2 tahun lalu · 4117 view · 3 menit baca · Filsafat averroes.jpg
Ibn Rushd (berbaju hijau) dalam lukisan terkenal Raphael "The School of Athens" (Foto: Wikipedia)

Pengaruh Ibn Rushd di Eropa

Baca tulisan sebelumnya: Ibn Rushd dan Zaman Kegelapan Eropa

Bahwa Ibn Rushd memiliki pengaruh yang besar bagi kesarjanaan Eropa abad pertengahan adalah sesuatu yang tak perlu diperdebatkan. Yang harus dijelaskan adalah kapan filsuf Muslim itu mulai mempengaruhi pemikiran orang-orang Eropa? Kapan dan mengapa orang-orang Eropa kemudian berhenti membaca Ibn Rushd?

Untuk menjawab pertanyaan pertama, beberapa karya dari kesarjanaan Barat modern seperti Science in the Middle Ages (1978), The Influence of Islam on Medieval Europe (1972) dan The Renaissance of the Twelfth Century (1927) bisa membantu kita menjelaskan kapan filsafat Arab-Islam, khususnya Ibn Rushd, mulai mempengaruhi orang-orang Eropa.

Charles Burnett menulis satu bab penting dalam buku the Cambridge Companion to Arabic Philosophy (2005), di mana dia membuat daftar cukup lengkap buku-buku filsafat karya filsuf Muslim yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin.

Menurut Burnett, perkenalan Eropa dengan karya-karya berbahasa Arab dimulai pada akhir abad ke-11, ketika beberapa sarjana di Salerno, Italia, berusaha mengoleksi buku-buku kedokteran dan filsafat. Sebagian buku-buku itu didapat dari seorang pendeta Benedictine yang baru datang dari lawatannya ke Tunisia.

Namun, upaya serius dan besar-besaran penerjemahan buku-buku berbahasa Arab, khususnya buku-buku filsafat, dilakukan di Toledo, Spanyol. Toledo adalah sebuah kota penting di Andalusia. Jatuh ke tangan kaum Muslim pada abad ke-8 dan menjadi salah satu kota paling beragam secara etnis dan agama.

Toledo menjadi model toleransi beragama dan kehidupan harmonis (convivencia) antara pemeluk Yahudi, Kristen, dan Islam pada abad pertengahan. Sebelum Islam datang, Toledo adalah ibu kota bangsa Visigoth, yang cukup agresif dalam membangun kota itu. Kota ini jatuh ke pasukan Reconquesta pada 1085 M atau 41 tahun sebelum Ibn Rushd lahir.

Mayoritas penduduk kota Toledo adalah orang-orang Kristen yang berbasa Arab atau orang-orang non-Arab yang fasih menggunakan bahasa itu. Bangsa Spanyol menyebutnya “Mozareb,” dari bahasa Arab “musta’rib” (kearab-araban). Ketika kota ini berada di bawah kekuasaan Kristen, penduduknya masih menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa sehari-hari.

Pada abad ke-12, Toledo menjadi pusat penerjemahan buku-buku berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Langkah Toledo ini kemudian diikuti oleh kota-kota besar Eropa seperti Roma, Paris dan London. Gerakan penerjemahan buku-buku Arab baru berhenti (atau berkurang) pada abad ke-15, ketika fajar Renaisans datang.

Dari daftar yang diberikan Burnett, kita mengetahui, buku filsafat pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin adalah karya sarjana Arab-Kristen yang sangat berperan dalam menerjemahkan buku-buku Yunani ke dalam bahasa Arab, yakni Hunayn bin Ishaq (w. 873) dan Qusta bin Luqa (w. 912).

Buku Qusta tentang Perbedaan antara Jiwa dan Ruh diterjemahkan oleh John of Seville pada 1125 M. Buku-buku filsafat al-Farabi diterjemahkan oleh Gerard of Cremona dan Dominicus Gundisalvi. Gerard of Cremona (w. 1187) adalah penerjemah asal Italia yang paling produktif di Toledo. Tak kurang dari 87 buku berbahasa Arab ia terjemahkan ke dalam bahasa Latin.

Magnum opus Ibn Sina, Kitab al-Shifa, diterjemahkan oleh Avendauth atau Abraham ibn Dawd Halevi pada 1160. Bagian-bagian lain dari al-Shifa diterjemahkan oleh Dominicus Gundisalvi dan Juan Gonzalves de Burgos. Karya monumental al-Ghazali, Tahafut al-Falasifah, diterjemahkan setidaknya dua kali dengan judul yang kurang tepat, Destructio Philosophorum.

Buku pengantar filsafat al-Ghazali juga diterjemahkan Magister Johannes dan Dominicus Gundisalvi pada 1160. Buku-buku filsafat Ibn Rushd, khususnya karya tafsirnya terhadap Aristoteles diterjemahkan oleh William of Luna antara tahun 1258 hingga 1266.

Untuk menjawab pertanyaan kedua, sebuah artikel yang ditulis oleh Harold Stone berujudul “Why Europeans Stopped Reading Averroes: the Case of Pierre Bayle” (Alif, 1996), bisa menjelaskan kapan dan mengapa orang-orang Eropa berhenti mempelajari filsafat Islam, khususnya Ibn Rushd.

Menurut Stone, karya-karya penting para filsuf dan ilmuwan Muslim masih dipelajari hingga era Pencerahan. Karya-karya Ibn Rushd, tetap menjadi bagian dari kurikulum di beberapa perguruan tinggi Italia, setidaknya hingga akhir abad ke-17. Buku kedokteran Ibn Sina, Qanun fi al-Tibb, juga masih terus digunakan dan dicetak ulang hingga abad ke-18.

Namun, pamor Ibn Sina, Ibn Rushd terus memudar, seiring dengan perkembangan filsafat dan sains modern di Eropa. Buku-buku kedokteran dan astronomi yang diproduksi sarjana-sarjana Muslim perlahan-lahan tergantikan oleh karya-karya baru ilmuwan Eropa.

Nama-nama seperti al-Khawarizmi, al-Razi, al-Hazen, dan Ibn Sina perlahan-lahan digantikan oleh Nicolaus Copernicus, Galileo Galilei, Johannes Kepler, dan Isaac Newton. Sementara nama Ibn Rushd semakin jarang dirujuk, tergantikan oleh filsuf-filsuf baru yang lebih relevan.

Di dunia Barat, pamor Ibn Rushd sangat bergantung pada nama besar Aristoteles. Ketika para filsuf dan saintis modern ramai-ramai mempertanyakan paradigma Aristotelian, khususnya pandangan-pandangan kosmologisnya, nama Ibn Rushd turut dipertaruhkan.