Ramadhan telah berakhir,umat Islam seluruh dunia masih dalam euforia hari raya Idul Fitri. Salah satu hari raya agama Islam ini berlangsung ketika bulan Ramadhan berakhir, tepat setelahnya.

Hari raya Idul Fitri merupakan momen dimana seluruh umat Islam saling memaafkan satu sama lain tanpa terkecuali. Dengan demikian hari raya Idul Fitri merupakan momentum untuk saling bertemu antara saudara, teman, bahkan mantan pasangan.

Gegap gempita hari Raya Idul Fitri sangat berpengaruh terhadap aspek sosial, ekonomi maupun budaya. Dalam tulisan ini akan menjelaskan pengaruh kapitalisme terhadap perayaan Idul Fitri selama ini.

Doktrin-doktrin kapitalisme sangat terasa dalam segala lingkup aspek selama kemenangan blok barat terhadap blok timur serta hilangnya pengaruh negara-negara komunis. Dengan demikian menimbulkan perkembangan yang pesat kapitalisme di segala lini hinggan kini.

Tak terkecuali terhadap perayaan hari-hari besar agama di dunia, tak terkecuali perayaan hari besar agama Islam, yakni hari raya Idul Fitri yang menjadi pokok pembahasan tulisan ini.

Alangkah beratnya ketika doktrin kapitalisme bertabrakan dengan nilai-nilai sosial yang terkandung di agama Islam secara kental, maka pengaruh doktrin kapitalisme tersebut sangat terasa bagi para muslim khususnya yang merayakan hari raya Idul Fitri sebagai momentual ranah keagamaan.

Akhir-akhir ini, perayaan hari raya Idul Fitri terpengaruh dengan doktrin kapitalisme akibat dari pengaruh para muslim sendiri dalam ranah perdagangan dunia yang tidak begitu kuat dan rapuh dalam mengamalkan hokum dagang Islam sesuai syariat agama Islam yang disepakati oleh para ulama.

Dan dalam hal ini bukan berarti harus mendirikan negara berlandaskan agama Islam, tentu tidak sama sekali. Maksud saya ialah sumber daya muslim yang mampu mengamalkan perdagangan sesuai nilai-nilai agama Islam yang telah dicontohkan oleh Rasulullah dalam sejarahnya berdagang selama hidupnya yang patut dicontoh.

Hal ini perlu sedikit penjelasan, karena perdagangan yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad ialah suatu ajaran kebaikan dalam kemanusiaan dalam mencari keuntungan.

Terlepas dari hal itu, doktrin kapitalisme telah memengaruhi hari raya Idul Fitri sehingga terjadi degradasi nilai-nilai agama Islam yang mengajarkan kesederhanaan dan tidak berlebihan.

Fenomena tersebut bisa kita amati saat perayaan hari raya Idul Fitri yang begitu berlebihan dan bermewah-mewahan saat merayakan, sehingga adanya kompetisi dalam menunjukkan harta dan sebagainya dengan tujuan pamer terhadap sesama muslim lainnya.

Padahal sebelum hari raya Idul Fitri, umat Islam diwajibkan berpuasa selama sebulan penuh di bulan Ramadhan yang memiliki esensi untuk menahan berlebih-lebihan dalam segala hal serta agar memiliki empati kepada sesame umat Islam, bahkan sesame manusia agar saling memahami ditengah-tengah perbedaan yang mencolok.

Berlebih-lebihan yang saya maksud merupakan akibat pengaruh kapitalisme di hari raya Idul Ftri yang membuat mindset umat Islam menjadi berlomba-lomba dalam hal menunjukkan kekuataannya antar sesama yang menjadikan umat Islam tidak berkembang dan hanya stagnan dalam peradaban.

Seperti euforia berbelanja pakaian secara membabi buta, membeli makanan yang begitu tidak perlu dan menghias rumah sedemikian rupa dengan harapan agar terlihat lebih indah dari sebelumnya dengan pertimbangan penilaian para tamu saat berkunjung sebagai harapan selanjutnya.

Hal-hal tersebut memang seringkali menjadi hal yang biasa dilakukan, namun bukankah hal-hal yang lumrah dilakukan jika tidak diperhatikan kembali esensinya akan menjadi kebiasaan?

Pada dasarnya kapitalisme sebagai ideologi ekonomi,bagaimanapun juga akan menimbulkan suatu resiko yaitu perbedaan kemampuan ekonomi yang mencolok dan enggan merata. Begitu juga pengaruh kapitalisme saat hari raya Idul Fitri.

Dengan kepekaan sebagaimana mestinya saat hari raya Idul Fitri, kita dapat mengamati perbedaan kemampuan ekonomi yang mencolok tersebut dengan memerhatikan aspek makanan, pakaian, dan pembahasan saat hari raya Idul Fitri. Hal-hal tersebut akan terlihat secara nyata.

Substansi beragama, khususnya dalam agama Islam saat hari raya Idul Fitri yang memiliki esensi silaturahmi antar sesama, dengan harapan mampu membangun ukhuwah persatuan dalam perbedaan akan terasa jika doktrin kapitalisme yang membangun aspek kompetisi dalam berekonomi tidak diterapkan dengan perayaan agama, khususnya perayaan hari raya Idul Fitri yang menjadi pokok pembahasan kali ini.

Dengan demikian umat Islam mampu secara bersama-sama untuk maju dalam persatuan sehingga tidak terperdaya oleh kekuatan yang tidak mencerminkan nilai-nilai agama, seperti contoh doktrin kapitalisme yang telah memengaruhi umat Islam.

Maka dari itu, diharapkan umat Islam menjadi umat yang memiliki kekuatan berpengaruh di sector internasional dengan memerhatikan sekecil apapun aspek-aspek yang telah memengaruhi ranah agama Islam selama ini.

Kepedulian bersama dalam membuka mata dengan pandangan terbuka sehingga diharapkan umat Islam mampu menginisiasi peradaban yang sehat tanpa perlu menyakiti antar sesama dengan penyakit hati.

Memang hari raya Idul Fitri memiliki substansi agar penyakit hati tidak berkembang dalam kesalahpaham antar perbedaan, sehingga setelah saling memaafkan diharapkan untuk meredam api balas dendam dan memperbaiki hubungan bagi yang telah lama berselisih paham.

Maka dari itu, penulis menghimbau agar umat Islam waspada terhadap doktrin kapitalisme yang memengaruhi aspek keagamaan agar  umat Islam mampu berdikari dalam segala lini dan tidak mudah terpecah belah.