sinetron ini ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta yang biasanya tayang setelah adzan maghrib berkumandang. 

Sinetron tersebut bercerita tentang seorang pria bernama Tirta yang merupakan seorang pengusaha kaya raya dan telah mempunyai dua orang istri, namun pada suatu momen ia bertemu dengan Zahra(tokoh utama), gadis yang masih SMA dan merupakan pacar dari adik kandung Tirta tadi.

Setelah bertemu dengan Zahra, Tirta merasa jatuh cinta pada pandangan pertama. Nah dari situ drama demi drama dengan berbagai bumbu yang diperankan oleh masing-masing pemeran dengan apik. Apalagi peran sebagai “Zahra” yang diperankan dengan baik oleh Lea Ciarachel yang membuat penonton dirumah baper menikmati tayangan tersebut.

Permasalahan mulai muncul dihadapan umum ketika para aktivis feminis mengkritik tayangan sinetron tersebut karena pemeran “Zahra” yaitu Lea Ciarachel masih berusia 15 tahun. Dan dalam sinetron tersebut menayangkan adegan sedikit dewasa yang memang tidak pantas dilakukan oleh gadis muda berusia 15 tahun.

Oleh karena itulah sinetron ini menjadi hot news dan perdebatan dikalangan publik. Banyak yang mengkritik dan memprotes, namun tidak sedikit juga yang membela sinetron ini karena merupakan tayangan favoritnya.

Pada akhirnya, sinetron Suara Hati Istri “Zahra” diberhentikan, serta tuntutan utama dari masyarakat yakni pemeran “Zahra” yaitu Lea Ciarachel digantikan oleh orang lain yang usianya lebih pantas memerankan tokoh utama tersebut.

Namun kini, sinetron tersebut telah tayang kembali dengan judul dan pemeran utama yang berbeda dari sebelumnya. Meskipun begitu, ceritanya tetap seperti sediakala, plotnya satu dan abadi yaitu poligami, namun bukan itu pokok pembahasan tulisan kali ini.

Yang saya maksud ialah mari kita lihat tokoh utama laki-laki, yakni Tirta. Memang Tirta dalam sinetron tersebut menjadi titik segala permasalahan yang ada, dari apa yang dilakukannya(poligami) dan apa yang melekatnya padanya merupakan suatu paradoks yang terus-menerus dibawa dalam alur sinetron tersebut.

Tirta dalam sinetron tersebut merupakan cerminan kaum borjuis yang melakukan apapun yang ia inginkan dengan kekuatan materi. Apalagi tindakannya dalam berpoligami dalam sinetron tersebut yang sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai agama sebagai pondasi dalam berpoligami.

Bukankah jika seorang pria melakukan poligami harus dilandasi dengan keadilan dan yang menilai keadilan dalam poligami itu hak nya istri-istrinya? 

Dan jika istri-istrinya tidak merasakan keadilan tersebut sebagai haknya oleh suaminya maka diperbolehkan untuk bercerai karena ketidakmampuan suaminya dalam berpoligami.

Tirta dalam sinetron tersebut merupakan sosok kapitalis tulen.  Diawal cerita dijelaskan bahwa “Zahra” merupakan putri dari karyawan yang bekerja kepada Tirta. Padahal Zahra beserta keluarganya pada waktu itu enggan menerima pinangan dari Tirta

Tirta tak habis akal, dengan kekuatannya Tirta sebagaimana kaum borjuis lainnya, melakukan berbagai intrik untuk dapat menikahi Zahra, padahal saat itu Zahra masih duduk di bangku SMA dan usia mereka terpaut jauh serta Tirta telah memiliki dua istri.

Kedua istrinya pun, yakni istri yang pertama dan istri yang kedua sama kapitalisnya dalam sinetron tersebut.

Kedua istri Tirta tadi melakukan berbagai intrik dan sandiwara untuk saling berebut perhatian kepada Tirta, dan juga agar tidak dicerai dari Tirta, yang selama ini membiayai hidup mereka dengan mewah dan berlebih.

Dalam sinetron tersebut, dengan paksaan dan berbagai ancaman yang datang kepada Zahra, Tirta pun menikahinya selayaknya paksaan kaum borjuis terhadap kaum proletar yang dipandang rendah. 

Sebagaimana mestinya dalam sinetron yang ada di Indonesia yang selalu memunculkan stereotype bahwa selalu ada unsur penekanan antar kaum kaya dan kaum miskin di dalamnya.

Seakan-akan orang kaya lah yang mempunyai kebahagiaan sedangkan orang miskin selalu melekat pada penderitaan, padahal kebahagiaan tidak hanya berkutat di kemapanan finansial, namun juga kemapanan emosional dan kemapanan spiritual.

Penggiringan mindset inilah bahaya yang sesungguhnya karena media baik visual/audio/visual-audio, merupakan kebutuhan masyarakat yang bersifat dinamis.

Zahra yang berlatar belakang sebagai perwakilan kaum proletar, dan Tirta sebagai perawakan kaum borjuis, mencerminkan lika-liku saat ini yang terjadi kepada siapa saja bahwa kekuatan borjuis terletak kepada pengaruh dan finansial yang berlebih yang mereka gunakan semaunya tanpa rasa belas kasih kepada kaum proletar.

Terlepas dari berbagai isu di dalam sinetron tersebut, namun dalam konteks “isi” cerita, sinetron tersebut, terdapat unsur-unsur pelanggaran HAM yang menjadikan Zahra sebagai sasaran utama serangan baik fisik maupun psikis yang dilakukan oleh istri pertama dan istri kedua Tirta yang saling memperebutkan harta.

Dengan kata lain, sinetron tersebut merupakan ambiguitas yang mencerminkan kediktatoran seorang suami sekaligus borjuis tulen yang menggunakan harta sebagai senjata. Dan dalam sinetron tersebut memberikan kesan bahwa perempuan tidak layak untuk dipermainkan.