Berkembangkanya budaya Korea di Indonesia merupakan salah satu dampak dari arus globalisasi. Sudah menjadi rahasia umum bahwa globalisasi dapat memperluas pengaruh kebudayaan suatu bangsa ke seluruh penjuru dunia dengan mudah tanpa halangan yang berarti.

Meski sejumlah pihak menyatakan bahwa globalisasi berawal di era modern, beberapa pakar lainnya melacak sejarah globalisasi sampai sebelum zaman penemuan Eropa dan pelayaran ke Dunia Baru. Ada pula pakar yang mencatat terjadinya globalisasi pada milenium ketiga sebelum masehi; pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Penyebaran budaya Korea di negara-negara Asia Timur dan beberapa negara Asia Tenggara, terutama di Indonesia, sangat pesat, karena berbarengan dengan pesatnya perkembangan teknologi yang seakan-akan menghapus sekat dan batas antara satu negara dengan negara lainnya.

Korean Wave (Gelombang Korea) atau biasa disebut Hallyu, mampu memperkenalkan budaya Korea Selatan kepada rakyat Indonesia dengan baik, bahkan cenderung mempengaruhi gaya hidup pemuda Indonesia. Mulai dari selera musik, gaya berpakaian, makanan, cara bersikap, produk kecantikan, dan lain sebagainya.

Pada tahun 2000-an, perlahan namun pasti, Korea mulai meracuni masyarakat Indonesia dengan berbagai drama serial yang tayang di stasiun televisi swasta. Masyarakat Indonesia menyambut baik masuknya drama Korea ke Indonesia, karena pada saat itu masyarakat Indonesia telah jenuh dan bosan dengan sinetron yang menyuguhkan alur cerita yang tidak berkesudahan.

Tentu saja ini sangat berpengaruh terhadap jumlah penonton pada film Indonesia, apalagi jika penayangannya berbarengan dengan film Korea, kemungkinan besar jumlah penonton film Korea lebih banyak dibandingkan dengan jumlah penonton film Indonesia.

Mayoritas kaum milenial mengganggap bahwa film Indonesia memiliki alur cerita yang bisa ditebak dan memiliki ending yang biasa saja, tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa perfilman Indonesia saat ini sudah mulai bangkit dan memiliki kualitas yang tidak kalah dari film-film luar negeri.

Hal tersebut dibuktikan dengan film The Raid: Redemption, film Indonesia yang pertama kali dipublikasi pada Toronto International Film Festival 2011, sebagai film pembuka untuk kategori Midnight Madness, dan menjadi film favorit juri di Festival Film Sundance. Tak hanya itu, The Raid disejajarkan dengan film-film dunia dan masuk dalam deretan 50 film laga terbaik.

Kita sebagai kaum milenial sudah seharusnya mengapresiasi lebih film-film besutan anak bangsa. Boleh saja menonton film luar negeri, tetapi jangan meremehkan atau bahkan melupakan film Indonesia.

Lagi-lagi arus globalisasi yang begitu kuat membuat drama dan film Korea menjadi candu yang baru. Segala sesuatu yang berbau Korea sangat digemari oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Para pemain yang ada dalam drama-drama tersebut menjadi idola baru.

Terlihat dari banyaknya remaja yang meniru cara berpakaian orang-orang korea, pakaian yang terbuka dan ketat menjadi pakaian sehari-hari. Tentu saja ini tidak cocok dengan budaya orang Indonesia.

Orang korea memakai pakaian jenis tersebut ketika musim panas tiba, tetapi orang Indonesia memakainya untuk bepergian ke luar rumah, salah kaprah demi untuk dibilang wah. 

Tidak ada salahnya untuk mengikuti tren pakaian yang ada. Namun, sebagai penerus bangsa, sudah seharusnya kita mampu menyaring dan membedakan apa yang baik dan tidak baik. Bukan tidak mungkin, perlahan-lahan ini akan membuat mereka melupakan kebudayaan asli Indonesia seperti pakaian tradisional.

Masuknya budaya Korea ke Indonesia bagaikan dua sisi mata uang, di satu sisi membawa dampak positif. Seperti meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap musik, kreativitas, ketertarikan masyarakat untuk mempelajari budaya, bahasa, dan trend dari Korea

Hal tersebut dapat memperluas wawasan yang dimiliki tentang negara lain. Karena kemajuan teknologi dan transportasi serta banyaknya penggemar grup musik Korea sering menyambangi Indonesia untuk melakukan konser, tentu saja akan menarik media internasional untuk meliput.

Ini dapat dijadikan sebagai ajang untuk mempromosikan Indonesia ke dunia, menarik wisatawan asing untuk berkunjung ke Indonesia. Dengan begini, dapat mempererat hubungan kerja sama antara Indonesia dan Korea Selatan serta menambah devisa negara.

Dampak negatif dari budaya Korea yang masuk ke Indonesia adalah menyebabkan terjadinya pergeseran budaya dan akhlak yang amat signifikan, apatis terhadap kebudayaan bangsa sendiri, mengubah pola pikir generasi muda untuk selalu meniru dan meniru semua aspek kehidupan yang berbau Korea.

Atas nama globalisasi dan modernisasi mendorong generasi muda untuk menganut kehidupan yang liberal di tengah krisis sosial yang terus-menerus menggerus identitas budaya nasional.  

Kita tidak bisa menyalahkan Korean wave yang melanda Indonesia. Karena pada hakikatnya, semua negara pasti akan mengalami “perubahan”, tetapi semua itu masyarakatnyalah yang menentukan. Ingin berubah ke arah yang lebih baik atau buruk.

Masyarakat juga harus berpikir krititis dan bersikap bijak dalam menghadapi segala “gelombang” yang datang. Membekali diri dengan pengetahuan dan kebijaksanaan dalam menghadapi kehidupan dan segala perubahan agar tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang belum tentu baik dan benar.

Para kaum milenial harus bangga terhadap segala bentuk kebudayaan Indonesia, harus terus berusaha untuk melestarikan dan mewarisi kebudayaan Indonesia. Jangan hanya sibuk membanggakan kebudayaan milik bangsa lain demi eksistensi dalam pergaulan.