Korean Wave atau gelombang Korea merupakan sebuah fenomena yang di mana tersebarnya budaya maupun keindustrian musik atau drama Korea secara global di berbagai negara dunia, termasuk di Indonesia. Tersebarnya Korean Wave di Indonesia ini diawali dengan masuknya drama Korea yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di Indonesia karena sudah banyak drama yang ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi Indonesia.

Mulai dari Full House (2004), Boys Before Flowers (2009), Dream High (2010), The Heirs (2013), Yongpal (2015), Descendants Of The Sun (2016), Goblin (2016), Sky Castle (2018), The World of the Married (2020) hingga The Penthouse (2020) yang memperoleh kesuksesan dan banyak diminati untuk di tonton. Lalu Boygroup maupun Girlgroup seperti TVXQ, Super Junior, BIGBANG, 2PM, EXO, BTS, NCT, StrayKids, Girls’ Generation, 2NE1, SISTAR, BLACKPINK, Twice dan aespa yang mendapat kesuksesan secara Internasional.

Musik pop Korea atau yang biasa kita sebut dengan K-pop ini merupakan salah satu pendukung perekonomian di Korea Selatan. Pada akhir tahun 90-an, saat banyak negara di Asia mengalami krisis, Korea Selatan membentuk Kementrian Budaya K-pop

Mereka membangun auditorium konser yang besar demi perindustri Korea. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah Korea Selatan sangat memperdulikan kualitas yang membuat negara mereka dikenal secara Internasional.

Korean Wave digunakan untuk menciptakan citra yang baik bagi Korea Selatan untuk mempromosikan pariwisata, makanan maupun kebudayaan yang ada di Korea Selatan agar banyak dikenal oleh negara-negara yang akan dituju untuk pasar produk Korea Selatan. 

Daya tarik Korean Wave didukung oleh beberapa faktor berikut, yang pertama kebijakan pemerintah Korea Selatan memberikan dukungan finansial bagi meningkatkan promosi budaya Korea Selatan ke luar negeri. 

Yang kedua melalui produk perfilman dan drama Korea Selatan yang sering kita lihat ada berbagai drama Korea yang menggunakan hanbok (pakaian tradisional Korea Selatan) yang membuat kita tertarik mempelajari kebudayaan Korea Selatan.

Yang ketiga adalah hangul (huruf korea) ini juga termasuk dalam faktor daya tarik Korea Selatan, karena tulisan hangul juga mudah dipelajari jadi banyak orang yang tertarik mempelajari tulisan Korea maupun bahasa Korea. 

Yang keempat adalah pemanfaatan media dalam mempromosikan produk Korea Selatan seperti K-pop, drama, dan makanan yang berhasil menarik banyak peminat terutama pada golongan muda.

Ekspor budaya Korea Selatan ini tak hanya menguntungkan produk budaya saja, namun sangat meningkatkan pemasaran produk lain di pasar Internasional. Populernya produk kebudayaan yang ada di drama Korea sangat menguntungkan bagi mereka. Hal inilah yang mendorong adanya penggunaan produk-produk yang digunakan pada serial drama Korea tersebut.

Contohnya seperti penggunaan produk yang berasal dari Korea Selatan yaitu Samsung. Samsung merupakan perusahaan pembuat perangkat elektronik terbesar di dunia dan berkantor di Seocho Samsung Town di Seoul, Korea Selatan. Perusahaan ini termasuk perusahaan yang terbesar di Korea Selatan dan merupakan simbol dari Samsung Group. Pemasaran produk tersebut memberikan keuntungan bagi perusahaan-perusahaan tersebut.

Keberhasilan itu menguntungkan ekspor Korea Selatan dalam meningkatkan ekspor. Selain produk elektronik, produk yang tak kalah populernya yaitu produk komestik asal Korea Selatan seperti Tonymoly, Innisfree, Clio, Etude House dan The Face Shop yang terkenal di kalangan pemudi di Korea Selatan termasuk juga di Indonesia. Selain itu, game online asal Korea Selatan ini juga sangat populer di Indonesia yaitu seperti PUBG, Point Blank, dan Zepeto.

Keuntungan ekonomi Korea Selatan melalui Korean Wave tidak hanya didapatkan melalui ekspor budaya saja, namun juga Korean Wave dimanfaatkan sebagai sarana promosi bagi wisatawan yang ada di dunia. Hal ini membuat daya tarik Korea Selatan bagi wisatawan. Organisai Pariwisata Korea atau KTO (Korea Tourism Organization) juga telah ada di Indonesia tepatnya di Jakarta.

Ini bertujuan untuk mempromosikan budaya dan pariwisata yang ada di Korea Selatan kepada masyarakat Indonesia dan Korea Selatan seperti menggelar program pertukaran pelajar dan acara kerja sama kebudayaan. Dalam film atau drama Korea, banyak tempat-tempat yang indah dan membuat penonton ingin menikmati keindahan tersebut seperti Jeju Island, Nami Island, Namsan Tower, Gyeongbokgung Palace, Hanok Village, Lotte World, Myeongdong District serta Gangnam District.

Korean Wave sangat mempengaruhi masyarakat di dunia, termasuk di Indonesia. Masuknya budaya Korea ini dapat memberikan dampak positif maupun dampak negatif yang diterima oleh masyarakat. Dampak Positif Korean Wave yaitu bisa menambah pengetahuan (seperti mendapatkan pengetahuan bahasa dan budaya) yakni menambah bahasa baru, selanjutnya menambah wawasan tentang negara lain terutama Korea Selatan karena kemajuan teknologi yang pesat.

Dengan adanya Korean Wave ini hubungan pertemanan antara penyuka Korea sangat banyak. Karena penyuka Korea atau yang bisa disebut dengan Kpopers mempunyai berbagai banyak teman dari daerah yang berbeda adapun dari luar negeri karena sesama penggemar idola yang disukai.

Adapun dampak negatif dari Korean Wave yaitu bisa menyebabkan tergesernya budaya Indonesia karena lebih menyukai budaya orang lain daripada budaya nya sendiri, menonton video idola atau menonton drama Korea secara berlebihan sampai lupa waktu. Oleh karena itu, kita harus bisa mengontrol diri kita dan harus bisa menggunakan waktu dengan baik.