Penduduk Papua dan Maluku mencapai persentasi kemiskinan terbesar, yakni 21,33 persen dari total penduduk miskin 26,58 juta jiwa (Kominfo.id).

Berita itu mungkin bukanlah sesuatu yang asing untuk rakyat Indonesia. Kebanyakan orang telah mengetahui bahwa wilayah Papua dan Maluku mempunyai rakyat miskin yang tinggi.

Pernah beredar bahwa harga bahan bakar minyak di sana mencapai lima puluh ribu rupiah per liter. Bandingkan dengan harga yang ada di pulau Jawa yang tidak sampai pada nominal sepuluh ribu rupiah per liter. 

Kemungkinan hal ini dikarenakan proses pengiriman yang mengharuskan mengambil jarak dan waktu yang lebih. Otomatis harga kebutuhan pokok juga akan meningkat karena tingginya harga BBM. Di samping itu, Papua mendapatkan pembangunan infrastruktur minim.

Menjadi suatu hal yang aneh bila harga BBM Papua tinggi dan di Jawa rendah, dan setaranya harga jual beli emas. Sebagaimana yang kita ketahui, kalau di Papua memiliki sumber daya alam bidang emas yang sangat tinggi dibandingkan dengan wilayah Indonesia yang lainya.

Fenomena ini memang menjadi suatu yang lumrah menurut paradigma kaum filsuf Sofis. Menurut Sofis, sesuatu akan terlihat natural kalau ada orang yang unggul dan rendah. Karena, tidak mungkin di dunia ini semuanya unggul dan semuanya rendah. 

Pada kasus ini, sudah terlihat bahwa kaum yang diunggulkan, yakni penduduk yang menghuni di pulau Jawa, yang menjadi pulau tempat ibu kota negara. Sedangkan wilayah Papua yang menjadi wilayah paling jauh dari ibu kota negara menjadi yang direndahkan.

Istilah lain, fenomena ini bisa dikatakan sebagai sebuah diskriminasi dalam negara. Tentu ungkapan diskriminasi tidak semua orang menyandarkannya kepada rakyat Papua. 

Perilaku diskriminasi sama halnya yang telah dipaparkan di atas, rakyat Papua dibedakan dengan rakyat Jawa. Walaupun pemberdayaan dalam menyejahterahkan masyarakat Papua mulai dilakukan, seperti penyetaraan harga BBM dan mulai membangun infrastruktur.

Contoh mendiskriminasi rakyat Papua juga terlihat ketika rakyat Papua hijrah ke pulau Jawa. Orang-orang Jawa sebagian ada yang mendiskriminasikan orang Papua. 

Mereka berbisik, menghina dengan mengatakan baunya yang tidak enak dihirup, penampilan yang terlihat kumuh (menurut sebagian orang Jawa), atau mengatakan kalau orang Timur itu seenaknya sendiri. 

Kemungkinan besar diskriminasi ini dikarenakan perbedaan ras warna kulit. Ditambah orang Papua kebanyakan menganut agama Kristen yang menjadi agama minoritas di Indonesia.

Perilaku antara kelompok satu dengan kelompok lain yang mengakibatkan munculnya sebuah fenomena diskriminasi ini juga dialami oleh penduduk Afrika Selatan. Di Afrika Selatan, kelompok dari ras putih mendiskriminasi kelompok dari ras hitam, yang mana ras putih menguasai sektor politik dan ekonomi. 

Bedanya, rakyat Papua merupakan minoritas, tapi ras kulit hitam di Afrika Selatan merupakan penduduk mayoritas.

Dari prilaku diskriminasi yang dilakukan oleh rezim Apartheid, muncul pemikir sekaligus pelopor dari kalangan umat muslim Afrika Selatan, yakni Farid Esack. Salah satu buku karangan Esack yang terkenal, yakni bertema tafsir pembebasan. 

Kemunculan hermeneutik bertema pembebasan tidak lain karena latar belakang yang dialami Esack, yang mana agama Islam merupakan agama minoritas dan kebanyakan dari golongan ras kulit hitam dan berwarna.

Esack yang menjadi pemikir untuk kemunculan hermeneutika pembebasan, meskipun hal ini dalam kategori dunia penafsiaran Alquran. Tapi, Esack juga mengeluarkan pemikiran pluralitas yang diterbitkan dalam majalah, artikel, dan media massa lainnya. 

Kemunculan paradigma-paradigma tersebut tak lain untuk mendorong semangat umat muslim yang ada Afrika Selatan. Gagasan yang dibuat oleh Esack juga bisa diaplikasikan untuk masyarakat Papua. 

Sebagaimana Esack dari golongan yang didiskriminasi menggemborkan semangat untuk orang-orang yang berasal dari tempat tinggalnya. Maka setidaknya ada orang muslim yang tinggal di Papua mencontoh tindakan Esack untuk mendorong masyarakat dalam hal menyejahterakan rakyat.

Gagasan yang layak untuk diterapkan di Papua, yakni pluralitas. Walaupun gagasan ini harus diambil umat Kristiani yang menjadi penduduk mayoritas di Papua, tapi menjadi minorias di Indonesia. Hal ini ditujukan untuk menghilangkan suatu sikap diskriminasi yang dilakukan orang di luar penghuni Papua. Agar sikap toleransi bisa tumbuh di Indonesia.

Tidak hanya itu, pembuatan sebuah organisasi yang bertujuan untuk mengangkat derajat ras kulit hitam juga perlu dimunculkan. Sebagaimana Esack yang memunculkan organisasi The Call of Islam, maka orang Papua juga membuat sebuah wadah yang bisa menampung aspirasi masyarakat agar bisa lebih sejahtera. 

Setidaknya tujuan yang paling penting, yakni membuat hegemoni yang berisi bahwa rakyat Papua bukanlah masyarakat yang dijadikan kaum rendahan di Indonesia. 

Setidaknya sesuatu yang bisa dicontoh pada kasus Esack ialah sejahtera itu tidak harus dari orang yang mempunyai peran penting dalam suatu wilayah. Lalu bagaimana masyarakat golongan bawah bisa sadar dan membangun kesejahteraan untuk individual dan kelompoknya.

Akan tetapi, gerakan pembebasan ini tidaklah harus mencapai titik makar. Karena, suatu tindakan makar bisa menjadi tindak kejahatan yang ada di suatu negara. 

Konsep pembebasan di sini bertujuan untuk membaskan pikiran yang ada dalam masyarakat. Agar masyarakat Papua bisa menyejahterakan dirinya tanpa harus meminta bantuan orang lain.