Isu lingkungan sudah saatnya diberikan perhatian lebih disebabkan kondisi lingkungan mulai memprihatinkan. Isu lingkungan menjadi penting karena kualitas lingkungan akan mempengaruhi kualitas hidup manusia secara langsung dan juga akan mempengaruhi kualitas hidup di masa mendatang.

Isu lingkungan saat ini tidak hanya mengenai deforestasi hutan, perubahan iklim, ataupun efek rumah kaca. Diluar itu terdapat kondisi yang tidak kalah penting, yaitu polusi sampah.

Sampah terbagi menjadi dua, yaitu sampah organik dan sampah non-organik. Sampah organik termasuk di dalamnya adalah sampah sisa makanan. Sedangkan sampah non-organik meliputi sampah kertas, kayu, logam, plastik, dan lainnya.

Sampah plastik merupakan isu lingkungan yang sangat mengkhawatirkan, khususnya di Indonesia. Hal ini disebabkan karena banyaknya penduduk yang ada di Indonesia dan juga meningkatnya aktivitas masyarakat.

Berdasarkan data Jambeck pada tahun 2015 disebutkan bahwa Indonesia menduduki peringkat kedua negara yang mencemari sampah plastik di perairan laut dunia. Berkisar antara 0.48-1.29 juta ton/tahun jumlah sampah plastik yang disumbangkan negara Indonesia ke lautan dunia.

Sedangkan menurut Indonesia Solid Waste Association (InsWA) menyatakan bahwa jumlah sampah plastik yang ada di Indonesia telah mencapai angka 5.4 juta ton/tahun atau setara dengan 14% dari keseluruhan produksi sampah di Indonesia pada tahun 2015.

Hal tersebut terjadi, dikarenakan faktor dari masyarakat Indonesia yang masih minim akan pengetahuan dari pengelolaan sampah khususnya sampah plastik.

Mayoritas kebiasaan masyarakat di Indonesia dalam mengelola sampah yaitu dikubur atau dibakar. Sedangkan sampah plastik yang memiliki sifat susah terdegradasi secara alami menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan.

Pengelolaan sampah plastik yang paling tepat adalah dengan menggunakan konsep Circular Economy yang menerapkan prinsip 3R, yaitu Reduce, Reuse, Recycle.

Penerapan 3R tersebut diwujudkan secara nyata melalui program Bank Sampah. Program ini awalnya dicetuskan oleh perusahaan Unilever. Dengan tujuan untuk mengurangi sampah plastik kemasan produk Unilever dengan cara dikumpulkan untuk didaur ulang.

Bank Sampah menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2012 memiliki pengertian merupakan tempat pemilahan dan pengumpulan sampah yang dapat didaur ulang dan/atau diguna ulang yang memiliki nilai ekonomi.

Sedangkan Bank Sampah menurut Unilever adalah suatu sistem pengelolaan sampah kering secara kolektif yang mendorong masyarakat untuk berperan serta aktif didalamnya.

Bank Sampah Unilever diatur untuk dikelola oleh masyarakat untuk masyarakat Indonesia. Terdapat level Bank Sampah, dari yang cakupan nasabahnya hanya dari 1 RT atau 1 RW saja, hingga yang cakupan nasabahnya dari seluruh kota dan biasa disebut Bank Sampah Kota / Bank Sampah Induk.

Dalam berjalannya program ini, terdapat mekanisme yang dilakukan oleh Bank Sampah. Diawali dengan memilah sampah berdasarkan jenisnya, kemudian sampah di bawa ke Bank Sampah untuk di timbang. Hasil timbangan di catat di buku tabungan dan sampah yang telah terkumpul di Bank Sampah akan di bawa oleh pengepul untuk di daur ulang.

Pengelolaan Bank Sampah dilakukan dengan sistem reward, di mana memberikan penghargaan berupa hadiah kepada masyarakat yang mau berpartisipasi dalam memilah dan menyetorkan sejumlah sampah ke Bank Sampah.

Berdasarkan Laporan Keberlanjutan Unilever tahun 2020, jumlah Bank Sampah binaan Unilever saat ini telah mencapai lebih dari 4.000 unit dengan lebih dari 500.000 anggota Bank Sampah. Dan sampah yang telah terkelola oleh Bank Sampah mencapai 16,401.71 ton, yang diantaranya terdapat lebih dari 12 juta ton sampah anorganik.

Meskipun Bank Sampah Unilever lebih memfokuskan kepada sampah plastik kemasan produksi Unilever sendiri, namun dapat dikatakan bahwa Bank Sampah Unilever telah membantu mengurangi sampah plastik di Indonesia.

Mengingat bahwa Unilever merupakan perusahaan besar dan masyarakat Indonesia cukup banyak menggunakan produk merek Unilever dalam kebutuhan sehari-harinya.

Tidak hanya Unilever, Pemerintah Indonesia juga memiliki program Bank Sampah. Berdasarkan data BPS terdapat sekitar 11.330 unit Bank Sampah yang tersebar di seluruh Indonesia.

Hal ini mendorong tujuan Pemerintah Indonesia dalam Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut yang mengurangi hingga 70% sampah laut pada tahun 2025.

Maka dari itu, peran Bank Sampah dalam mengurangi sampah plastik di Indonesia sangat dibutuhkan.

Karena pentingnya peran Bank Sampah dalam mengelola sampah anorganik khususnya jenis sampah plastik, diharapkan perusahaan-perusahaan lain, terutama perusahaan makanan dan minuman atau perusahaan FMCG dan sejenis, dapat tergerak untuk melakukan program yang sama.

Program Bank Sampah merupakan perwujudan dari konsep Circular Economy di mana sistem ekonomi saat ini memaksimalkan nilai yang ada dari suatu produk, meskipun itu berupa sampah sekalipun.

Dari pemaksimalan nilai sampah tersebut, akan menghasilkan manfaat berupa kenaikan ekonomi hingga pemberdayaan manusia sebagai pekerja.

Dengan adanya program Bank Sampah ini, kita mendapat manfaat berupa mendapatkan pekerjaan, mendapatkan keuntungan ekonomi dari menukar sampah anorganik, serta lingkungan kita juga menjadi lebih asri karena telah mengurangi sampah plastik.

Kabar baiknya adalah program Bank Sampah ini merupakan program yang terus berlanjut selama sampah plastik masih menjadi isu lingkungan di Indonesia.

Diharapkan dengan terus berjalannya program Bank Sampah di Indonesia, dapat menjadikan negara Indonesia bebas dari sampah khususnya sampah anorganik berbahan plastik.

Sehingga negara Indonesia bisa seperti negara-negara maju lainnya, yang di mana pada setiap sudut wilayahnya tidak ditemukan sampah agar menjadikan lingkungannya tampak asri. Dan masyarakat lebih menyadari pentingnya menjaga lingkungan dengan melakukan pemilahan sampah dari rumah.